Teladan Abadi6

Teladan Abadi6

Teladan Abadi

memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana

telah diliputi dengan kejahatan dan kezaliman…

Perumpamaan dirinya pada umat ini bagaikan

Nabi Khidhir Dzulqarnain. Demi Allah, Allah akan

menggaibkannya….”33

Hadis-hadis yang memiliki makna seperti di atas

sangatlah banyak dan termasuk hadis mutawatir di

kalangan Ahlulbait as. Sejumlah besar para periwayat

hadis di kalangan Ahlusunnah dari berbagai mazhab pun

banyak yang menukilnya sebagaimana yang kita saksikan.

Kebanyakan dari hadis-hadis tersebut diriwayatkan

dengan sanad yang sahih. Hadis-hadis itu dengan jelas

menunjukkan kebenaran akan kegaiban Imam Mahdi dan

hal itu terjadi atas perintah Allah Swt mengingat bahwa

hadis-hadis tersebut diyakini kebenarannya dan dicatat

sebelum terjadinya kegaiban dengan rentang waktu

yang cukup panjang. Ketika masa kegaiban tiba, hal ini

menguatkan kebenaran dan kesahihan kandungan hadis

tersebut. Begitu pula kebenaran munculnya hadis-hadis

tersebut bersumber dari sumber-sumber wahyu dari Zat

Yang Mahagaib. Meskipun sebagian dari hadis-hadis

tersebut adalah hadis-hadis yang mursal dan terjadi

perdebatan di sebagian sanad-sanadnya.

Syekh Shaduq—semoga Allah merahmati beliau—

berkata:

“Sesungguhnya para imam telah memberitakan

tentang kegaibannya dan menyifatinya pada

Syi’ah mereka melalui hadis-hadis yang dinukil

dari mereka dan dijaga dalam catatan-catatan

serta disatukan dalam kitab-kitab kurang lebih

200 tahun sebelum terjadinya kegaiban. Dan tidak

/

192

Imam Mahdi

ada seorang pun dari pengikut para imam kecuali

menyebutkannya di berbagai kitab mereka,

meriwayatkannya atau mencantum kannya dalam

tulisan-tulisan mereka. Kitab-kitab tersebut

dikenal dengan Al-Ushûl yang ditulis dan terjaga

pada Syi’ah keluarga Muhammad jauh sebelum

terjadi kegaiban.

“Andaikan kondisi mereka para pengikut yang

menulis kitab-kitab tersebut mengetahui akan

terjadi kegaiban lalu mereka menulis hadishadis

tersebut dalam kitab-kitab mereka, dan

dicantumkan dalam tulisan-tulisan mereka

sebelum terjadinya kegaiban tersebut, hal

ini sesuatu yang mustahil bagi orang yang

mau berpikir. Atau mereka yang meletakkan

kebohongan dalam kitab-kitab mereka namun

sesuai dengan kenyataan yang mereka sebutkan,

atau terealisisasi sesuai kebohongan yang

mereka ciptakan sementara mereka saling

berjauhan dan berbeda pendapat. Inilah satu

bentuk kemustahilan. Oleh karena itu, kita hanya

dapat mengatakan bahwa mereka menghapal

hadis-hadis tersebut dari para imam mereka

yang menjaga wasiat dari Rasulullah saw yang

menyebutkan tentang kegaiban, sifat kegaiban

di setip masa hingga akhir masa dengan cara

mereka mencatatnya dalam kitab-kitab mereka

dan menuliskannya dalam tulisan-tulisan mereka.

Dengan demikian sanggahan- sanggahan yang

dilontarkan hanya akan menegakkan kebenaran

dan menyirnakan kebatilan. Sesungguhnya

kebatilan akan lenyap.”34

/

193

Teladan Abadi

Hal yang dapat menambah kejelasan dari buktibukti

ini adalah bahwa sesungguhnya hadis-hadis yang

memberitakan mengenai penjelasan secara lengkap dan

terperinci mengenai bentuk kegaiban, sosok imam yang

gaib, dan beliau adalah imam ke-12 dari para imam serta

keturunan ke-9 dari Imam Husain as dan lain-lainnya,

merupakan bagian dari penjelasan-penjelasan dan

perincian-perincian yang tidak dapat diterapkan dalam

sejarah kecuali pada kegaiban Imam Mahdi as. Semua ini

merupakan bukti-bukti kuat dan jelas mengenai kebenaran

imamah dan kegaiban Imam Mahdi—semoga Allah

mempercepat kemunculannya.

Syekh Mufid mengatakan, “Adapun hadis-hadis yang

disampaikan dari para imam keluarga Nabi Muhammad

saw, saling menguatkan bahwa harus terjadi pada al- Qaim

yang dinanti-nantikan dua kegaiban. Salah satunya lebih

lama dari yang lainnnya. Hanya orang-orang tertentu

yang mengetahui tentang dirinya. Sementara masyarakat

umum, tidak mengetahui dimana keberadaan beliau

kecuali orang-orang yang berkhidmat pada beliau dari

kalangan orang-orang yang terpercaya.… Pemberitahuan

yang demikian, sudah ada dalam kitab-kitab yang di tulis

di kalangan umat Syi’ah imamiyah sebelum kelahiran Abu

Muhammad Imam Hasan Askari, ayah beliau, dan kakek

beliau—salam sejahtera bagi mereka. Kebenaran itu semua

tampak jelas dengan berlalunya para wakil imam yang telah

kami sebutkan. Begitu pula kebenaran para perawi hadishadis

tersebut yang memberitakan mengenai kegaiban

yang panjang. Seluruhnya merupakan bukti-bukti nyata

mengenai kebenaran ajaran dan pendapat Imamiyah...”35

Pembuktian-pembuktian tersebut menetapkan

kebenaran kedua kegaiban: pendek dan panjang. Semua

/

194

Imam Mahdi

itu berdasarkan pada pembuktian hadis-hadis yang

menjelaskan mengenai kedua hal tersebut dan perincian

dari kedua peristiwa tersebut.

Falsafah Tahapan dalam Kegaiban

Sebagaimana yang telah kami isyaratkan, kegaiban

secara umum merupakan pelaksanaan upaya persiapan yang

harus dilakukan dalam kerangka persiapan kemunculan

Imam Mahdi—semoga Allah mempercepat kehadirannya—

untuk melaksanakan tanggung jawab besarnya, yaitu

melakukan reformasi dunia menuju pada kebaikan.

Merupakan hikmah Ilahi bahwa kegaiban ini terjadi dalam

dua tahap. Sebab dari hal ini sangat jelas. Jika kegaiban

secara menyeluruh terjadi secara langsung, maka hal ini

menyebabkan lenyapnya beberapa faktor yang sangat

dibutuhkan unutk mencapai kelayakan masyarakat Islam

menerima kehadirannya dalam pembentukan pemerintahan

Islam yang mendunia.

Mengingat poros utama untuk merealisasikan

kelayakan ini adalah pembenahan persiapan—sebagaimana

yang dijelaskan beberapa hadis yang insya Allah kelak

kami paparkan ketika kita membahas hadis-hadis tentang

kegaiban panjang—maka upaya pembenahan seperti ini

membutuhkan sejumlah besar faktor-faktor pendukung dan

keyakinan yang mendalam yang mampu dijadikan sandaran

yang kokoh bagi seorang Muslim dalam upaya pembenahan.

Selain itu, dibutuhkan informasi yang cukup dan kelayakan

diri serta pengetahuan pada generasi masyarakat Islam

sebagai persiapan kemunculan Imam Mahdi as.

Sesungguhnya Nabi Muhammad saw dan para imam

dari keluarga suci Nabi telah mempersiapkan kegaiban

/

195

Teladan Abadi

ini dengan melakukan beberapa langkah yang menambah

kedalaman dan cakupan yang lebih luas jika semakin dekat.

Ataupun semua itu hanya sekedar pemberitahuan mengenai

kepastian terjadinya kegaiban, kelahiran yang dirahasiakan,

perluasan aktivitas dengan membentuk satu sistem

perwakilan, atau mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan

umat dari pengetahuan agama dan kaidah-kaidah syariat

yang menyempurnakan penarikan kesimpulan hukum

agama atau lain-lainnya.

Akan tetapi, persiapan untuk mencapai kegaiban

seluruhnya hanya dibutuhkan beberapa langkah

penyempurnaan dan contoh-contoh praktis yang

memberikan penjelasan dan penguatan. Hal inilah yang

dilakukan oleh Imam Mahdi as pada masa kegaiban

pendek. Inilah kerangka umum sejarah kehidupan beliau

dan pergerakan-pergerakan yang dilakukan pada tahap

tersebut. Pada dasarnya, tahapan ini merupakan tahap

peralihan dari masa kehadiran secara menyeluruh pada

masa-masa imam sebelumnya dan masa kegaiban total

di masa beliau juga sekaligus sebagai persiapan terakhir

untuk memasuki masa kegaiban panjang.

Kenyataan-kenyataan tersebut dapat kita temukan

dan tercermin dengan jelas dalam sejarah kehidupan

beliau selama masa kegaiban pendek. Hal ini juga bisa

kita dapati melalui penelitian mengenai tujuan-tujuan

dari pergerakan-pergerakan beliau dan keterkaitan tujuantujuan

tersebut dengan kekhususan-kekhususan yang

berbeda pada masa kegaiban panjang. Oleh karena itu,

kita memasuki pembicaraan mengenai kehidupan beliau

dengan mempelajari tujuan-tujuannya melalui pembatasan

agar jelas hubungan antara tujuan-tujuan tersebut dengan

sejarah kehidupan beliau di masa kegaiban panjang.

/

196

Imam Mahdi

Pengintaian Penguasa Abbasi Mengenai Kabar Imam

Dari riwayat-riwayat pada masa kegaiban pendek,

nampak jelas bahwa penguasa Bani Abbas terus mengintai

berita mengenai Imam Mahdi as. Seakan-akan mereka

yakin dengan keberadaan beliau bersandarkan pada

kemutawatiran penukilan mengenai hal tersebut dari Nabi

dan melalui pemberitaan-pemberitaan yang dilakukan oleh

para imam dari keluarga Nabi. Penguasa Bani Abbas juga

mengetahui bahwa Imam Hasan Askari as adalah imam

ke-11 dari para imam. Dengan demikian putra beliau

adalah imam ke-12 dan merupakan imam terakhir yang

dijanjikan yang akan menumpas segala bentuk kezaliman

dan kejahatan. Sebagaimana hal ini dikabarkan dalam

riwayat-riwayat Nabi yang mutawatir.

Kita perhatikan riwayat yang disampaikan oleh

Kulaini—dalam pembahasan kita mengenai penjagaan

imam terhadap para wakilnya—bahwa tujuan penguasa

melakukan pengintaian terhadap para wakil imam

adalah agar mereka bisa menemukan imam. Oleh karena

itu, para imam sebelumnya dan juga dari Imam Mahdi

sendiri memberikan penekanan-penekanan kepada para

pengikutnya untuk tidak menyebut nama Imam Mahdi pada

masa kegaiban pendek. Karena jika mereka mengetahui

nama Imam, penguasa Abbasi lebih gencar untuk mencari

tahu.36 Dari riwayat yang disampaikan oleh Syekh Thusi

dapat disimpulkan bahwa penguasa Abbasiyah telah

mendapatkan informasi mengenai keberadaan Imam dan

berusaha untuk membunuhnya. Imam membatasinya guna

menjelaskan dan menetapkan bahwa keterjagaan tersebut

merupakan penjagaan Ilahi atas dirinya.

Riwayat menyebutkan, “Diceritakan dari Rasyiq

Shahibul Madari, ia berkata, ‘Mu’tadidh diutus pada kami,

/

197

Teladan Abadi

dan kami berjumlah tiga orang. Ia memerintahkan kami

bertiga untuk menunggang kuda, berjalan beriringan dan

keluar dengan sembunyi-sembunyi. Kami tidak pernah

bersama baik sedikit maupun banyak kecuali ketika berada

di tempat shalat. Dia berkata pada kami, ‘Berangkatlah

kalian ke Samirah’ kemudian dia menceritakan tentang

sebuah tempat dan sebuah rumah. Lantas dia berkata, ‘Jika

kalian menjumpai tempat dan rumah tersebut, dan bertemu

dengan seorang pembantu berkulit hitam, maka dobraklah

pintu itu. Siapa pun yang kalian jumpai di dalamnya, bunuh

dan bawalah kepalanya kemari.’ Kami tiba di Samirah dan

kami jumpai apa yang dia ceritakan pada kami. Di sebuah

rumah, kami menjumpai seorang pembantu berkulit hitam

dan dia membawa seutas tali yang dililitkan. Kami bertanya

tentang rumah dan penghuninya. Pembantu itu berkata,

‘Pemiliknya, demi Allah dia tidak pernah memperhatikan

kami dan jarang sekali bersama kami.’ Kemudian kami

dorong pintu tersebut, sebagaimana yang diperintahkan

dan kami dapati rumah yang sepi, di balik pintu terdapat

sebuah tirai yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Seakan-akan kedua tanganku terangkat pada waktu itu.

“Tidak ada seorang pun di dalam rumah. Kami

menyingkap tirai. Kami dapati sebuah rumah besar

bagaikan lautan yang dipenuhi air. Di ujung rumah terdapat

sebuah alas (tikar) yang kami lihat berada di atas air.

Seorang laki-laki yang berparas elok sedang melaksanakan

shalat di atasnya. Dia tidak menoleh sedikit pun kepada

kami dan juga tidak pada bawaan-bawaan kami. Kemudian

Ahmad bin Abdullah bergegas menyerbu rumah, namun

dia tenggelam ke dalam air, dia gemetar sehingga aku

datang mengulurkan kedua tanganku dan aku berhasil

menyelamatkannya dan mengeluarkannya dari dalam air

/

198

Imam Mahdi

dia pun pingsan untuk beberapa lama. Sahabat keduaku

melakukan hal yang serupa dan dia pun merasakan akibat

yang serupa. Tinggallah aku termangu dan aku berkata pada

pemilik rumah, ‘Aku minta maaf padamu dan memohon

ampun pada Allah. Demi Allah, aku tidak mengetahui

apa yang terjadi, dan aku tidak tahu berhadapan dengan

siapa saat ini, aku bertobat pada Allah.’ Aku tidak lagi

memperhatikan ucapanku dan tidak menunggu lama kami

bergegas dan pergi meninggalkan orang tersebut.

«Mu’tadhid menanti kami. Dia berjanji membawa

kami ke al-Hajjab jika kami berhasil menemuinya kapan

pun saja. Kami menjumpainya pada malam hari dan dia

bertanya pada kami mengenai hasil upaya kami. Kemudian

kami ceritakan kepadanya apa yang kami saksikan. Lalu dia

berkata, ‘Celaka kalian!!’ seseorang telah menjumpai kalian

sebelum aku? Dan kalian termakan ucapan atau sebab

tertentu? Kami menjawab, ‘Tidak’ Dia berkata, ‘Sungguh

aku tidak percaya.’ Dia pun bersumpah dengan penuh

keyakinan. Sesungguhnya dia adalah seseorang yang jika

berita ini samapai kepadanya, maka dia akan memenggal

leher kita. Kami pun tidak berani membicarkan hal ini,

kecuali setelah kematiannya.”37

Persiapan-persiapan Imam Mahdi pada Masa

Kegaiban Pendek

Penetapan Keberadaan dan Imamahnya

Membuktikan keberadaan dan imamah beliau

merupakan tujuan yang diinginkan ketika beliau hadir

dan menyalati jasad suci ayahnya Imam Hasan Askari as

sebagaimana hal ini sudah kami jelaskan sebelumnya.

Langkah ini merupakan gerakan dan langkah penting yang

/

199

Teladan Abadi

Imam ambil pada masa kegaiban pendek. Pentingnya tujuan

ini sebagai pondasi dasar yang menjadi sandaran dalam

pergerakan Imam Mahdi as tampak lebih jelas mengingat

bahwa berdasarkan nas-nas syariat Islam mengenai

keselamatan dari kesesatan, selamat dari mati dalam

kondisi mati jahiliah, terkandung dalam pengenalan dan

pengetahuan terhadap Imam Zaman dan bepegang teguh

kepadanya, sementara Imam tersembunyi dan tidak tampak

pada masa kegaiban panjang.

Karena itu, keimanan kepadanya—sebagai mukadimah

ketaatan dan berpegang teguh pada wilayah yang beliau

miliki—mengharuskan adanya keyakinan dan kepercayaan

terhadap keberadaannya. Sampai pada taraf seorang

Mukmin dapat mengatasi keraguan yang ada pada dirinya

yang muncul karena tidak menyaksikan secara nyata.

Keyakinan dan kepercayaan seperti inilah yang dapat

meyempurnakan sebab-sebab pergerakan Imam Mahdi as

pada masa kegaiban pendek sebagai jalan penyempurnaan

hujjah ketika harus menjumpai beberapa orang terpercaya

imam. Begitu pula ketika menampakkan karamah-karamah

yang tidak mungkin muncul dari selain Imam sebagaimana

yang telah disebutkan dalam beberapa riwayat yang

membicarakan mengenai tahap ini dan juga dicantumkan

oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.38

Penyempurnaan Kebutuhan Umat Mengenai

Pengetahuan Islam

Selama lebih dari dua abad, para imam Ahlulbait—

shalawat Allah bagi mereka—telah menyampaikan sebagian

besar kebutuhan umat sepanjang masa kegaiban panjang

ihwal pengetahuan tentang al-Quran dan Sunnah kakek

mereka Rasulullah saw. Begitu pula kebutuhan-kebutuhan

/

200

Imam Mahdi

yang dapat mewakili Islam secara keseluruhan sebagai

agama yang suci, agama yang kokoh yang Allah perintahkan

agar kita mengikutinya dan beramal sesuai dengan aturanaturan

yang ditetapkan di dalamnya. Islam sebagai tali

pegangan yang kuat yang sekaligus aplikasi tehadap

berpegang kepada dua peninggalan Nabi yang menjamin

keselamatan dari kesesatan dan mati jahiliah.

Peninggalan-peninggalan tersebut membatasi

dan menjelaskan kaidah-kaidah serta landasan dasar

interpretasi hukum Islam dan pengetahuan-pengetahuan

Islam secara umum yang diambil dari riwayat untuk

mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah saw dan para imam

as. Nabi dan para imam memerintahkan sahabat-sahabat

mereka untuk menjaga dan mencatatnya agar dapat

dijadikan sumber—selain al-Quran—untuk mengetahui

seluruh hukum Islam yang dibutuhkan oleh umat, sampai

masa kemunculan Imam Mahdi as.

Salah satu hasil penting yang diperoleh dari perintah

ini adalah tercatatnya riwayat-riwayat mereka dari sahabatsahabat

para imam yang dikenal dengan ushûl arba’ miah.

Kitab ini telah dikumpulkan pada masa-masa sebelum masa

Imam Mahdi as. Di dalam kitab tersebut termuat sejumlah

besar riwayat dan nas-nas dari Nabi Muhammad saw.39

Selama masa kegaiban pendek, Imam Mahdi as yang

dinanti-nantikan kemunculannya, menyempurnakan segala

sesuatu yang dibutuhkan umat nantinya di masa kegaiban

panjang, baik berupa pengetahuan-pengetahuan, ataupun

segala sesuatu yang dapat membantu pergerakan dan

konsistensi umat di jalan yang lurus serta mempersiapkan

sesuatu yang dapat menjaga umat untuk tetap melanjutkan

perjalanannya menuju kesempurnaan. Inilah tujuan umum

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน