Imam Mahdi as Perspektif Ulama Ahlusunnah

Imam Mahdi as Perspektif Ulama Ahlusunnah

 

 

Imam Mahdi as Perspektif Ulama Ahlusunnah

 

Imam Kedua Belas: Imam Muhammad al-Mahdi a s

 

 

 

Ayah:                              Imam Hasan al-Askari as.

 

Ibu:                                 Narjis.

 

Tempat atau tanggal lahir: Samurra pertengahan bulan Syaban tahun 255 H.

 

 

 

Beliau mengalami masa ghaibah (ghaib dari pandangan manusia) dalam dua tahap; ghaibah shughrah (kegaiban kecil) dan ghaibah kubra (kegaiban besar atau total).

 

Ghaibah shughra: dan tahun 260 hingga tanun 329 H.

 

Ghaibah kubra berawal dan berakhirnya ghaibah shughra hingga waktu diizinkan Allah swt dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.

 

 

 

Al-Quthb asy-Syarani berkata dalam kitab al-Yawaqid wa al-Jawahir: Al-Mahdi adalah putra Imam Hasan al-Askari dan keturunan Imam Husain, kelahirannya pada malam pertengahan bulan Syaban tahun 255 H. Beliau akan tetap hidup hingga berkumpul dengan Nabi Isa putra Maryam as, demikian diberitakan kepada kami oleh Syeikh Hasan al-Iraqi yang dikebumikan di Mesir dan pendapat itu disetujui oleh tuanku Ali Al-Khawaash. [1]

 

Dalam buku Al-Bahrul Muhith, Abu Hayyan Al-Andalusi mengutip pendapat Al-Sudiy mengenai firman Allah: "Untuk dimenangkan atas segala Agama" mengatakan: "Hal itu akan terjadi pada saat munculnya Al-Mahdi. Pada saat itu tak seorangpun manusia yang tinggal kecuali dia masuk kedalam Islam atau membayar pajak (jizyah)".

 

Imam Malik (pemimpin mazhab Maliki) berkomentar mengenai firman Allah (QS. 28. 5): "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka mewarisi (bumi)." sebagai berikut: "Pembuktian atas ayat ini belum terjadi, dan bahwa umat Islam masih menunggu munculnya manusia yang akan menjadi sarana bagi terwujudnya ayat tersebut" (Ath-Thabarsi dalam Majmaul Bayan fi Tafsir Al-Quran jilid V hal 24). Ketika kaum Alawiyin (keturunan Fatimah as) tertimpah penindasan yang teramat sangat oleh penguasah Abbasiyah, Muhammad ibn Jakfar Al-Alawy mengadukan pada Imam Malik dan dijawab oleh Imam Malik bersabarlah sampai datang tafsirnya ayat tersebut di atas (QS. 28. 5), demikian riwayat Abul Faraj Al-Isfahany dalam buku Maqatil Ath-Thalibiyin hal 539.

 

Assayyid Abdullah Syabr dalam bukunya Haqqul Yakin jilid I hal 222 menuturkan bahwa hadis mengenai Imam Mahdi jumlahnya lebih dari lima ratus yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, penyusun kitab Jamiul Ushul dan orang-orang selain mereka. Selanjutnya beliau berkata dalam kitab-kitab yang Muktabar dan kitab Ushul yang telah diakui, terdapat lebih dari seribu hadis.

 

 

 

Beberapa Hadis Tentang Imam Mahdi as

 

Beliau adalah Imam kedua belas sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis yang telah lewat, beliau adalah Imam mahdi yang akan menegakkan keadilan di muka bumi sebagaimana dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir.
Dan demi kesempurnaan pembahasan kita, marilah kita simak sabda-sabda Nabi saww tentang Imam Mahdi as dan pernyataan para ulama tentangnya. Dan sekali lagi, kami hanya akan menyebut hadis-hadis dari jalur Ahlusunah Waljamaah.

 

1. Imam Ahmad dan al-Barudi meriwayatkan dan Abu Said dari Rasulullah saww beliau bersabda: "Gembiralah kalian dengan al-Mahdi, seorang dari suku Quraisy dari itrah-ku, dia keluar dalam kaadaan perselisihan manusia dan guncangan, lalu dia memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman." [2]

 

2. Abu Daud meriwayatkan dari Rasulullah saww beliau bersabda:
“Seandainya tidak tersisa dari dunia ini kecuali hanya satu hari niscaya Allah akan memanjangkannya sehingga Allah mengutus seorang dari Ahli-Baitku, namanya sama dengan namaku, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana is dipenuhi dengan kedzaliman.” [3]

 

3. Abu Nuaim bin Hammad meriwayatkan dari Aisyah dari Rasulullah saww beliau bersabda: “Al-Mahdi dari itrah-ku, dia berperang atas sunahku sebagaimana saya berperang atas wahyu.” [4]

 

4. Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Baihaqi dan sekelompok Ulama lain meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah r a. Bahwa Nabi saww bersabda: “Al-Mahdi dari Itrahku dan putra Fathimah.“ [5]
Komentar Ulama Ahlusunah Tentang Kemutawatiran Hadis Kedatangan Imam Mahdi as.

 

Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: “Telah mutawatir berita (hadis) bahwa Mahdi adalah dari umat ini dan sesungguhnya (Nabi) Isa putra Maryam akan turun dan salat di belakangnya. [6]

 

Asy-Syaukani dalam risalahnya yang berjudul at-Taudhih fi Tawaturi Ma Ja a fi al-Mahdi al-Muntadzar wa al-Masih [7] berkata: “Dan Hadis yang datang tentang Mahdi yang dapat ditemukan adalah lima puluh hadis, ada yang shahih, hasan dan dhaif yang tertolong, dan ia mutawatir tanpa diragukan.”

 

Abdul Aziz bin Baz rektor Universitas Madinah Al-Munawarah berkata seperti dimuat di majalah al-Jamiah al-Islamiyah, no. 3, hal 161 - 162: “Sesungguhnya masalah al-Mahdi merupakan masalah yang menjadi pengetahuan umum, dan hadis-hadis mengenainya banyak sekali, bahkan mutawatir. Hadis-hadis itu menunjukkan bahwa munculannya tokoh yang dijanjikan ini merupakan suatu perkara yang telah tetap (kebenarannya yang tidak bisa diragukan lagi), dan kemunculannya adalah benar.

 

Seorang dozen dalam Universitas tersebut bernama Ustad Syeh Abdul Muhsin Al-Ibad dalam bukunya: Muhadharah haula al-imam Al-Mahdi wa At-Taliq Alaiha, hal. 26, yang juga disampaikan dalam kuliahnya yang berjudul "Akidah Ahlus Sunnah dan Atsar tentang Al-Mahdi Al-Muntadhar sebagai berikut: Jumlah yang saya ketahui dari nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis Al-Mahdi dari Rasulullah saw, adalah 26 orang mereka adalah:

 

1. Ustman ibn Affan,

 

2. Ali ibn Abi Thalib,

 

3. Thalhah ibn Ubaidillah,

 

4. Abdurrahman ibn Auf,

 

5. Al-Husain ibn Ali,

 

6. Ummu Salamah,

 

7. Ummu Habibah,

 

8. Abdullah ibn Abbas,

 

9. Abdullah ibn Masoud,

 

10. Abdullah ibn Umar,

 

11. Abdullah ibn Amr,

 

12. Abu Said Al-Khudri,

 

13. Jabir ibn Abdullah,

 

14. Abu Hurairah,

 

15. Anas ibn Malik,

 

16. Ammar ibn Yasir,

 

17. Auf ibn Malik,

 

18. Tsauban maula Rasulullah,

 

19. Qurrah ibn Ayas,

 

20. Ali Al-Hilali,

 

21 Hudzaifah ibn Al-Yaman,

 

22. Abdullah ibn Al-Harits ibn Hamzah,

 

23. Auf ibn Malik,

 

24. Imran ibn Husain,

 

25. Abu Ath-Thufail,

 

26. Jabir Ash Shadafi.

 

Selanjutnya beliau berkata: "Dan hadis -hadis Al-Mahdi itu telah dinukil oleh sejumlah besar imam dalam kitab-kitab shahih dan sunan, Mujam dan Musnad, serta lain-liannya. Jumlahnya kitab-kitab mereka yang saya ketahui atau yang saya ketahui bahwa mereka menukilnya 38.

 

Sangat panjang sekali bila saya sebut satu persatu disini, sebagai contoh cukup dibawah ini:

 

Abu Dawud dalam Sunannya, Turmudzi dalam Jaminya, Ahmad dalam Musnadnya dan Ibn Hibban dalam Shahihnya, Al-Hakim dalam Al-Mustadarak, Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam Mushnif, Al-Hafizh (si penghafal lebih dari 100.000 hadis) Abu Nuaim dalam kitab Al-Mahdi, Ath-Thabary dalam ketiga kitabnya Alkabir, Al-awsath dan Ashshaghir, Darul Qutny dalam Al-Afrad, Ibnu Asakir dalam Tarikhnya, Assuyuthi dalam Al-Urf Al-Wardy dan Al-Hawy fil Fatawa, Ibnu Jarir dalam Tahzib al Atsar, Al-Baihagy dalam Dalailun Nubuwah, Ibnu Saad dalam Thabaqod.

 

 

 

Para Ulama Ahlusunah yang Meyakini Kelahiran Imam Mahdi as

 

Kendati pendapat yang masyhur di kalangan Ahlusunah bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir belum lahir dan kelak akan lahir ketika masanya tiba, namun tidak jarang di antara ulama Ahlusunah yang meyakini bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam sabda-sabda Nabi saw tersebut telah lahir, dia adalah putra Imam Hasan al-Askari as lahir di kota Samurra.

 

Mari Kita amati keterangan dibawah ini yang dinukil dari kitab: ”Isaf Al-Raghibin fi Sirah Al-Mushthafa wa Fadhail Ahli Baithi Al-Thahirin” karya Al-Imam Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Syaikh Muhammad bin Ali Al-Shabban Rahimahullah sebagai berikut:

 

Sayyidi Abdul Wahab Al-Syarani mengatakan di dalam kitabnya Al-Yawaqit wal Jawahir bahwa Al-Mahdi itu berasal dari putra Imam Hasan Al-Askari. Lahir pada malam pertengahan bulan syaban tahun dua ratus lima puluh lima Hijriyah. Ia tetap hidup sampai sekarang dan akan bergabung dengan Nabi Isa as. Demikianlah yang diberitahukan oleh Syaih Hasan Al-Iraqi kepadaku, dari Imam Al-Mahdi, ketika Syaih Hasan berjumpa dengannya, yang kebetulan dihadiri juga oleh Sayyidi Ali Al-Khawwash rahimahumallaahu Taala.

 

Syaikh Muhyiddin di dalam kitab Al-Futuhat mangatakan: ”Ketahuilah Bahwa Al-Mahdi a. s. itu mesti keluar, namun tidak akan keluar kecuali apabila dunia sudah penuh dengan kezaliman dan dialah yang akan melenyapkan kezaliman itu dan menggantikan dengan keadilan. Dia berasal dari keturunan Rasulullah saw dari putra Fathimah ra. Kakeknya adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan ayahnya adalah Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Naqi bin Imam Muhammad Al-Taqi bin Imam Ali Al-Ridha bin Imam Musa Al-Kazhim bin Imam Jakfar Ashshadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib ra.

 

Dalam Kitab Ash-Shawaiqal Muhriqah karya Ibnu Hajar dalam bab mengenai ihwal Al-Askari terdapat uraian sebagai berikut: ”Beliau (Imam Hasan Al-Askari) tidak meninggalkan keturunan seorangpun selain putranya yaitu Abal Qasim Muhammad AlHujjah as, yang umurnya ketika ayahnya wafat adalah 5 tahun. Tetapi dalam usia tersebut Allah telah menganugrahkan kepadanya hikmah, dan dia dinamakan Al-Qaim Al-Muntadzar. Dikatakan bahwa, yang demikian itu karena dia telah ”dirahasiakan”, kemudian menghilang dan tidak diketahui kemana perginya. Penulis lain dari kalangan jumhur ulama juga menuturkan hal serupa, misalnya Ibnu Khallikan, pengarang Al-Fushulul Muhimah, Mathalibus Suul, Syawahidun Nubuwah sebagai mana yang diterangkan oleh syaih Abdullah Syabar dalam karyanya yang berjudul Haqqul Yaqin.

 

Ustadz Hasyim al-Amidi telah mengadakan studi penelusuran yang seksama dan beliau menemukan 128 (seratus dua puluh delapan) Ulama Ahlusunah telah meyakini kelahiran Imam Mahdi as.

 

Di bawah ini akan kami sebutkan sebagian nama-nama mereka:

 

1. Muhammad bin Harun Abu Bakar ar-Rauyani (w 307 H) dalam kitabnya al-Musnad.

 

2. Abu Nuaim aI-Ishfahani (w 430H) dalam kitabnya al-Arbain hadisan fi al-Mahdi.

 

3. Ahmad Bin Husain al-Baihaqi (w 458 H) dalam Syuab al-Iman.

 

4. Al-Khawarizmi al-Hanafi (w 568 H) dalam Maqtal al-Imam al-Husain.

 

5. Muhyiddin Ibn al-Arabi (w 638 H) dalam al-Futuhat alMakkiyah, bab 366 dalam pembahasan 65, sebagaimana disebut dalam Yawaqit wa al-Jawahir oleh asy-Syarani.

 

6. Kamaluddin Muhammad bin Thalhah asy-Syafiiy (w 652 H) dalam Mathalib as-Suul.

 

7. Sibth Ibn al-Jauzi al-Hanbali (w 654 H) dalam Tadzkirah-alKhawash.

 

8. Muhammad bin Yusuf al-Kunji asy-Syafii (terbunuh tahun 658 H) dalam kitabnya Kifayah ath-Thalib.

 

9. Al-Juwaini al-Hamawaini asy-Syafii (w. 732 H) dalam Faraid as-Simthain: 2337.

 

10. Nuruddin Ibnu Shabbagh al-Maliki (w. 855 H) dalam al-Fushul al-Muhimmah. [8]

 

11. A1-Quthb asy-Syarani, sebagaimana dinukil dalam Nuur alAbshar (187).

 

12. Syeikh Sahan al-Iraqi, sebagaimana dinukil dalan Nuur al-Abshar.

 

13. Syeikh Ali al-Khawash, sebagaimana disebutkan oleh al-Quthb asy-Syarani.

 

14. Syeikh asy-Syablanji dalam Nuur al-Abshar.

 

15. Ibnu Hajar al-Haitsami al-Makki (974 H) dalam ash-Shawaiq.

 

Dan bagi yang menginginkan keterangan lengkap tentang nama-nama mereka berikut keterangannya, kami persilahkan merujuk kitab-kitab khusus yang membahas tentang Imam Mahdi as.

Tanda-tanda sosial akan datangnya Imam Mahdi meliputi:

 

1. Tersebar luasnya kezaliman dan kejahatan.

 

2. Berkuasanya kejahiliyahan dan; munculnya kehidupan jahiliyah yang meliputi akidah, akhlak, dan peradaban.

 

3. Kemajuan ilmu pengetahuan yang mencengangkan.

 

4. Peperangan dan kekacauan yang merusakbinasakan, serta hilangnya rasa aman dan ketenteraman.

 

5. Munculnya para pendusta dan Dajjal yang mendakwakan diri sebagai pembaharu.

 

6. Krisis dan kemerosotan ekonomi.

 

7. Munculnya gerakan-gerakan, kepemimpinan dan dakwah, yang membuka jalan bagi munculnya Al-Mahdi untuk menyelamatkan manusia dari kejahiliyahan.

 

Sekarang marilah kita tuturkan beberapa riwayat yang menetapkan tanda-tanda tersebut di atas.

 

Ash-Shaduq meriwayatkan dalam kitabnya Man La Yandhuruhul Faqih, bahwa Al-Ashbagh bin Nabatah meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ucapan beliau sebagai berikut: “Pada akhir zaman dan saat mendekatnva Kiamat yang merupakan masa yang paling buruk akan muncul wanita-wanita yang tubuhnya terbuka dan telanjang, memamerkan kecantikan dan perhiasannya, tenggelam ke dalam fitnah, cenderung kepada syahwat, bersegera kepada kelezatan, dan menghalalkan bagi dirinya barang-barang yang haram. Mereka akan kekal abadi di neraka.” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 426, dikutip dari Man La Yahdhuruhul Faqih).

 

Al-Majlisi meriwayatkan dalam Bihar Al-Anwar, dari ayahnya, dari Ali, dari ayahnya, dari An-Naufali, dari Asy-Syaukani, dari Abu Abdillah as, katanya: “Telah bersabda Rasulullah saw: Akan datang kepada umatku suatu masa, yang di dalamnya rahasia diri mereka penuh dengan keburukan namun penampilan mereka penuh dengan kebaikan, orang tamak kepada dunia, tidak menghendaki apa yang ada di sisi Allah swt, perbuatan mereka merupakan riya tanpa dicampuri rasa takut (kepada Allah). Allah menyamaratakan azab bagi mereka. Mereka lalu berdoa seperti doa orang yang akan tenggelam, namun doa mereka tidak dikabulkan.” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 426, dikutip dari Bihar Al-Anwar).

 

Dengan sanad yang sama, Al-Majlisi juga meriwayatkan: “Telah bersabda Rasulullah saw: Akan datang kepada umatku suatu masa di mana tidak ada lagi yang tinggal dari Al-Quran selain tulisannya, dari Islam selain namanya yang mereka gunakan, sedang mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari Islam. Masjid-masjid mereka banyak tapi kosong dari hidayah. Para fuqaha di masa itu merupakan fuqaha yang paling buruk di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah, dan kepada mereka pula fitnah itu kembali.” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 427, dikutip dari Bihar Al-Anwar).

 

Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir Muhammad bin All as, bahwa beliau mengatakan: “Al-Mahdi tidak akan muncul sehingga kegelapan memuncak.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 427, dikutip dari Malahim wal Fitan).

 

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib as, dari Rasulullah saw: “Sesungguhnya Islam itu bermula sebagai sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” Seseorang bertanya: “Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: "Mereka itu ialah orang-orang yang berlaku baik ketika masyarakat telah rusak. Sesungguhnya tidak ada keterlepasan atau keterasingan bagi seorang Mukmin. Tak ada seorang Mukmin pun yang mati, melainkan para malaikat menangis karena kasihan kepadanya. Kalaupun mereka tidak menangis untuknya, maka kuburnya akan diluaskan dengan cahaya yang cemerlang ketika ia diletakkan di tempat kepalanya terletak.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Jakfariyat wal Asy-Atsiyyat).

 

Ibnu Majah men-takhrij dalam Sunan-nya, jilid II, dalam bab Al-Fitan, Fitnah Dajjal, dari Abu Imamah Al-Bahili, katanya: “Rasulullah berkhutbah kepada kami, dan sebagian besar khutbah beliau adalah ceritera mengenai Dajjal, yang terhadapnya beliau memperingatkan kami. Di antara kata-kata beliau adalah: Sungguh, belum pernah ada cobaan di muka bumi, sejak Allah menciptakan keturunan Adam, yang lebih besar dari Dajjal. Allah tidak pernah mengutus seorang Nabi, maka pasti dia memperingatkan umatnya terhadap Dajjal. Aku adalah Nabi yang terakhir dan kalian adalah umat yang terakhir; dan tak dapat tidak, Dajjal akan keluar di kalangan kalian.” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Sunan Ibnu Majah).

 

Al-Kulaini menukil dalam Raudhatul Kafi sebuah hadis dari Imam Jakfar bin Muhammad Ash-Shadiq as, yang melukiskan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan industri yang dicapai oleh umat manusia pada saat menjelang munculnya Dajjal, sebagai berikut: “Sesungguhnya Al-Qaim kami, apabila ia muncul, maka Allah swt memanjangkan bagi pengikut kami daya dengar dan lihat mereka, sehingga antara mereka dengan Al-Qaim tidak perlu ada kurir. Dia akan berbicara kepada mereka, dan mereka dapat mendengar dan melihat kepadanya sedang dia sendiri masih tetap di tempatnya.” (Al-Kulainy, Al-Kafi, jilid VIII, hal 240 – 241).

 

Beliau juga meriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq as: “Sesungguhnya orang Mukmin di zaman Al-Qaim itu, jika dia berada di Timur, dia pasti bisa melihat saudaranya yang berada di Barat. Demikian pula mereka yang berada di Barat akan dapat melihat saudaranya yang berada di Timur.” (Abdullah Syabr, Haqqul Yakin, jilid I, hal. 229).

 

Kita bisa mengatakan, bahwa kedua riwayat ini mengisyaratkan tingkat perkembangan sarana komunikasi yang dicapai oleh ilmu pengetahuan modern, berupa penciptaan alat-alat pemindahan gambar dan suara, seperti televisi, radio dan semacamnya. Kedua alamat materialistik yang kita kenal ini, sebelumnya tidak dikenal, dan baru kita ketahui setelah dicapainya kemajuan ilmu pengetahuan di bidang audiovisual dan telekomunikasi jarak jauh. Karenanya, kedua riwayat ini bisa dipandang sebagai sebagian dari bukti-bukti materialistik yang menunjukkan benarnya kemunculan Al-Mahdi as.

 

Syaikh Ath-Thusi meriwayatkan dalam kitabnya AlGhaibah, dari Muhammad bin Muslim dan Abu Bashir, bahwa keduanya mengatakan: “Kami mendengar Abu Abdillah a s. berkata: Perkara ini tidak akan terjadi sampai lenyapnya dua pertiga manusia. Maka kami lalu bertanya: dua pertiga umat manusia lenyap, maka siapakah yang masih tinggal? Beliau menjawab: Tidakkah kalian senang menjadi sebagian dari yang sepertiga sisanya itu?” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Al-Ghaibah).

 

Abu Nuaim meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Al-Burhan fi Alamat Mahdi Akhiriz-Zaman: “Al-Mahdi tidak akan muncul sampai sepertiga dari umat manusia terbunuh, sepertiga mati, dan sepertiga tinggal.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Al-Burhan fi Alamat Mahdi Akhir Az-Zaman).

 

Riwayat-riwayat tersebut menceriterakan tentang tandatanda sosial yang menunjuk kepada kemunculan Imam Al-Mahdi as. Namun ada juga riwayat-riwayat lain yang menceriterakan tentang tanda-tanda yang bersifat alamiah, seperti terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan bukan pada waktunya yang biasa, dan terjadinya perubahan di tata surya dan jagad raya. Perlu ditegaskan pula, bahwa riwayat-riwayat lain yang menceriterakan tentang munculnya Imam Al-Mahdi, mengisyaratkan bahwa kemunculan beliau itu akan terjadi di Makkah Al-Mukarramah, dan bahwa beliau akan mengumumkan kekhalifahan serta negaranya, dan orang banyak akan membaiatnya di antara tiang Kabah dan Maqam Ibrahim, di Masjidil Haram.

 

 

 

Catatan Kaki:
[1]. Nuur al-Abshaar: 187.
[2]. Musnad Alunad: 3/ 37 dan 52. Lihat juga: Uqad ad-Durar: 62 dan 156, Faraid as-Simthain: 2 / 310 dan 561, Majma az-Zawaid: 7/ 313, al-Arfu al-Wardi: 2 / 58, Shawaiq: 166 dan Kanz 14 / 216 Hadis ke 38653.
[3]. Sunan Abu Daud: 4 / 104 hadis ke: 4282. Lihat juga al-Mu jam al-Kabir: 10 / 135 hadis ke 10224, Mashabih as-Sunnah: 3 / 392 hadis ke 4210, Uqad ad-Durar: 27, 28 dan 169, ash-Shawaiq: 163, Minhaj as-Sunnah: 4 / 95, Misykat al-Mashabih: 3 / 170 hadis ke 5452 dan Kanz Ummal: 14/ 267 hadis ke 38676.
[4]. Al-Fitan: 229 dan lihat juga Uqad Ad-Durar:16-17, Jawahir aldaian: 306, al-Arfu al- Wardi 74 dan ash-Shawaiq: 164.
[5]. Musnad Ahmad: 1/ 84, Sahih Muslim—sebagaimana dimuat dalam Kanz Ummal : 14 / 264 hadis ke 38662, Shawaiq:163, Sunan Abu Daud: 4 / 104 hadis ke 4284, Sunan an-Nasai—sebagaimana dikutip dalam Uqad ad-Durar: 15, Sunan Ibnu Majah: 2 / 1368 hadis ke 40886, al-Baihaqi—sebagaimana disebut dalam Shawaiq, Mashabih as-Sunnah: 8 / 492 hadis ke 4211, Syarh as-Sunnah: 8 / 354 hadis ke 4280 al-Jami ash-Shaghir: 552 hadis ke 9241 dan al-Bayan fi Akhbar Shahib az-Zaman: 486.
[6]. Fath al-Bari fi Syarh al-Bukhari: 5 / 362.
[7]. Islamuna; Doktor Mushthafa ar-Rafiiy: 195.
[8]. Untuk mengetahui nama-nama mereka lihat Difaa An al-Kafi Tsamir Hasyim Al-Amidi 1/ 569-592, Kasyf al-Astaar; Mirza Husain an-Nuri ath-Thabarsi : 46-93 dan kitab al-Imam ats-Tani Aasyar;Muhammad Said al-Musawi.

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน