Wakil-wakil Imam Mahdi as

Wakil-wakil Imam Mahdi as

 

Wakil-wakil Imam Mahdi as[1]

 

Imam Mahdi as dalam periode ghaibah shughra memperkenalkan 4 orang sebagai wakil-wakil khusus beliau kepada kaum Syiah. Empat orang tersebut termasuk sahabat-sahabat terdahulu para imam sebelumnya dan tokoh-tokoh besar dan ulama kaum Syiah. Mereka adalah:

1-     Abu Amr Usman bin Said Amry

2-     Abu Jakfar Muhammad bin Usman bin Said Amry

3-     Abul Qasim Husain bin Ruh Naubakhty

4-     Abul Hasan Ali bin Muhammad Samary

 

Imamiyah menukil banyak informasi seputar kehidupan dan aktifitas-aktifitas 4 orang duta dan wakil khusus Imam Mahdi as dari kitab “Al-Ghaibah” karya “Syaikh Thusi”.

 

1- Abu Amr Usman bin Said Amry

Beliau adalah wakil khusus dan duta pertama Imam Mahdi as. Usman bin Said memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata kaum Syiah. Usman bin Said Amry semenjak masa mudanya berkhidmat di dalam rumah ishmah dan imamah. Beliau adalah pembantu beberapa imam. Beliau disamping memiliki kedudukan sebagai wakil dari Imam Hadi as dalam 10 tahun terakhir kehidupan beliau memegang kepemimpinan organisasi bawah tanah perwakilan[2] dan setelah itu menjadi wakil khusus Imam Mahdi as.

Syaikh Thusi menulis: Usman bin Said Amry, dengan instruksi Imam Hasan Askari as memungut harta benda yang dibawa oleh sekelompok kaum Syiah Yaman. Imam Askari as dalam menghadapi ungkapan-ungkapan yang berdasar pada bahwa dengan usaha ini, orang-orang akan lebih banyak memberikan kepercayaan kepada Usman bin Said Amry dan kepercayaan serta penghormatan kepadanya akan semakin bertambah, mengatakan: Memang benar, saksikanlah bahwa Usman bin Said Amry adalah wakilku dan puteranya juga akan menjadi wakil puteraku, Mahdi.[3]

Berdasarkan sebuah riwayat lain, Imam Hasan Askari as memperkenalkan pengganti beliau (Imam Mahdi as) kepada 40 orang dari kaum Syiah yang dapat dipercaya, seperti Husain bin Ayyub, Ali bin Bilal, Ahmad bin Hilal dan Usman bin Said Amry. Imam Askari as mengatakan kepada kelompok 40 orang ini bahwa mereka tidak lagi dapat melihatnya (Imam Mahdi as). Ketika itulah beliau as memberikan perintah sepanjang ghaibah Imam Mahdi as untuk mentaati Usman, wakilnya.[4]

Setelah Imam Hasan Askari as wafat, Usman bin Said Amry inilah mengambil alih upacara pemandian, pengafanan dan pemakaman beliau as; hal ini sendiri mengindikasikan ketinggian derajat Usman bin Said Amry dan setelah itu perintah, persetujuan dan pengesahan melalui Usman bin Said Amry sampai kepada kaum Syiah.

Usman bin Said Amry sepeninggal Imam Hasan Askari as pergi dari Samara menuju Baghdad, bertempat tinggal di kawasan “Karkh”[5] dan di sana ia memegang urusan-urusan perwakilan hingga akhir hayat. Ia seperti periode Imam Hasan Askari as menerima surat-surat, zakat dan khumus yang dikirimkan untuk Imam Zaman as.[6]

Meskipun Usman bin Said Amry memiliki peran urgen dalam sejarah Syiah, akan tetapi tidak seorang pun memberikan penjelasan tentang tanggal dan tahun meninggalnya. Para sejarawan kontemporer berusaha untuk memaparkan sejarah-sejarah yang layak untuk diperhatikan.

Hasyim Makruf Al-Hasani menulis: “Perwakilan Usman bin Said Amry berlanjut hingga tahun 265 HQ.” Namun ia tidak menyebutkan sebuah referensi pun.

Jawad Ali menulis: “Dua puluh tahun pasca ghaibah Imam ke-12 as, wakil pertama beliau meninggal pada tahun 280 HQ.”[7]

Sebagian berkata: “Wafatnya Abu Amr Usman bin Said Amry terjadi setelah kewafatan Imam Abu Muhammad Askari as dan sebelum tahun 267 HQ, karena Ahmad bin Hilal yang merupakan salah seorang pengklaim palsu perwakilan pada masa Muhammad bin Usman (yang selepas duta pertama menjadi wakil dan duta Imam Mahdi as) bertentangan dengan Muhammad bin Usman dan tidak menerima perwakilannya. Ahmad bin Hilal meninggal dunia pada tahun 267 HQ. Maka dengan demikian Usman bin Said Amry meninggal dunia sebelum masa itu.[8]

 

2- Muhammad bin Usman bin Said Amry

Duta dan wakil khusus kedua Imam Mahdi as adalah Abu Jakfar Muhammad bin Usman bin Said Amry Asady yang setelah wafatnya Usman bin Said Amry puteranya Muhammad bin Usman menggantikan kedudukan sang ayah dan ditunjuk sebagai wakil dan duta khusus dari pihak Imam Mahdi as. Ia selama dua bulan sebelum ajalnya menjelaskan waktu wafat dengan arahan Imam Mahdi as. Oleh karena itu, ia mempersiapkan kuburan untuk dirinya sendiri dan meninggal dunia pada hari yang telah ditentukan.[9]

 

3- Abul Qasim Husain bin Ruh Naubakhty[10]

Duta dan wakil khusus dan terpilih ketiga Imam Mahdi as adalah Abul Qasim Husain bin Ruh Naubakhty. Ia dilantik dari pihak Imam Mahdi as sebagai pengganti Muhammad bin Usman dan wakil khusus Imam Mahdi dan diperkenalkan kepada orang-orang Syiah tertentu dan wakil-wakil beliau as melalui Muhammad bin Usman bin Said Amry dan Muhammad bin Usman bin Said Amry telah mempersiapkan hal tersebut pada beberapa tahun terakhir kehidupannya sehingga kaum Syiah tidak menghadapi problema dalam urusan perwakilan dan pergantian wakil setelahnya. Husain bin Ruh Naubakhty pasca wafat Muhammad bin Usman bin Said Amry memegang tanggung jawab urusan perwakilan pada akhir bulan Jumadil Ula tahun 305 HQ.

Husain bin Ruh memikul tanggung jawab sebagai wakil dan duta Imam Mahdi as sejak tahun 305 HQ hingga tahun 326 HQ selama 21 tahun dan pada tanggal 18 Sya’ban tahun tersebut ia memejamkan mata untuk selamanya dan menuju kepada Allah swt. Jasad wakil Imam Mahdi as ini dimakamkan di Baghdad di “Suq Al-Syurjah” dan makamnya menjadi tempat ziarah kaum Syiah dan orang-orang mengambil berkah dengan menziarahinya.[11]

Berdasarkan wasiatnya dan atas perintah Imam Mahdi as, kedudukan perwakilan sampai pada Abul Hasan Ali bin Muhammad Samary.[12]

 

4- Abul Hasan Ali bin Muhammad Samary[13]

Wakil khusus keempat dan terakhir Imam Mahdi as adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad Samary. Ia sepeninggal Husain bin Ruh Naubakhty, berdasarkan perintah Imam Mahdi as, memikul urusan perwakilan. Ia mengambil alih kepemimpinan organisasi perwakilan mulai tanggal 18 Sya’ban 326 HQ hingga 15 Sya’ban 329 HQ atau berdasarkan nukilan lain hingga 15 Sya’ban tahun 328 HQ.

Abul Hasan Ali bin Muhammad Samary adalah suami saudari menteri Abbasi, Jakfar bin Muhammad. Relasi ini menjadikannya mampu memperoleh kedudukan penting dalam instansi pemerintahan.[14]

Ia dari keluarga yang beragama dan Syiah yang terkenal dengan kebaikan khidmat dalam organisasi perwakilan. Pengalaman baik, menjadi kepercayaan dan amanahnya membuatnya tidak menemui kesulitan dalam penerimaan urusan perwakilan dari kaum Syiah, terutama dari orang-orang yang bekerja dalam organisasi perwakilan. Wakil-wakil dan orang-orang Syiah khusus secara resmi mengenalnya sebagai duta dan wakil sesungguhnya Imam Mahdi as dan mereka menyerahkan harta benda yang terkena kewajiban syareat (seperti zakat dan khumus) kepadanya untuk ia serahkan kepada Imam Mahdi as.[15]



[1] Empat orang ini dikenal dengan sebutan-sebutan seperti: Wakil-wakil khusus Imam Mahdi as, Duta-duta atau delegasi-delegasi Imam Mahdi as, Empat wakil Imam Mahdi as.

[2] Silahkan lihat: “Rijal Kesyi”; “Rijal Syaikh Thusi”.

[3] Silahkan lihat: “Al-Ghaibah”, “Syaikh Thusi”, hal 215; “Bihar Al-Anwar”, jilid 51, hal 345.

[4] Silahkan lihat: Ibid, hal 216; “Muntakhab Al-Atsar”, hal 394.

[5] Pemukiman orang-orang Syiah.

[6] “Maktab Dar Faroyand-e Takamul” (Agama Dalam Proses Kesempurnaan), Mudarrisi Thabathabai, hal 129 dan 130.

[7] Saduran dari kitab “Doktor Jasim Husain”, hal 155.

[8] Silahkan lihat: “Rijal Najjasyi”, jilid I, hal 218.

[9] “Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Imam Davasdahum (aj)” [Sejarah Politik Ghaibah Imam Ke-12], hal 170.

[10] Ibid, hal 192.

[11] “Hayatul Imam Muhammad Al-Mahdi” (Kehidupan Imam Mahdi as), “Baqir Syarif Qurasyi”, hal 130.

[12] Silahkan lihat: “Kamal Ad-din Wa Tamam An-Ni’mah”, hal 517.

[13] Silahkan lihat: “Mu’jam Al-Buldan”, jilid III, hal 264.

[14] Silahkan lihat: “Itsbat Al-Washiyyah”, “Mas’udi”, jilid III, hal 266-267; “Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Imam Davasdahum (aj)”, hal 210.

[15] Silahkan lihat: “Kamal Ad-din Wa Tamam An-Ni’mah”, hal 517.

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน