Teladan Abadi2

Teladan Abadi2

Teladan Abadi

orang-orang mukmin adalah penjagaan terhadap diri

mereka dari kehancuran dan pemusnahan sebelum

terealisasinya tujuan reformasi yang diinginkan

atau menjaga dari upaya-upaya pelemahan untuk

membantu Imam Mahdi sesuai dengan yang diinginkan

ketika beliau muncul. Sebagaimana yang terjadi pada,

misalnya, sikap orang-orang Muslim terhadap revolusi

Imam Husain as dan sikap-sikap mereka sebelumnya,

yaitu pada masa kepemimpinan saudaranya, Imam

Hasan, dan ayahnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib

as.

8. Tidak Adanya Jumlah Penolong yang Diinginkan

Faktor terakhir adalah tidak tercukupinya jumlah

orang yang dibutuhkan secara kualitas maupun

kuantitas yang dapat menjadi pendukung beliau dalam

melaksanakan tugas-tugas penting. Untuk mewujudkan

sebuah reformasi kebaikan yang besar dibutuhkan

jumlah pendukung yang cukup yang memiliki tingkat

keikhlasan yang tinggi dalam melaksanakan syariat

muhammadiyah, memiliki keikhlasan yang tinggi

dalam merealisasikan tujuan-tujuan beliau, memiliki

pengetahuan yang luas dan memahami tipu daya musuh

dengan cara memiliki pengalaman berjuang dalam

sebuah pergerakan tentang kekafiran, kefasikan, dan

kemunafikan. Inilah sebab-sebab yang menyempurnakan

alasan yang disebutkan dalam pembahasan keempat.

Sikap-sikap Imam Mahdi pada Masa Kegaiban

Panjang

Sebagaimana yang telah kami isyaratkan pada awal

pembahasan, sesungguhnya perjalanan Imam Mahdi as

dan perjuangannya pada masa kegaiban panjang berpusat

/

238

Imam Mahdi

pada tujuan persiapan kehadirannya dan berperan

dalam menghapus sebab-sebab yang mengharuskan

terjadinya kegaiban pada beliau. Dengan demikian, kita

dapat mengatakan bahwa beliau berbuat dengan jalan

memberikan petunjuk pada umat dan mengumpulkan

berita-berita pada generasi-generasi selanjutnya.

Imam Mahdi juga berbuat dengan jalan menyampaikan

kebenaran pada seluruh lapisan masyarakat dan menguatkan

orang-orang yang berjuang demi menjaga dan menyebarkan

agama Islam yang suci. Beliau juga menjaga setiap

proses persiapan yang terjadi pada setiap generasi guna

kemunculan beliau, menyingkap kelemahan ajaran-ajaran

lainnya dalam mewujudkan kebahagiaan bagi manusia,

menjaga semangat penentangan terhadap kezaliman, dan

melumpuhkan upaya membunuh semangat tersebut.

Semua hal tersebut beliau lakukan namun melalui

metode tersembunyi dan tidak nampak. Semuanya akan

semakin jelas pada saat kemunculan beliau sebagaimana

jelasnya peran beliau dalam berbagai peristiwa yang terjadi

untuk merealisasikan tujuan-tujuan tersebut baik melalui

sebab-sebab yang tidak diketahui ataupun diketahui namun

tidak cukup dalam pemaparan dan penasiran peristiwa

itu.

Penjagaan Beliau terhadap Dunia Islam

Imam Mahdi as dalam risalah pertama beliau kepada

Syekh Mufid berkata,

مَعْرِفَتُنَا _ كُمْ, َ _ َخْبَاِ _ عَنَّا شَيْئٌ مِنْ { لاَ يَعْزُ ُ _ فَإِنَّا نُحِيْطُ عِلْمًا بِأَنْبَائِكُمْ َ

لصَّالِحُ _ لسَّلَفُ _ ? ِلَى مَا كَا َ _ َصَابَكُمْ مُذْ جَنَحٍ كَثِيْرٍ مِنْكُمْ _ - ْلَّذِ _ ` بِالذِّ ِّ

. ? هِمْ كَاَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْ َ _ ظُهُوِْ nَ__َ_ َ S لْمَأْخُوَْ _ لْعَهْدَ _ __ نَبَذُ _ عَنْهُ شَاسِعًا َ

/

239

Teladan Abadi

بِكُمْ ` لِكَ لَنَزَ َ S لَوْلاَ َ _ لاَ نَاسِيْنَ لِذِكْرِكُمْ َ _ عَتِكُمْ َ _ ِنَّا غَيْرَ مُهْمِلِيْنَ لِمُرَ _

nَ_ لْأَعْدَ _ َصْطَلَمَكُمْ _ _ َ nَ_ للِّوَ _

“Sesungguhnya kami mengetahui peristiwa yang

terjadi pada kalian, tidak terlewati satu pun

berita mengenai kalian. Sesungguhnya kami

mengetahui kehinaan yang menimpa kalian sejak

kalian sampai orang-orang salaf yang saleh di

antara mereka, memperhatikan perjanjian yang

dilakukan dari balik punggung mereka seakanakan

mereka tidak mengetahui. Kami bukanlah

orang-orang yang lalai untuk menjaga kalian,

bukan pula orang yang lupa untuk menyebut

kalian. Jika tidak karena hal itu, kami akan turun

dengan membawa panji-panji pada kalian dan

mendukung kalian memerangi musuh.”15

Sesungguhnya Imam Mahdi selalu mengikuti dan

memperhatikan kondisi orang-orang mukmin dan beliau

juga mengetahui perkembangan yang terjadi pada mereka,

upaya-upaya pemisahan dan pelemahan yang mereka

hadapi. Kemudian, Imam juga melakukan sikap-sikap

tertentu yang dibutuhkan untuk mencegah bahaya yang

menimpa orang-orang mukmin dalam berbagai bentuk.

Penjagaan seperti ini merupakan salah satu faktor

penting yang ditasirkan sebagai penjagaan para pengikut

mazhab Ahlulbait as dan keberlangsungan keberadaan

mereka serta perkembangannya di setiap generasi.

Kendatipun upaya-upaya pembersihan dan pemusnahan

terhadap mereka semakin gencar. Begitu pula seranganserangan

pemikiran yang ditujukan kepada mereka dalam

upaya penentangan terhadap keyakinan dan ajaran

Ahlulbait berabad-abad lamanya. Upaya-upaya genosida

/

240

Imam Mahdi

para pengikut Ahlulbait dan serangan pemikiran yang

jelas terhadap mereka yang sangat gencar yang tercatat

dalam sejarah Islam, sangatlah kuat dan tidak diragukan

lagi bahwa hal ini mampu memusnahkan para pengikut

Ahlulbait baik secara fisik maupun pemikiran. Namun, hal

itu tidak terjadi karena penjagaan Imam Mahdi as.

Menjaga Islam yang Benar dan Penentuan Ijtihad

Sesungguhnya Imam Mahdi as pada masa kegaiban

panjang beliau juga melakukan penjagaan terhadap agama

Islam yang suci yang dibawa oleh mazhab Ahlulbait as.

Tanggung jawab ini merupakan salah satu tanggung

jawab penting dalam imamah. Salah satu upaya beliau

dalam hal ini di masa kegaibannya adalah dengan jalan

memperkenankan bagi para ulama untuk melakukan ijtihad

dan melarang mereka untuk sepakat dalam kebatilan dengan

berbagai bentuknya. Hal ini mengingat bahwa hadis-hadis

dan nas-nas mengenai hukum Islam juga terdapat pada

orang-orang yang tidak mustahil melakukan kesalahan atau

lupa. Begitu pula hadis-hadis dan nas-nas yang didengar

dan dinukil oleh orang-orang yang memperbolehkan

untuk meninggalkan dan menyembunyikannya. Jika

hal ini diperbolehkan pada mereka, maka tidak dapat

dipercaya bahwa hal itu dari mereka kecuali dengan adanya

imam maksum di belakang mereka yang menyaksikan

kondisi mereka, mengetahui keadaan mereka, dan jika

mereka salah, beliau meluruskannya, jika mereka lupa,

Imam mengingatkan dan jika mereka menutupi, Imam

menampakkan kebenaran di hadapan mereka.

Kendatipun Imam Zaman tidak tampak karena berada

di balik tirai kegaiban, sehingga mereka tidak mengenali

keberadaan beliau, tetapi Imam berada di tengah-tengah

/

241

Teladan Abadi

mereka, menyaksikan keadaan mereka, mengetahui

kondisi mereka. Andaikan mereka enggan untuk menukil

atau tersesat dari kebenaran, taqiyah tidak membenarkan

dan Allah akan menampakkannya dan mencegah hal itu

sehingga kebenaran tampak dan hujjah terbukti bagi

seluruh makhluk.16

Yang dimaksudkan dengan tampaknya Imam dan

keberadaan beliau di sini, bukanlah kemunculan secara

umum. Akan tetapi, kemunculan secara terbatas bagi

sebagian para ulama sebatas yang dibutuhkan untuk

menjelaskan kebenaran. Ini merupakan salah satu

permasalahan yang dibahas oleh para ulama mengenai

ijmak. Satu contoh, Allamah Sayid Muhammad Mujahid

dalam kitabnya, Mafâtîh al-Ushûl berkata, “…berdasarkan

kaidah luthuf yang mengharuskan bagi Allah untuk

menentukan seorang Imam, maka kaidah ini juga

mengharuskan terjadinya penolakan pada mereka (ulama)

jika mereka bersepakat dalam kebatilan dan hal ini

merupakan luthuf (kasih sayang) yang paling besar. Jika

hal itu tidak dapat dihasilkan dengan jalan kemunculan

maka harus dengan cara tersembunyi… Sesungguhnya

keberadaan Imam pada masa kegaiban merupakan sebuah

kasih sayang yang nyata. Beliau menetapkan segala sesuatu

yang memungkinkan untuk diwujudkan dan menghapus

penolakan. Kasih sayang seperti ini telah ditetapkan

keharusannya sebelum kegaiban dan terus berlanjut

setelahnya sesuai dengan koridor dasar (terlebih-lebih)

bahwa penukilan yang mutawatir telah menunjukkan

keberlangsungan hal itu.”

Mengenai hal ini disebutkan dari Nabi Muhammad

saw dan para imam as dengan kalimat atau makna yang

berdekatan. Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, beliau

/

242

Imam Mahdi

bersabda,

عَنْهُ { َهْلِ بَيْتِي مُوَكِّلاً يَذُ ُّ 7 لِيًّا مِنْ _ َ ? ْلإِيْمَا ُ _ بِهَا {ُ S لِكُلِّ بِدْعَةٍ يُكَاِ ? َِّ W

لْكَائِدِيْنَ، _ كَيْدَ . يَرُُّ _ لْحَقَّ َ _ يُعْلِنُ _َ

“Sesungguhnya setiap bid’ah akan ditolak dengan

keimanan oleh seorang wali dari Ahlulbaitku,

seorang wakil yang akan menghapusnya dan

mengumumkan kebenaran serta menolak tipu

daya para penipu.”

Rasulullah saw bersabda dan dari Ahlulbait as,

` نْتِحَا َ __ لْغَالِّيْنَ َ _ لدِّيْنِ تَحْرِيْفَ _ عَنِ ? لاً يَنْفُوْ َ _ كُلِّ خَلْفٍ عَدُ ْ . فِيْهِمْ ِ ? ََّ 7

يْلَ لِجَاهِلِيْنَ. _ تَأِْ _ لْمُبْطِلِيْنَ َ _

“Sesungguhnya bagi mereka di setiap generasi

ada seorang adil yang menolak penyimpangan

dari orang-orang yang berlebihan, menginginkan

kebatilan, dan penakwilan orang-orang jahil

terhadap agama.”

Dalam kitab Al-Mustafid diriwayatkan bahwa mereka

berkata,

uَ _ هُمْ ِ .َّ_ شَيْئًا َ ? لْمُؤْمِنُوْ َ _ .َ_O َ _S َِ_ فِيْهَا عَالِمٌ _ ِلاَّ َ W لاَ تَخْلُوْ oَ _ ْلأَْ _ ? َِّ W

بَيْنَ _ لَمْ يَفْرُقُوْ _ َمْرَهُمْ َ 7 لِكَ لاَلْتَبَسَ عَلَيْهِمْ S شَيْئًا تَمَّمَ َ _ نَقَصُوْ ? ِ ْ W_ ْلحَقِّ َ _

لْبَاطِلِ __ لْحَقِّ َ _

“Sesungguhnya bumi tidak pernah kosong kecuali

ada seorang alim di bumi tersebut. Jika orang-orang

mukmin menambahkan sesuatu, ia menolaknya

dan mengembalikan pada kebenaran. Jika mereka

mengurangi sesuatu, ia menyempurnakan. Jika

tidak demikian, mereka akan kebingungan dalam

/

243

Teladan Abadi

urusan mereka, tidak mampu memisahkan

kebenaran dari kebatilan.”

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as melalui jalur

yang beragam, beliau berkata,

خَائِفٍ _ َْ7 _ ِمَّا ظَاهِرٍ مَشْهُوْ ٍ W مِنْ قَائِمٍ بِحُجَّةٍ oَ _ ْلأَْ _ ِنَّكَ لاَ تُخَلِّيَ W َللَّهُمَّ _

بَيِّنَاتِكَ. _ لِئَلاَّ تُبْطِلُ حُجَجَكَ َ _ مَغْمُوٍْ

“Ya Allah, Engkau tidak pernah mengosongkan

bumi dari seorang yang menegakkan hujjah

baik nampak dan terkenal maupun tersembunyi

namun mulia sehingga tidak dapat dibatilkan

hujjah-Mu dan penjelasan-Mu….”

Pada sebagian riwayat yang lain, beliau berkata,

يُعَلِّمُهُمْ _ يْنِكَ َ . َِ u ِ_ ضِكَ مِنْ حُجَّةٍ لَكَ عَلىَ خَلْقِكَ يَهْدِيْهِمْ _ لاَبُدَّ لأَْ

هَدَيْتَهُمْ S ِْW لَيَائِكَ بَعْدَ _ ُْ 7 لِئَلاَّ يُضِلُّ تُبَّعٌ _ عِلْمَكَ لِئِلاَّ تُبْطِلُ حُجَّتُكَ َ

a لنَّا ِ _ عَنِ { غَا َ ? ِ ْ W مُتَرَقِّبٌ _ َْ 7 مَكَّتتُمْ _ َْ 7 ~ ِمَّا ظَاهِرٍ لَيْسَ بِالْمُطَا ِ W بِهِ،

لْمُؤْمِنِيْنَ مُثْبِتَةً _ { قُلُوْ ِ . بَهُ ِ _.َX_ عِلْمَهُ َ ? يَتِهِمْ فَإِ َّ _ هِدَ ` شَخْصُهُ فِي حَا ِ

.? فِيْهِمْ، بِهَا عَامِلُوْ َ

“Hendaknya di bumi-Mu ada seorang hujjah

dari-Mu bagi seluruh makhluk-Mu. Dia yang

menunjukkan manusia pada agama-Mu,

mengajarkan mereka ilmu-Mu agar hujjah-Mu

tidak pernah batil, agar tidak tersesat sebagian

di antara mereka setelah Engkau memberi

petunjuk kepada mereka melaluinya. Baik dia

nampak namun tidak ditaati maupun tersembunyi

atau dalam pengawasan atau dirinya gaib dari

pandangan manusia saat dia memberi hidayah

pada mereka. Sesungguhnya ilmunya dan

/

244

Imam Mahdi

akhlaknya tetap berada di hati orang-orang

mukmin dan dengan itulah mereka berbuat.”

Ketika menasirkan firman Allah Swt

. هَاٍ 4 لِكُلِّ قَوٍْ _ َ _ َنْتَ مُنْذٌِ 7 ِنَّمَا W

“Sesungguhnya engkau adalah pemberi peringatan

dan bagi setiap kaum ada seorang pemberi

petunjuk,”

Disebutkan dalam beberapa riwayat mengenai ayat

tersebut bahwa

? مَا ٍ O كُِلِّ َ ._ للهِ ، َ _ ` سُوْ ُ _ َ _ لْمُنْذَِ _ ? ََّ 7 . . هَاٍ 4 لِكُلِّ قَوٍْ _ َ _ َنْتَ مُنْذٌِ 7 ِنَّمَا W

لنَّبِيُّ _ بِهِ َ n مَا جَاَ u ِ َ _ مِنَّا يَهْدِيْهِمْ 4 ِمَاٌ W

“Sesungguhnya pemberi peringatan adalah

Rasulullah saw dan di setiap zaman ada seorang

imam dari kalangan kami yang memberi

petunjuk manusia pada ajaran yang dibawa Nabi

Muhammad saw.”

Dalam riwayat lainnya dari para imam Ahlulbait as

mengenai ayat di atas disebutkan

لسَّاعَةِ. _ َ u ِ_ لَتْ فِيْنَا _O مَا َ _ هَبَتْ مِنَّا َ S للهِ مَا َ __َ

“Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kami yang

pergi (meninggal) kecuali akan tetap ada salah

seorang dari kami hingga hari kiamat.”

Diriwayatkan dari Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq

as, beliau berkata,

_ مَِنْ حُجَّةٍ لَهُ فِيْهَا ظَاهِرٍ مَشْهُوٍْ u للهُ تَعَأ _ مُنْذُ خَلَقَهَا oُ _ ْلأَْ _ لَمْ تَخْلُ _َ

لِكَ لَمْ يُعْبَد S ,ْ لاَ َ `َ _ لسَّاعَةُ َ _ 4 تَقُوَْ ? َ ْ 7 uَ _ لَنْ تَخْلُو ِ _ َ _ غَائِبٍ مَسْتُوٍْ _ َْ 7

.{ سَتَرَهَا سِحَا ٌ _S َِW بِالشَّمْسِ ? لله، كَمَا يَنْتَفِعُوْ َ _

/

245

Teladan Abadi

“Sejak Allah Swt ciptakan, bumi tidak pernah

kosong dari seorang hujjah Allah baik nampak

dan terkenal maupun gaib dan tertutup dan

tidak pernah kosong (dari hujjah Allah—peny.)

hingga tiba hari kiamat. Jika tidak demikian,

maka Allah tidak akan disembah.” Imam ditanya,

“Bagaimana manusia dapat mengambil manfaat

dari seorang imam yang gaib dan tersembunyi?”

Beliau menjawab, “Bagaikan manusia mengambil

manfaat dari matahari pada saat tertutupi

awan.”

Diriwayatkan dari al-Hujjah al-Qaim al-Mahdi as

bahwa beliau berkata,

غَيَّبَهَا عَنِ _S َِW بِالشَّمْسِ ~ غَيْبَتِي فَكَالإِنْتِفَا ِ . بِي ِ ~ ْلإِنْتِفَا ِ _ جْهُ _ َمَّا َ 7_َ

َهْلِ 7 ? َمَا ٌ 7 4 لنُّجُوَْ _ ? ََّ 7 كَمَا oِ _ ْلأَْ _ َهْلَ 7 ? لأُمَا َ . ِ ِّ W_ ، َ { لسَّحَا ُ _ _ ْلأَنْظَاِ _

.n لسَّمَاِ _

“Adapun manfaat keberadaanku pada masa

kegaibanku bagaikan manfaat matahari

manakala tidak bisa dilihat karena ditutupi

awan. Sesungguhnya aku adalah penyelamat bagi

penduduk bumi, bagaikan bintang yang menjadi

pengaman bagi penduduk langit.”

Riwayat-riwayat seperti ini tidak terhitung banyaknya

dan seluruhnya mengandung penjelasan ihwal terealisasinya

penolakan terhadap kebatilan dan terwujudnya petunjuk

pada kebenaran melalui Imam pada masa kegaiban. Jika yang

dimaksud dengan keberhasilan semua itu melalui sebabsebab

yang tidak tampak sebagaimana yang diisyaratkan

dalam hadis (manfaat keberadaan seorang imam bagaikan

manfaat matahari saat tertutupi awan), maka ia tertolak

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน