Menjawab Pertanyaan-pertanyaan

Menjawab Pertanyaan-pertanyaan

 

 

Menjawab Pertanyaan-pertanyaan

 

Bintang terakhir imamah, sudah sejak tahun-tahun pertama kehidupannya telah menjawab pelbagai soal dan pertanyaan kaum Syiah yang beragam dengan jawaban yang memuasakan dan memberikan rasa tenang  di hati dan pikiran mereka. Sebagai sebuah contoh, berikut ini akan kami sebutkan sebuah riwayat yang berkaitan dengan hal tersebut:

 

Sa’d bin Abdillah Qumi, salah satu dari tokoh Syiah bersama Ahmad bin Ishak Qumi, wakil Imam Hasan Askari  as datang menemui beliau untuk memaparkan berbagai pertanyaan. Dia menuturkan kisah pertemuan tersebut berikut ini:

 

Saat aku ingin bertanya, Imam Hasan Askari  as menunjuk putranya dan bersabda: bertanyalah kepada putraku! Saat itu, anak kecil itu melihatku dan berkata: tanyalah apa yang engkau inginkan!... Aku bertanya apa maksud dari كهيعص (yang termasuk huruf Muqata’ah)? Beliau menjawab: huruf-huruf ini termasuk kabar-kabar gaib. Allah swt telah memberitahukan hamba-Nya, nabi Zakaria akan hal tersebut dan kemudian diberitahukannya kepada Nabi Muhammad saw. Kisah itu demikian, Zakaria as meminta dari Allah swt untuk diajarkan dan diberitahukan nama 5 orang Ahli Kisa’. Allah swt menyuruh malaikat Jibril untuk datang dan mengajarkannya. Zakaria as ketika menyebut nama-nama suci; Muhammad, Ali, Fathimah dan Hasan, kesedihannya hilang, namun saat dia menyebut nama Husain  as seakan-akan tenggorokannya sakit dan ingin menangis. Pada satu hari dia berkata: ya Allah kenapa saat aku menyebut nama empat orang itu aku merasa bahagia, tapi saat aku sebut nama Husain as, air mataku mengalir dan rintihanku terdengar?, Allah swt akhirnya memberitahukan tragedi yang akan menimpa Imam Husain  as dan bersabda:  كهيعص adalah kode cerita ini. Kaf sandi dari kata Karbala, Ha’ sandi kata Halakah (kehancuran keluarganya), Ya’ sandi dari nama Yazid yang tidak tahu posisi Imam Husain as, dan ‘Ain menjelaskan kehausan dan dahaga yang beliau rasakan, Shad tanda kesabaran dan ketabahan Imam as...

 

Aku berkata: Wahai tuhanku, kenapa manusia tidak dapat memilih pemimpinnya sendiri? Beliau bersabda: Imam yang mana; Imam yang reformis atau yang perusak? Beliau melanjutkan: Mengingat tiada seorang pun yang mengetahui isi hati orang lain, apakah ia (sang pemimpin) memikirkan kebaikan atau kepada keburukan, apakah tidak dimungkinkan pilihan manusia ini ternyata jatuh kepada Imam atau pemimpin yang senantiasa merusak? Aku berkata: Iya, bisa jadi. Beliau menjawab: Iya, ini sebabnya (kenapa manusia tidak punya hak untuk memilih pemimpin sendiri).[1]

 

 


[1] Kamâl ad-Dîn: juz 2, bab 43, hadis ke 21, halaman 190. penjelasan hadis ini telah disampaikan pada pasal pertama kitab dalam pembahasan pelantikan seorang Imam hanya dari tuhan semata.

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน