كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ ‘Seluruhnya dari Quraisy.

كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ ‘Seluruhnya dari Quraisy.

كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

‘Seluruhnya dari Quraisy.’”

Muslim juga meriwayatkan dari berbagai jalur dalam

kitab Shahih-nya dari Jabir bin Samurah dengan lafaz-lafaz

yang beragam di antaranya terdapat lafaz:

...... هَذَ لْأَمْرَ لاَ يَنْقَضِيَ حَ يََّمْضِي ثِْنَا عَشَرْ خَلِيْفَةً ( 1

“Sesungguhnya perkara ini tidak akan terhenti hingga

berlalu dua belas khalifah….”

......لاَ يَزَ مَْرُ لنَّ ا مَاضِيًا مَا لََّيْهُمْ ثِْنَا عَشَرْ جَُلاً ( 2

“Urusan manusia akan tetap berlangsung selama belum

memimpin pada mereka dua belas orang….”

......لاَ يَزَ لْإِسْلاَ عَزِيْزً ثِْ عَشَرْ خَلِيْفَة ( 3

“Islam akan tetap mulia sampai dua belas

khalifah….”

Hadis-hadis tersebut memiliki kesamaan bahwa ia

(Jabir) tidak mendengar kelanjutan hadis-hadis tersebut.

Ayahnya memberitahukannya dengan kalimat كلُّهم من قريش

“Seluruhnya dari Quraisy.” Inilah penutup yang disebutkan

di sebagian besar nas-nas hadis.

Turmudzi meriwayatkan dengan lafaz

يَكُوْ بَعْدِ ثِْنَا عَشَرَ مَِرًيْ ......

“Akan memimpin setelahku dua belas amir….”

Abu Daud meriwayatkan hadis tersebut dengan lafaz

لاَ يََز هَذَ لدِّيْنُ عَزِيًْز ثِْ عَشَرْ خَلِيْفَةً

“Agama ini akan tetap mulia sampai dua belas

khalifah….”

Kemudian, para sahabat bertakbir dan riuh lalu Nabi

saw mengucapkan satu kalimat yang tidak terdengar. Aku

/

112

Imam Mahdi

bertanya pada ayahku, “Wahai ayahku, apa yang beliau

katakan?” Beliau bersabda, كلُّهم من قريش “Seluruhnya dari

Quraisy.”

Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya juga meriwayatkan

dari jalur yang beragam, di antaranya dengan lafaz

لاَ يََز هَذَ لدِّيْنُ قَائِمًا حَ تَقُوْ لسَّاعَةُ

“Agama akan tetap tegak hingga hari kiamat….”

Sebagian hadis menyatakan bahwa yang disabdakan

Rasulullah saw adalah

لاَ يََز هَذَ لدِّيْنُ ظَاهِرً عَلىَ مَنْ ناَ ،َُ لاَ يَضُُّر مُخَالِفٌ لَاَ مُفَا حَ يَمْضىِ مِ ن مَُّتِي ثِْنَى عَشَرْ مَِرًيْ ...

“Agama ini akan tetap nampak bagi orang

yang menginginkannya, para penentang tidak

akan mampu mencelakainya begitu pula yang

meninggalkannya sehingga berlalu dari umatku

dua belas amir….”

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad saw bersabda

pada hari Arafah dan di hari lainnya pada hari Jumat selepas

melempar Jumrah dan sebagian riwayat lain menyebutkan

bahwa Rasulullah saw sebelum itu bersabda,

عَْطَى للهُ تَبَا تََعَا حََدُكُمْ خَيْرً فَلْيَبْدَ بِنَفْسِهِ هََْلِهِ نَََا

فَرَطَكُمْ عَلىَ لْحَوْ “…Jika Allah Swt memberi kebaikan pada salah

satu di antara kalian hendaknya memulai pada

dirinya sendiri terlebih dahulu dan keluarganya,

dan aku menantikan di haud (telaga).”

Sebagian riwayat lain menyatakan bahwa orang-orang

Teladan Abadi

/

113

Quraisy mendatangi Rasulullah saw bertanya pada beliau

akan apa yang terjadi setelah itu. Beliau menjawab, “Al

haraj (fitnah).”

Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir meriwayatkan di awal

kitab tersebut,

يَكُوْ لِهَِذ لْأُمَّةِ ثِْنَا عَشَرْ قَيِّمًا لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ...

“Akan ada dua belas qayyim (pelindung) bagi

umat ini. Orang-orang yang menghinakan mereka

tidak akan mampu memberi mudharat pada

mereka….”

Muttaqi Hindi meriwayatkan dalam Kanz al-‘Ummal

dari Anas bin Malik dengan lafaz

لَنْ يََز هَذَ لدِّيْنُ قَائِمً ا ثِْ عَشَرَ مِنْ قُرَيْشٍ فَإِ هَلَكُْو مَاجَتِ

لْأَ بِأَهْلِهَا

“Agama ini akan tetap tegak hingga dua belas

orang dari Quraisy. Jika mereka hancur, maka

bumi memporakporandakan penghuninya.”24

Hadis-hadis yang Menunjukkan Adanya Imam Mahdi

as

Nas-nas di bawah ini diriwayatkan dari sumbersumber

yang diakui (mu`tabar) di kalangan Ahlusunnah.

Setelah kami memaparkan nas-nas tersebut, kami akan

tetapkan makna yang dapat disimpulkan dari nas-nas

tersebut sebagai berikut.

1. Yang dapat disimpulkan dari riwayat-riwayat tersebut

adalah riwayat-riwayat itu disampaikan dalam khotbah

penting yang disampaikan oleh Rasulullah saw pada

kaum Muslim di hari-hari terakhir kehidupan beliau.

/

114

Imam Mahdi

Sejumlah riwayat menjelaskan bahwasanya hal itu

disampaikan di Arafah pada haji wada. Khotbah itu

sendiri memproklamirkan wasiat beliau yang masyhur

untuk berpegang teguh pada al-Quran dan keluarga

beliau dalam hadis Tsaqalain yang mutawatir yang

menunjukkan—seperti yang telah kami jelaskan—

kepastian adanya seseorang yang layak dari keluarga

Nabi saw yang dapat dijadikan pegangan dan sebagai

pendamping al-Quran hingga hari akhir. Haji itu sendiri

merupakan perintah Qurani tatkala sampai pada jalan

kembali sepulang dari haji tersebut untuk menetapkan

Imam Ali sebagai wali dan tempat rujukan bagi orangorang

Muslim sepeninggal beliau.

Keterkaitan antara ketiga hadis ini dan kondisi

penyampaiannya di hari-hari terakhir kehidupan

beliau, begitu pula kondisi-kondisi yang sangat penting,

mengungkapkan betapa pentingnya kandungan

yang ada di dalamnya yang berkaitan dengan

pemberian hidayah pada umat Islam yang menjamin

keselamatan dalam aspek pribadi maupun sosial

serta keberlangsungan pergerakan umat Islam setelah

Rasulullah saw wafat untuk tetap berada pada shirâth

al-mustaqîm dan garis yang terang.

Riwayat-riwayat tersebut juga memiliki keserupaan pada

topik mendatang yang memiliki peranan di dalamnya.

Karena itu, tidaklah mungkin kita mengatakan

bahwa Rasulullah saw ketika menyampaikan hadishadis

mengenai dua belas imam hanya sekadar

pemberitahuan akan fakta sejarah yang terjadi

setelah beliau wafat. Penafsiran seperti ini tidaklah

mungkin mengingat kondisi yang sangat penting

ketika disampaikan kandungan hadis tersebut. Bahkan,

Teladan Abadi

/

115

dengan jelas hadis ini disampaikan pada hari-hari

terakhir kehidupan beliau dalam usaha maksimal

beliau memberi petunjuk umat Islam pada sesuatu

yang mampu mengangkat mereka dari kesesatan dan

penyimpangan setelah beliau. Hal itu merupakan tujuan

yang dijelaskan dalam hadis Tsaqalain. Oleh karena itu,

penyebutan dua belas imam atau dua belas khalifah

dan pemberitahuan akan kemunculan mereka setelah

beliau adalah untuk memberi hidayah umat Islam dan

menjaga masa depan perjalanan mereka pasca-Rasul

serta penyempurnaan hujjah atas mereka. Inilah poin

penting yang harus diambil sebagai sebuah pelajaran

dalam mempelajari hadis ini dan guna mengenali objek

hadis tersebut.

Kaitan Hadis-hadis Haji Wada

2. Berdasarkan kesamaan yang dimiliki pada tiga hadis

tersebut dalam satu masalah merupakan bantuan

dalam memahami hadis yang menjadi pembahasan,

yaitu dengan memperhatikan hubungan hadis ini

dengan kedua hadis terakhir yang disampaikan

Rasulullah saw pada haji wada itu sendiri atau paling

tidak semasa hari-hari terakhir kehidupan beliau.

Pada dasarnya, ketiga hadis tersebut menggambarkan

penyempurnaan jalan dalam memberi hidayah umat

Islam yang memberikan jaminan keberlangsungan

masa depan setelah Rasulullah saw.

Hadis Tsaqalain menerangkan—sebagaimana yang

telah kami jelaskan sebelumnya—bahwa selamat

dari kesesatan setelah Rasulullah saw hanya dengan

jalan berpegang teguh pada al-Quran dan keluarga

beliau. Sesungguhnya di setiap zaman ada seorang

/

116

Imam Mahdi

laki-laki dari keluarga kalian yang dapat dijadikan

sebagai pegangan di samping al-Quran dan merupakan

penyelamat dari kesesatan.

Adapun hadis al-Ghadir menjelaskan nama Imam Ali

as sebagai wali (pemimpin bagi umat setelah Rasul)

mereka wajib berpegang teguh pada wilâyah-nya

sebagaimana diwajibkan untuk berpegang teguh pada

wilâyah Nabi terakhir. Hal ini ditunjukkan dengan

mengambil ikrar dari kaum Muslim bahwa dirinya

lebih utama di antara orang Mukmin bahkan dari jiwa

mereka sendiri. Kemudian, beliau bersabda,

مَنْ كُنْتُ مَوْْلَا فَهََذ عَلِيٌّ مَوْلَا “Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpin

maka Ali sebagai pemimpinnya.”25

Adapun hadis dua belas imam menerangkan bahwa

agama akan tetap tegak sampai hari kiamat dengan

keberadaan mereka para imam. Jumlah mereka tidak

bertambah dan tidak berkurang dan hadis tersebut

memberi petunjuk untuk berpegang teguh pada

mereka.

Dengan demikian, gambaran yang diberikan oleh ketiga

hadis tersebut—yang disampaikan dalam pelaksanaan

satu haji atau paling tidak pada masa yang sama, yaitu

pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw

dalam rangka satu tujuan yakni memberi hidayah umat

Islam pada jalan keselamatan dari penyimpangan dan

kesesatan setelah beliau—adalah bahwa keselamatan

dan kesesatan dan pengajaran akan tegaknya agama

akan terwujud dengan berpegang teguh pada al-Quran

dan para imam dari keluarga Nabi saw yang suci yang

setiap masa tidak pernah kosong dari salah satu di

Teladan Abadi

/

117

antara mereka. Mereka, para imam, diawali oleh Imam

Ali as dan jumlah mereka adalah dua belas imam yang

tidak bertambah dan tidak berkurang.

Sosok Dua Belas Khalifah

Ketika kita kembali merujuk pada fakta sejarah Islam,

kita tidak mendapatkan sosok yang dihasilkan kecuali

dua belas imam Ahlulbait as. Dimulai dengan Imam Ali

as dan diakhiri oleh al-Mahdi al-Muntazhar as. Jumlah

mereka tidak lebih dari dua belas orang dan tidak

pula berkurang. Sosok yang tepat sebagaimana yang

dikabarkan Rasulullah saw dan tidak terpalingkan satu

pun hanya ada di antara mereka. Hal ini juga sekaligus

pembenaran terhadap kenabian Muhammad saw yang

telah ditetapkan di kalangan umat Islam seluruhnya.

Umat Islam seluruhnya membuktikan bahwa sebelas

imam di antara dua belas imam telah wafat, dan

kalangan Imamiyah meyakini bahwa imam ke-12

belum wafat, sementara hadis sebelumnya menaskan

keberlangsungan keberadaaan beliau hingga hari

kiamat. Oleh karena itu, tidaklah bertentangan

pendapat yang menyatakan keberadaan imam ke-12

dan kini dalam masa kegaiban—mengingat seluruhnya

sepakat beliau belum muncul—dan tegaknya agama

karena keberadaan beliau dan kegaibannya juga

menjadi pembenar sesuatu yang telah dinaskan pada

hadis sebelumnya. Dengan demikian, hadis ini menjadi

bukti akan keberadaan Imam Mahdi dan kegaiban

beliau.

Kajian Hadis-hadis secara Mandiri

3. Makna yang ditunjukkan hadis tersebut dapat dijadikan

sarana pada hal yang diinginkan melalui kajian hadis

/

118

Imam Mahdi

di atas secara mandiri tanpa mengaitkannya dengan

hadis Tsaqalain dan hadis al-Ghadir. Yakni, hanya

bersandar pada makna yang ditunjukkan oleh hadis itu

sendiri sesuai dengan yang diriwayatkan dalam kitabkitab

Ahlusunnah. Setelah menggabungkan nas-nas

yang ada, terlihat bahwa topik pertama menyangkut

pemberitahuan pada umat Islam bahwa ada dua belas

manusia sebagai pengganti Nabi Muhammad saw.

Sejalan dengan sabda beliau, يكو من بعد “Akan muncul

setelahku,” yakni dengan adanya rentang waktu antara

wafatnya beliau hingga hari kiamat sebagaimana yang

dapat disimpulkan dari pembukaan sabda beliau, هذ

لامر لا ينقضي “Perkara ini tidak akan berakhir”, seperti

hadis yang termuat dalam Shahih Muslim dan lainnya

serta makna-makna lain yang menunjukkan hal

tersebut.

Dengan demikian, sifat-sifat atau karakter-karakter

yang disebutkan dalam hadis-hadis, tidak mungkin dapat

diterapkan kecuali pada dua belas manusia setelah Rasul

hingga hari kiamat. Jika tidak demikian, mengapa Rasul

membatasi hal-hal tersebut hanya pada mereka? Lalu siapa

sesungguhnya mereka?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita merujuk pada

nas-nas hadis itu sendiri guna mengetahui sifat-sifat yang

telah ditetapkan bagi mereka. Kemudian, kita perhatikan

pada siapakah dapat diterapkan sifat-sifat tersebut. Adapun

sifat yang disebutkan dalam hadis bahwa “mereka adalah

umara (pemimpin-pemimpin) dari kalangan kaum Quraisy”,

“mereka adalah khulafa (pengganti)”, “langgengnya agama

merupakan kemuliaan bagi mereka”, “tegaknya agama

karena mereka”, “mereka adalah pelindung umat”, dan

“melakukan perlawanan terhadap yang memusuhi mereka”,

Teladan Abadi

/

119

akan kita pelajari selanjutnya.

Sesungguhnya makna dari kata Quraisy sangat jelas.

Mayoritas dari mazhab-mazhab Islam mensyaratkan

hal tersebut pada diri seorang imam. Adapun sifat

khalifah (pengganti) dan amir (pemimpin), makna yang

tergambar dari kedua kata tersebut adalah seseorang yang

menggantikan Rasulullah saw dalam memimpin umat

Islam atau seseorang yang menangani masalah mereka.

Apakah maksud dari sifat ini adalah seorang pemimpin

pemerintahan umat Islam secara politik setelah wafat

Rasulullah saw?

Jelaslah, makna sifat tersebut tidak dapat diartikan

dengan makna di atas karena hal ini menafikan makna

hadis lain yang sahih bahkan menurut pandangan

saudara kita Ahlusunnah. Hadis tersebut menjelaskan

bahwa kekhalifahan seperti ini tidak berkesinambungan

setelah wafat Rasulullah saw lebih dari tiga dasawarsa.

Selanjutnya, kekhalifahan berubah menjadi sebuah

kerajaan sebagaimana yang dipaparkan dalam Shahih

Bukhari dan Muslim.26 Sementara itu, hadis menjelaskan

keberlangsungan mereka dua belas pemimpin hingga

hari kiamat. Oleh karena itu, tidak beralasan sekali jika

kita membatasi objek-objek hadis pada pemerintahan de

facto, yaitu pada mereka yang telah memimpin umat Islam

selama ini.

Makna Fakta Sejarah

Selain hal tersebut di atas, fakta sejarah Islam

menafikan bahwa makna yang dimaksud dengan khalifah

adalah makna seperti ini. Pasalnya, jumlah mereka yang

memimpin umat Islam setelah wafat Rasulullah saw dan

disebut dengan sebutan khalifah lebih dari dua belas

/

120

Imam Mahdi

orang.

Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa

dua belas manusia yang dimaksud dalam hadis tersebut,

mungkin saja termasuk sebagian di antara mereka yang

telah memimpin. Mereka adalah orang-orang yang memiliki

sifat-sifat yang disampaikan hadis dan tidak hanya sekedar

memimpin umat Islam dengan satu jalan atau jalan apa pun

yang menjadikan mereka objek dari khulafa atau umara.

Sesungguhnya khilafah atau imarah dengan makna

yang terkenal dan digunakan di kalangan umat Islam

tertolak dan tidak dapat diterima berdasarkan penjelasan

hadis. Mengingat begitu cepatnya perubahan kekhalifahan

dengan makna seperti ini sebagaimana yang telah kami

jelaskan sebelumnya, maka hal itu juga meniscayakan

terjadinya perbedaan-perbedaan sepanjang sejarah Islam.

Hal ini yang ditentang dengan makna hadis-hadis lainnya

sebab objek-objek dari pemahaman-pemahaman seperti

ini telah berakhir sejak ratusan tahun yang lalu. Sementara

itu, hadis mengisyaratkan bahwa kepemimpinan dua belas

manusia tersebut berlangsung hingga hari kiamat tanpa

ada kekosongan seperti yang kita saksiakan.

Oleh karena itu, kita harus memahami kata khalifah

dalam hadis tersebut lebih luas dari sekedar memimpin

pemerintahan secara politik. Yang dimaksud dengan

khalifah Rasul dalam hadis ini adalah pewasiatan terhadap

agama dan kekuasaan terhadap umat dan memberi

petunjuk pada umat untuk menuju jalan yang lurus baik

khalifah tersebut memegang tampuk pemerintahan secara

langsung maupun tidak. Rasulullah saw melaksanakan

kepentingan-kepentingan semacam ini ketika beberapa

orang mengikuti dakwahnya secara sembunyi-sembunyi di

Mekkah dan ketika memproklamasikan dakwahnya secara

Teladan Abadi

/

121

terang-terangan dan harus berhadapan dengan gangguan

orang-orang musyrik. Begitu pula ketika Nabi saw

berhijrah ke Madinah dan mendirikan serta melaksanakan

pemerintahannya di sana.

Rasulullah saw adalah pembela dan pelindung agama

yang benar dan mengajak manusia pada agama di setiap

keadaan. Nabi saw tidak menginginkan dan merasa harus

memimpin secara nyata pada sebuah pemerintahan untuk

melaksanakan kepentingan-kepentingan tersebut kendati

dirinya lebih berhak untuk memimpin pemerintahan secara

nyata di setiap kondisi.

Inilah gambaran Rasulullah saw yang diisyaratkan

pada mereka, dua belas pemimpin sejumlah pemimpin

Bani Israil dan para washi dari Nabi Musa as sebagaimana

yang dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan

dari Ibnu Mas’ud dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal dan

lain-lainnya.27 Makna seperti inilah yang ditunjukkan oleh

hadis itu sendiri ketika menghubungkan—pada sebagian

nas-nas hadis—antara keberadaan mereka dan tegaknya

agama, yaitu menjaga agama. Mereka adalah para washi

Rasulullah saw dan para khalifah beliau dalam menjaga

agama dan pemberi petunjuk pada agama.

Berkesinambungannya Keberadaan Dua Belas Khalifah

Sifat seperti ini—kebangkitan agama karena mereka—

menunjukkan keberlangsungan mereka sejak wafat

Rasulullah saw hingga hari kiamat. Pendapat yang

mengatakan adanya keterputusan di antara mereka dan

kekosongan suatu masa dari salah seorang di antara mereka,

berkaitan dengan keberlangsungan agama dikarenakan

mereka. Jika pendapat ini diamini, hal ini berimplikasi pada

/

122

Imam Mahdi

hilangnya Islam dan kekosongan kepemimpinan terjadi di

suatu masa. Tentu saja, hal ini bertentangan dengan makna

yang ditunjukkan dalam hadis dengan ungkapan يَزَ لدِّيْن

قَائِم “Agama akan tetap berdiri” atau ungkapan hadis lainnya

لاَ يَزَ لدِّيْنًُ عَزِيزًْ “Agama akan tetap mulia”.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa tidak

mungkin objek dari hadis tersebut adalah orang-orang yang

terpisah-pisah dalam kurun waktu sepanjang sejarah Islam.

Bahkan sebaliknya, hendaknya tidak terjadi kekosongan

pada suatu masa dari salah seorang di antara mereka.

Dengan demikian, keberadaan mereka terus berlangsung

dan berkesinambungan.

Ketika keberadaan mereka menjadi sebab kelanggengan

agama, maka hal itu menguatkan makna yang dimaksud

dari kata khilafah Rasulullah saw, yakni makna umum

sebelumnya yang mencakup derajat pertama. Apa itu?

Pewasiatan terhadap agama yang benar, penjagaan, dan

petunjuk terhadap agama serta mengajak pada agama.

Adapun permasalahan kelayakan untuk melaksanakan

tugas-tugas perlindungan terhadap umat dan kekuasaan

syariat terhadap mereka diambil dari kekuasaan kenabian

sebagaimana yang disebutkan dalam hadis al-Ghadir yang

telah kami paparkan.

Hal ini meniscayakan mereka untuk mencapai derajat

yang tinggi dari ilmu agama dan pengamalan terhadap

ilmu tersebut sehingga mereka layak untuk menjaganya,

memberi petunjuk atasnya pada seluruh umat. Makna

seperti inilah yang diinginkan dan ditunjukkan oleh hadis

ketika menyifati mereka dengan ungkapan كُلُّهُمْ يَعْمَلْ بِالْهُدَ يِْنِ

لْحَقِّ “Mereka semua beramal dengan petunjuk Allah dan

agama yang hak.” Ungkapan seperti ini terdapat dalam

beberapa nas hadis.28

Teladan Abadi

/

123

Berdasarkan pandangan sebelumnya, kita dapat

memahami sifat setelahnya yang disebutkan dalam

beberapa hadis bagi mereka, yaitu bahwa mereka kelak akan

mengalami banyak penolakan dalam berbagai bentuk—jika

tidak begitu banyak, tidak layak untuk disebutkan—namun

tidak akan membahayakan mereka. Yang dimaksud dengan

permusuhan dan penentangan yang tidak membahayakan

mereka adalah penentangan dan permusuhan yang

ditampakkan pada mereka tidak menghalangi mereka untuk

merealisasikan kepentingan-kepentingan dan tugas penting

mereka dalam menegakkan agama dan kemuliaannya.

Kendati hal itu menimbulkan kesulitan dan senantiasa

dihadapi oleh mereka di setiap masa, situasi politik umat

Islam sangat memprihatinkan sepanjang sejarah atas

apa yang menimpa pada umat Islam baik kehinaan dan

ketebelakangan, begitu pula bahwa mereka yang menduduki

posisi pemerintahan memiliki perangai yang sangat buruk

dan jauh dari makna khilafah rasul yang sesungguhnya.

Inilah sifat-sifat khulafa imam duabelas yang dapat

diambil dari makna-makna hadis yang diriwayatkan dalam

kitab-kitab terbaik dan dapat dipercaya di kalangan saudara

kita Ahlusunnah. Lalu pada siapa dapat diterapkan hadis

tersebut?

Pemimpin-pemimpin dari Keluarga Nabi adalah Objek

yang Sesungguhnya

Fakta sejarah membuktikan bahwa satu-satunya

objek yang dapat diterapkan adalah para imam dua belas

dari kalangan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka

yang dikhususkan dengan jumlah tersebut dalam sejarah

sebagaimana yang telah diketahui dan akan kita terapkan

sifat-sifat tersebut pada mereka.

/

124

Imam Mahdi

Bukti-Bukti Penerapan

Pertama, sesungguhnya hadis menunjukkan dengan

jelas keharusan terpenuhinya seluruh sifat tersebut pada

mereka dua belas khalifah pengganti Rasul sehingga

layak bagi mereka dan agama akan tetap tegak karena

mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka secara

keseluruhan merupakan manifestasi dari satu jalan, satu

landasan dalam mempertahankan agama, menjaga, dan

menyampaikannya—sebagaimana yang dilakukan oleh

Rasulullah saw. Sifat-sifat ini terpenuhi pada para pemimpin

dari keluarga Nabi yang suci. Mereka adalah orang-orang

yang ditetapkan bahwa ilmu-ilmu Nabi saw terdapat pada

diri mereka dan diwasiatkan untuk berpegang teguh pada

mereka untuk mencapai keselamatan dari kesesatan, seperti

yang telah dijelaskan dalam hadis Tsaqalain. Sebagian besar

umat Islam—di antara mereka adalah para pemimpin empat

mazhab—menimba ilmu pengetahuan agama dari mereka

sebagaimana yang diterangkan dalam sejarah dan beberapa

riwayat dari berbagai golongan dalam Islam menjelaskan

bahwa seluruh umat Islam merujuk pada mereka. Umat

Islam kekurangan dalam pengetahuan dan mereka kayakan

kemiskinan umat Islam tersebut.29

Sejarah kehidupan mereka menyatakan kepiawaian

mereka dalam mempertahankan agama Islam dan

menyebarkan pengetahuan mereka serta perlindungan

mereka terhadap umat Islam ketika mereka diserbu

dengan gelombang-gelombang pemikiran selain Islam.

Pembuktian-pembuktian mereka terhadap orang-orang

ateis dan pemimpin-pemimpin agama lainnya telah

banyak dibukukan di kalangan Muslimin. Seluruhnya

membuktikan bahwa tegaknya agama dikarenakan mereka

Teladan Abadi

/

125

dan pengganti peran Rasulullah saw dalam hal tersebut.

Begitu pula kelayakan mereka untuk memimpin umat Islam

sebagaimana yang dinyatakan Dzahabi ketika berbicara

mengenai kelayakan Imam Hasan, Imam Husain, Imam

Sajjad, dan Imam Baqir as. Kemudian, dia berkata, “Begitu

pula Imam Ja’far Shadiq as yang memiliki posisi tertinggi

dalam ilmu dan lebih utama dalam hal ini dibanding dengan

Abi Ja’far Manshur. Putra beliau, Musa, adalah manusia

yang agung, luas pengetahuannya, dan lebih layak untuk

menjabat kekhalifahan dibanding dengan Harun.30

Kedua, sejarah mereka sesuai dengan penjelasan hadis

mengenai dua belas khulafa yang ditentang dan dimusuhi.

Namun, hal itu tidak membahayakan mereka dalam

menegakkan tugas-tugas penting mereka guna menjaga

agama dan mempertahankannya sebagaimana dapat kita

perhatikan pada paragraf sebelumnya. Sejarah mencatat

bahwa mereka menghadapi gangguan dan tekanan dari

penguasa yang zalim yang tidak memberikan kesempatan

sedikit pun pada mereka sebagaimana yang terjadi pada

Imam Husain as dan keluarganya serta pada sahabatnya.

Begitu pula ancaman-ancaman berupa penjara, upaya

pembunuhan, dan peracunan merupakan puncak keharusan

kegaiban imam terakhir mereka yaitu Imam Mahdi as.

Kendatipun demikian, segala bentuk ancaman, kekerasan,

permusuhan, dan penghinaan tidak menghentikan upaya

mereka untuk menjaga sunnah kakek mereka Rasulullah saw

dan menyampaikannya dengan cara meninggalkan hadishadis

yang diriwayatkan oleh mereka dan membukukannya

dalam kitab-kitab para ulama pengikut mereka atas segala

sesuatu yang dibutuhkan manusia di berbagai kondisi baik

individu maupun sosial.31

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน