Teladan Abadi 3

Teladan Abadi 3

Teladan Abadi

kedua dalam kehidupan beliau pada masa kegaiban panjang

sebagaimana yang tercermin dalam risalah-risalah yang

beliau keluarkan pada masa tersebut.

Penetapan Metode Perwakilan

Imam Mahdi as pada masa ini, menetapkan sejumlah

orang dari para sahabat beliau yang setia dan dapat

dipercaya, yang memiliki keikhlasan dalam keyakinan

sebagai wakil beliau yang bergerak sesuai dengan izin dan

perintah beliau. Para wakil tersebut merupakan satu bentuk

sarana yang menghubungkan Imam dengan orang-orang

mukmin. Kakek beliau, Imam Ali al Hadi as, juga telah

mempersiapkan bagi beliau dalam masalah ini. Begitu

pula yang dilakukan imam sebelumnya, Imam Muhammad

Jawad as dan diikuti oleh Imam Hasan Askari as, yang

telah membentuk sistem perwakilan sebagai persiapan

untuk kegaiban keturunan mereka. Mereka mengumumkan

kepercayaan mereka pada sebagian sahabat mereka atau

menyatakan langsung para wakil mereka. Satu contoh,

seperti yang dilakukan oleh Imam Hasan Askari as ketika

beliau berbicara mengenai Utsman bin Sa’id Amri wakil

beliau, Imam menyatakan bahwa dia (Utsman) juga adalah

seorang wakil setelahnya bagi putra beliau, Imam Mahdi

as. Utsman bin Sa’id Amri juga merupakan wakil Imam di

masa Imam Ali al Hadi as.

Imam Hasan Askari berkata,

= لْمَمَا ِ _ _ لْمَحْيَا َ _ ثِقَّتِى فِى _ لْمَاضِى َ _ لْاَمِيْنُ ثِقَّةُ _ َلثِّقَةُ _ _ َبُو عَمْر _ _ هَذَ

يْهِ . ِلَيْكُمْ فَعَنِّي يُؤَِّ _ -. ََ_ مَا _ فَمَا قَالَهُ لَكُمْ فَعَنِّى يَقُولُهُ َ

“Abu Amr ini adalah orang yang dapat dipercaya,

jujur, dan kepercayaan imam terdahulu, dan orang

/

202

Imam Mahdi

kepercayaanku semasa aku hidup dan setelah

aku meninggal. Apa yang dia sampaikan pada

kalian adalah ucapan dariku dan segala yang dia

perintahkan pada kalian, sesungguhnya itu adalah

perintah dariku.”40

Syekh Shaduq menyebutkan dua belas orang para

wakil Imam Mahdi as selama masa kegaiban pendek. Sayid

Muhammad Shadr menambahkan enam orang lainnya,

berdasarkan bukti yang disebutkan dari sumber-sumber

sejarah dan kitab-kitab ar-Rijal.41 Imam bertanggung jawab

langsung dalam penetapan mereka dan mengeluarkan

penjelasan dan tanda tangan mengenai hal ini serta

menafikan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai

wakil imam yang bukan dari mereka.42

Perubahan penting yang terjadi dengan adanya

sistem perwakilan pada masa ini yang berbeda dengan

masa sebelumnya, yaitu masa Imam Hasan Askari as,

adalah pembicaraan Imam Mahdi dalam penentuan

wakil atau utusan umum antara beliau dan orang-orang

Mukmin. Penentuan-penentuan ini adalah sesuatu yang

tidak dibutuhkan sebelumnya, mengingat para wakil atau

masyarakat umum dapat berhubungan langsung dengan

Imam dan Imam pada saat itu hadir. Karena itu, tidak

dibutuhkan seorang wakil atau utusan tertentu yang

mewakili beliau. Adapun pada masa kegaiban pendek,

ketidakhadiran Imam menuntut adanya penentuan wakil

agar dapat menjadi sentral rujukan orang-orang Mukmin

pada khususnya dan mereka sebelumnya telah terbiasa

bahwa Imam di setiap masa hanyalah satu orang.

Penentuan seorang wakil khusus atau utusan tertentu

dari Imam ditentukan langsung dan biasanya dengan

/

203

Teladan Abadi

sesuatu yang dapat mewakili penentuan tersebut seperti

persetujuan yang dikeluarkan Imam atau disampaikan

secara langsung oleh Imam sebagaimana kondisi wakil

pertama atau melalui wakil sebelumnya untuk menetapkan

wakil mendatang.

Para pembesar Syi’ah dan empat sahabat utama yang

berurutan mendapatkan posisi tersebut adalah Utsman

bin Said Amri. Ia, sebagaimana yang kita ketahui, adalah

seorang wakil dari dua imam sebelumnya, yaitu Imam Ali

Hadi dan Imam Hasan Askari. Kemudian putra beliau, Amr

bin Utsman, menggantikan beliau. Setelah Amr adalah

Husain bin Ruh dan wakil terakhir Imam adalah Ali bin

Muhammad Samari.

Pengawasan Imam terhadap perilaku mereka para

wakil dilakukan secara langsung dan berkesinambungan di

setiap kondisi yang mereka mewakili Imam dalam tanggung

jawabnya. Bahkan, mereka berwenang untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan yang berkaitan

dengan masalah keyakinan pada orang-orang mukmin

yang mungkin saja mereka menjawab pertanyyaan tersebut

berdasarkan yang mereka ketahui. Akan tetapi mereka tidak

melakukan sesuatu apa pun kecuali mereka mendapatkan

pengetahuan secara langsung dari Imam Mahdi as.

Hal yang juga menambah nilai hujjah syariah atas

sesuatu yang mereka lakukan ialah adanya sejumlah

riwayat yang menunjukkan hal tersebut. Satu contoh

sebuah riwayat yang dinukil oleh Syekh Thusi dalam kitab

Al-Ghaybah dalam sebuah hadis yang panjang mengenai

jawaban wakil imam ketiga, Husain bin Ruh, atas pertanyaan

salah seorang mukmin ketika bertanya mengenai masalah

akidah yaitu berkenaan dengan kesyahidan Imam Husain as.

/

204

Imam Mahdi

Riwayat tersebut dinukil oleh perawi dari Muhammad bin

Ibrahim yang hadir pada sebuah majelis dan saat itu Husain

bin Ruh menjawab pertanyaan. Muhammad bin Ibrahim bin

Ishaq berkata, “Aku kembali menjumpai Syekh Abu Qasim

Husain bin Ruh keesokan harinya dan aku berkata pada

diriku sendiri, ‘Apakah dia menyebutkan sesuatu pada kami

kemarin dari dirinya sendiri?’ Dia menegurku dan berkata,

‘Wahai Muhammad bin Ibrahim, jika diakhirkan dari langit

dan burung-burung mematukiku atau angin yang kencang

menerpaku, hal itu lebih aku sukai dibandingkan dengan

aku berbicara agama berdasarkan pendapatku dan dari

diriku sendiri. Sesungguhnya sesuatu yang kusampaikan

bersumber dari sumber yang asli dan aku mendengarnya

dari al-Hujjah (al-Mahdi)—semoga shalawat dan salam

Allah tercurah padanya.’”43

Jelas, kondisi politik yang terjadi mengharuskan

kegaiban Imam tidak memungkinkan bagi para wakil

untuk berbuat secara terang-terangan. Dengan demikian,

syarat pertama untuk menjadi seorang utusan tertentu

haruslah seseorang yang memiliki tingkatan puncak

dalam berpegang teguh dan mampu menyembunyikan dan

merahasiakan tempat bahkan keberadaan Imam sekalipun.

Hal inilah yang menyebabkan terpilihnya Husain bin Ruh

sebagai wakil kendati ada orang yang lebih pintar darinya

di antara para sahabat. 44

Imam Mahdi as menetapkan sistem perwakilan

atau utusan khusus pada masa kegaiban pendek sebagai

pembukaan agar orang-orang mukmin merujuk pada

wakil umum Imam di masa kegaiban panjang. Hal itu telah

ditetapkan dalam nas-nas syariat Islam yang menentukan

sifat-sifat secara umum bagi wakil umum Imam. Imam juga

memerintahkan umat untuk merujuk pada wakil umum

/

205

Teladan Abadi

beliau di masa kegaiban panjang. Imam mempersiapkan hal

itu pada masa kegaiban pendek dengan cara menentukan

pribadi-pribadi tertentu yang memiliki sifat-sifat tersebut

untuk mengenalkan umat pada sosok-sosok yang memiliki

kelayakan sebagai pengganti umum dari seorang Imam.

Riwayat-riwayat tersebut sangat membantu untuk

mengenali seseorang yang memiliki sifat-sifat tersebut

dan yang menyerupainya pada masa kegaiban panjang.

Dengan kata lain, pengalaman empat wakil Imam yang

khusus yang ditentukan langsung oleh Imam, di satu sisi

memberi penjelasan pada umat tentang legalitas merujuk

pada wakil imam pada masa kegaiban beliau. Di sisi lainnya,

menunjukkan pada umat contoh penguat bagi orang yang

mengklaim sebagai pengganti Imam pada masa kegaiban

panjang berdasarkan sifat-sifat yang telah disebutkan

dalam nas-nas syariat Islam sebagai sebuah persyaratan

untuk mengganti Imam.

Menjaga Pondasi Keimanan

Mengingat pentingnya penetapan keberadaan Imam

dan pengenalan terhadap wakil-wakilnya, hal ini terkadang

menyeret pemberitaan kepada penguasa. Untuk itu Imam

berperan aktif menjaga sistem perwakilan sehingga

terlaksana peran beliau pada masa kegaiban pendek.

Satu contoh, Tsiqat al-Islam Kulaini meriwayatkan dalam

Al-Kâfî dari Husain bin Hasan Alawi berkata, “Seorang

laki-laki dari Nadama Ruz Hasani dan orang terakhir

yang bersamanya berkata kepadanya, ‘Dia adalah orang

yang mengumpulkan harta-harta dan dia memiliki para

wakil dan mereka menyebutkan seluruh nama wakil ke

seluruh penjuru.’ Sampailah hal ini pada Ubaidilah bin

Sulaiman sang mentri. Ia berusaha menangkap mereka

/

206

Imam Mahdi

semua. Raja berkata, ‘Carilah di mana laki-laki ini!’ ‘Ini

adalah masalah yang berat,’ ujar Ubaidilah bin Sulaiman,

‘Kita akan menangkap para wakilnya.’ Raja berkata, ‘Tidak.

Akan tetapi, ada di antara mereka sekelompok orang yang

tidak mengenal harta sama sekali. Siapa yang di antara

mereka memegang sesuatu maka diberikan kepadanya.

Perawi berkata, ‘Kemudian Imam memerintahkan seluruh

wakil untuk tidak mengambil sesuatu apa pun dari setiap

orang, menolaknya, dan berpura-pura bodoh. Seorang

laki-laki yang tidak dikenal berusaha menipu Muhammad

bin Ahmad dan berkata, ‘Aku memiliki sejumlah harta

dan aku ingin memberikannya pada Imam.’ Muhammad

berkata kepadanya, ‘Anda salah. Saya tidak mengetahui

apa pun tentang hal ini.’ Lelaki itu terus mendesak secara

halus. Namun Muhammad tetap pura-pura tidak tahu.

Pemerintah terus mengirim mata-mata namun para wakil

Imam menolak apa pun yang disodorkan pada mereka.”45

Dari riwayat tersebut dapat diketahui mengenai

sejarah Imam pada masa kegaiban pendek bahwa beliau

tidak hanya berusaha mencegah gangguan para penguasa

Bani Abbas pada para wakilnya sebagaimana yang kita

lihat pada riwayat di atas tetapi juga terhadap orang-orang

mukmin dari tekanan Bani Abbas. Hal ini merupakan

sebuah sunnah dari sejarah ayah-ayah beliau. Mereka

berusaha melindungi orang-orang mukmin dan mencegah

setiap gangguan sebatas yang mereka mampu lakukan.

Salah satu contoh perlindungan para imam terhadap

orang-orang mukmin adalah sebagaimana yang disebutkan

dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Kulaini

dalam kitab al-Kâfî. Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad,

dia berkata, “Dikeluarkan pelarangan untuk berziarah

ke makam orang-orang Quraisy dan gua Hira. Setelah

/

207

Teladan Abadi

beberapa bulan Menteri Baqithai memanggil dan berkata,

‘Temui Bani Furat dan Barsiyin, katakan pada mereka,

‘Jangan menziarahi makam-makam orang-orang Quraisy.

Khalifah telah memerintahkan untuk melenyapkan setiap

orang yang berziarah atau memenjarakannya.’”46

Tujuan-tujuan lainnya yang diupayakan Imam

untuk direalisasikan pada masa kegaiban pendek adalah

menyingkap segala bentuk penyimpangan yang terjadi

di kalangan umat Syi’ah di antaranya tulisan paman

beliau, Ja’far, dan adanya wakil-wakil gadungan. Sejarah

membuktikan keberhasilan Imam menyelesaikan masalah

tersebut ditandai dengan berpalingnya para pengikut beliau

dari hal tersebut dengan cepat sebelum berakhir masa

kegaiban pendek.

Pada pembahasan selanjutnya, kita akan jumpai

dua contoh dari pergerakan Imam pada masa ini untuk

merealisasikan tujuan-tujuan tersebut, di antaranya

keluarnya pernyataan dari Imam dan pertemuan dengan

orang-orang mukmin.

Dikeluarkannya Risalah (Pernyataan)

Sumber-sumber sejarah kehidupan Imam Mahdi

as dipenuhi dengan sejumlah nas-nas dari pernyataanpernyataan

dan penjelasan-penjelasan yang bersumber dari

beliau pada masa kegaiban pendek. Pernyataan-pernyataan

tersebut biasa disebut tauqi’at. Pernyataan-pernyataan

tersebut merupakan salah satu bentuk pembuktian yang

nyata mengenai keberadaan beliau dan upaya penegakan

tanggung jawab imamah di masa kegaiban beliau.47

Tauqi’at (pernyataan-pernyataan) Imam merupakan

salah satu sarana hubungan Imam dengan orang-orang

mukmin sekaligus sebagai media penghubung penjelasan/

208

Imam Mahdi

penjelasan beliau pada orang-orang mukmin. Hal ini

terjadi mengingat kondisi pada masa kegaiban yang tidak

memungkinkan terjadinya pertemuan secara langsung.

Hal yang juga membantu umat mengenai sarana ini dan

menguatkan pengaruhnya pada orang-orang mukmin adalah

persiapan-persiapan yang dilakukan ayah-ayah beliau untuk

hal tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan metode ini jauh

hari sebelumnya, khususnya pada masa Imam Musa Kazhim

as. Beliau mengalami masa pengasingan yang cukup panjang

sejak masa imamah beliau hingga berlangsung selama 35

tahun. Selama waktu tersebut, Imam Musa berada dalam

penjara penguasa Bani Abbas atau berada dalam pengawasan

ketat dan juga tekanan-tekanan yang ditujukan pada para

pengikutnya. Padahal beliau harus berhubungan dengan

orang-orang mukmin pengikut beliau dan harus menjawab

pertanyaan mereka seputar agama. Imam Musa as memberikan

penjelasan-penjelasan tersebut melalui surat-surat yang

tidak terputus meskipun beliau berada dalam penjara dan

juga melalui sarana-sarana lainnya seperti orang-orang yang

diupayakan oleh penguasa Bani Abbas untuk tidak mengetahui

dan tidak mengenal pemimpin mereka yang sesungguhnya.

Penggunaan metode ini semakin gencar dilakukan

pada masa dua imam yaitu Imam Ali Hadi dan Imam

Hasan Askari as. Hal ini disebabkan bertambah ketatnya

pengawasan yang dilakukan oleh penguasa Abbasi terhadap

kedua imam tersebut manakala ibukota pemerintahan Bani

Abbas saat itu menetapkan keduanya sebagai “rahasia bagi

orang yang melihat.” Kondisi seperti ini bagaikan berada di

benteng tentara. Oleh karena itu, dijuluki dengan al-‘Askari

yang bermakna ‘barak tentara’. Pemerintah pada saat itu

berusaha menciptakan kondisi bagi keduanya bagaikan

dalam penjara di benteng tersebut.

/

209

Teladan Abadi

Selain hal itu, penekanan kedua imam untuk

menggunakan metode ini ibarat sebuah persiapan secara

langsung untuk menghadapi kegaiban bagi putra mereka

dengan jalan membiasakan orang-orang mukmin para

metode ini dan juga sebagai bentuk penolakan terhadap

sanggahan yang dilontarkan dan sekaligus sebagai

penyempurna hujjah, sehingga mereka menerimanya dan

berbuat sebagaimana yang tertera dalam risalah tersebut

dan meyakininya dengan sepenuh hati. Dalam hal ini Imam

menggunakan tulisan tangan pribadi beliau yang juga hal

seperti itu dilakukan oleh ayah beliau dalam menulis suratsuratnya.

Semua ini menjadi penguat keyakinan di hati

orang-orang mukmin dan memotong orang-orang yang

mengingkari.48

Sebagian tauqi’at (pernyataan-pernyataan) Imam

merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan orangorang

mukmin melalui empat wakil khusus imam. Sebagian

lainnya merupakan penjelasan dari Imam berhubungan

dengan berbagai masalah penting seperti perlindungan

beliau terhadap orang-orang mukmin dan para wakil

beliau sebagaimana yang telah kita saksikan. Ada pula

yang berkaitan dengan penyingkapan atas penyelewenganpenyelewengan

para wakil gadungan atau menyangkut

penunjukan utusan-utusan atau lain-lain.

Tauqi’at (pernyataan-pernyataan) juga mencakup

segala sesuatu yang dibutuhkan orang-orang mukmin dari

pengetahuan-pengetahuan Islam yang benar dan hukumhukumnya

di berbagai sisi kehidupan masyarakat baik

dalam masalah keyakinan, fikih, pendidikan, akhlak, doadoa,

dan lain-lainnya. Begitu pula penjelasan mengenai

kebutuhan umat pada masa kegaiban seperti perujukan

pada para fakih yang adil, penegasan atas keberlangsungan

/

210

Imam Mahdi

penjagaan beliau pada masa kegaibannya, penjelasan

mengenai tanda-tanda kemunculan beliau, dan lain-lain.

Insya Allah hal ini akan kita kenali sebagiannya pada

pembahasan mendatang. Di dalam tauqi’at, juga terdapat

contoh-contoh penerapan pengambilan kesimpulan hukum

syariat dari hadis-hadis. Hal ini juga sebagai pembiasaan

umat untuk beramal disesuaikan dengan hasil ijtihad pada

masa kegaiban panjang.49 Secara umum dapat disimpulkan

bahwa tauqi’at ini pada satu sisi merupakan salah satu

sarana memimpin kaum mukmin dan merupakan upaya

penjagaan terhadap mereka. Di sisi lain, sebagai sarana

untuk menyempurnakan segala hal yang dibutuhkan

pada masa kegaiban panjang mengenai hakikat Islam dan

hukum-hukumnya.

Pertemuan Imam Mahdi dengan Orang-orang Mukmin

Pengikutnya

Sumber-sumber riwayat yang tepercaya meriwayatkan

beberapa hadis yang mengisahkan pertemuan Imam Mahdi

as dengan orang-orang mukmin para sahabatnya di masa

kegaiban pendek. Hampir-hampir tidak ada satu buku

pun yang ditulis mengenai sejarah para imam khususnya

Imam Mahdi as yang tidak memuat hal itu. Syekh Shaduq

meriwayatkan dari Muhammad bin Abi Abdillah mengenai

jumlah pertemuan yang terjadi antara Imam Mahdi

dengan para pengikut beliau dari berbagai penjuru dunia

Islam. Beliau menyebutkan enam puluh delapan orang.50

Sementara Mirza Nuri menyebutkan angka 204 orang

sahabat bersandarkan pada beberapa riwayat yang dapat

dipercaya.51 Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah

riwayat yang disampaikan dengan sanad yang sahih.

Sebagian besar riwayat menceritakan tentang pertemuan

/

211

Teladan Abadi

yang terjadi pada masa kegaiban pendek, sebagian lainnya

mengenai perjumpaan pada masa ayah beliau. Riwayatriwayat

ini, mengkhususkan bagi orang-orang yang

menyaksikan dan mengenal beliau bukan bagi mereka yang

tidak mengetahui dan mengenal Imam Mahdi as.

Dari riwayat-riwayat tersebut, dapat disimpulkan

bahwa Imam Mahdi melakukan pertemuan dengan orangorang

mukmin di berbagai kondisi. Kemudian beliau

menampakkan beberapa mukjizat beliau dan menunjukkan

bukti-bukti sehingga orang-orang mukmin tersebut benarbenar

meyakini bahwa dirinya adalah seorang imam dan

terbukti pada mereka keberadaan beliau dan imamahnya.

Inilah yang dijelaskan oleh Isa Jauhari, yang berjumpa

dengan Imam pada tahun 267 H di Shabir dekat dengan

Madinah al-Munawwarah. “Beliau mengatakan sesuatu di

akhir pertemuan tersebut setelah aku menyaksikan buktibukti

yang memberikan keyakinan kepadaku mengenai

dirinya. Imam berkata,

P مَ َ _ بِأَيْنَ هُوَ؟ َ ? لْقَائِلُوْ َ _ ? لْمُكَذِّبُوْ َ _ نِي لَوْلاَ _ تَرَ ? َ ْ 7 لَكَ ? يَا عِيْسَى مَا كَا َ

شَيْئٍ - بِأَ ِّ _ ِلَيْكُمْ مِنْهُ؟ َ W خَرَ َ - لَّذِ _ مَا _ ؟ َ tُX_ مَنْ َ _ لِدَ؟ َ _ َيْنَ ُ 7_ ؟ َ ? كَا َ

لْمُؤْمِنِيْنَ مَعَ مَا _ َمِيْرُ 7 _ فَعُوْ . للهِ لَقَدْ َ __ َمَا َ 7 َتَاكُمْ؟ 7 مُعْجِزٍ - َ ُّ 7_ نَبَّأَكُمْ؟ َ

لََمْ _ َ 4 لسَّلاَُ _ بَائِي عَلَيْهِمُ X كَذَلِكَ _ ، َ t قَتَلُوُْ _ َ tُ_ْ . كَاُ _ عَلَيْهِ، َ _ قَدَّمُوْ _ َ tُ_ْ _َ_َ

مَا تَبَيَّنَ. u ِ َ W لْجِنِّ _ خِدْمَةِ _ لسِّحْرِ َ _ u ِ َ W نَسَبُوْهُمْ _ هُمْ َ _ يُصَدِّقُوْ

نَا فَتُسَلِّبُهُ. فَقُلْتُ: _ تُخْبِرَ عَدَُّ ? َ ْ 7 c ِيَّا َ W_ َيْتَ، َ 7_ نَا مَا َ n لِيَاَ _ َْ _ يَا عِيْسَى فَخَبِّرْ

مْضِ __ َيْتَنِي، َ 7_ للهُ مَا َ _ : لَوْ لَمْ يُثِبِّتَكَ ` فَقَا َ = لِي بِالثَّبَا ِ ~ُ . ُْ_ - يَا مَوْلاَ َ

، 4 لنُّجُوَْ _ تَشْتَبِكَ ? َ ْ 7 u ِ َ _ n لْعِشَاَ _ َخَّرَ 7 مَنْ ? مَلْعُوْ ٌ ? . مَلْعُوْ ٌ _ شِدً __ بِنَجْحِكَ َ

._َ_ لدَّ _ خَلَ .َ_ َ 4 لنُّجُوُْ _ تَنْقَضِيَ ? َ ْ 7 u ِ َ _ @َ. لْغَاَ _ َخَّرَ 7 مَنْ ? مَلْعُوْ ٌ ? مَلْعُوْ ٌ

/

212

Imam Mahdi

“Wahai Isa, kau tidak akan melihatku jika tidak

karena orang-orang yang mendustakanku

berkata, ‘Di mana dia? Kapan dia lahir? Di mana

dia lahir? Siapa yang menyaksikannya? Apa yang

telah dia sampaikan pada kalian? Dengan apa dia

memberitahukan kalian? Mukjizat apakah yang

dia telah tampakkan pada kalian? Sungguh demi

Allah, Amirul Mukminin telah menolak mereka

dengan sesuatu yang mereka saksikan dan beliau

tampilkan pada mereka. Mereka hampir saja

membunuh beliau. Begitu pula ayah-ayahku—

salam sejahtera bagi mereka. Namun mereka tidak

mempercayai ayah-ayahku, menuduhkan pada

mereka bahwa hal itu adalah sihir, diperbantukan

jin dan segala penjelasan mereka.”

“Wahai Isa, sampaikanlah kepada para kekasih

kami sesuatu yang kau saksikan. Dan jangansekali-

kali kau memberitahukan hal ini pada

musuh-musuh kami, maka kau akan disalib.” Aku

berkata, “Wahai tuanku, doakan aku agar dapat

tetap bertahan.” Imam menjawab, “Andaikan Allah

tidak menguatkanmu, kau tidak pernah melihatku.

Berangkatlah dengan kemenanganmu yang

dipenuhi petunjuk.” Aku pun berangkat dengan

memuji Allah dan banyak bersyukur pada-Nya.”52

Dari riwayat di atas, dijelaskan bahwa kemuliaan yang

diperoleh untuk berjumpa dengan beliau, terjadi pada masa

kegaiban pendek. Beliau pada masa tersebut juga memenuhi

kebutuhan orang-orang mukmin dengan mencukupkannya

melalui sunnah-sunnah ayah-ayah beliau—shalawat

Allah pada mereka sebagaimana beliau juga memberikan

penjelasan-penjelasan mengenai permasalahan akidah

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน