Imam Mahdi

Imam Mahdi



Imam Mahdi

dengan sangat jelas. Akan tetapi, hal itu tidak menafikan

kandungan di dalamnya berupa pemberitaan kebenaran.

Hal ini termasuk penyandaran pada sebab….”17

Penetapan Para Fakih di Masa Kegaiban

Sebagaimana yang telah kami isyaratkan ketika

membicarakan sistem perwakilan atau utusan khusus

pada masa kegaiban pendek, sesungguhnya sistem ini

merupakan satu bentuk persiapan agar umat merujuk

pada masa kegaiban panjang kepada para fakih yang adil

yang menjadi cerminan dari diri beliau yang menggantikan

mereka sebagai pemimpin yang tampak diperintahkan

untuk merujuk seperti yang dijelaskan dalam tauqi’

(pernyataan) beliau yang ditujukan pada Ishaq bin Yakub.

Isi pernyataan beliau adalah

حَدِيْثِنَا، فَإِنَّهُمْ حُجَّتِي @ِ__َ_ ُ u ِ َ _ فِيْهَا _ جِعُوْ _ قِعَةِ فَا ْ _ لْوَ _ .ُ .ِ_ لْحَوَ _ َمَّا 7_ َ

للهِ عَلَيْهِمْ. _ َنَا حُجَّةُ 7_ عَلَيْكُمْ َ

“Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi

merujuklah mengenai hal itu kepada para

perawi hadis kami. Sesungguhnya mereka adalah

hujjahku terhadap kalian dan aku adalah hujjah

Allah atas kalian.”

Para imam Ahlulbait as juga mengisyaratkan

sebelumnya mengenai peran penting ini bagi seorang

ulama di masa kegaiban panjang. Satu contoh, riwayat yang

disampaikan dari Imam Ali Hadi as bahwa beliau berkata,

n لْعُلَمَاِ _ مِنَ 4 لسَّلاَُ __ َ @ لصَّلاَُ _ لَوْلاَ مَنْ يَبْقىَ بَعْدَ غَيْبَةِ قَائِمِكُمْ عَلَيْهِ

لْمُنْقِذِيْنَ __ للهِ، ÙŽ _ يْنِهِ بِحَجَجِ . ِ ? ئِبِيْنَ ‘ÙŽ Ù’ _ لذَّ __ لِّيْنَ عَلَيْهِ ÙŽ _ لدَّ __ ِلَيْهِ ÙŽ W عِمِيْنَ _ لدَّ _

صِبِ؛ _ لنَّوَ _ . مِنْ فُخَا ِ _ تَهُ، َ . مَرََّ _ ِبْلِيْسَ َ W c للهِ مِنَ شُبَّا ِ _ . عِبَاِ n لِضُعَفَاِ

/

247

Teladan Abadi

{ مَّةِ قُلُوْ ِ O َِ7 ? لَّذِيْنَ يَمْسِكُوْ َ _ لَكِنَّهُمُ _ يْنِهِ. َ . تَدَّ عَنْ ِ _ْ_ ِلاَّ W َحَدٌ 7 لَمَا بَقِيَ

لَئِكَ هُمُ _ ُْ 7 لسَّفِيْنَةِ سُكَّانِهَا، _ لشِّيْعَةِ كَمَا يَمْسِكُ صَاحِبُ _ n ضُعَفَاِ

للهِ. _ عِنْدَ ? ْلأَفْضَلُوْ َ _

“Andaikan tidak terdapat seorang ulama setelah

kegaiban pemimpin kalian yang menyeru

kepadanya, menunjukkan kepadanya, dan lebur

pada agamanya dengan hujjah-hujjah Allah serta

mengangkat orang-orang yang lemah di antara

hamba-hamba Allah dari lingkaran-lingkaran

iblis dan tipu dayanya, dari penentangan kaum

nawashib (pembenci Ahlulbait), maka tidak

tersisa seorang pun kecuali murtad dari agama

Allah. Akan tetapi, mereka (ulama) adalah para

pengendali hati para pengikut imam yang lemah

bagaikan pengendalian seorang nahkoda pada

para penumpangnya. Mereka adalah manusiamanusia

terbaik di sisi Allah.”18

Dari ucapan beliau yang menyatakan َنَا 7_ ِنَّهُمْ حُجَّتِي عَلَيْكُمْ َ W__

Ù… للهِ عَلَيْهِ _ حُجَّةُ “Sesungguhnya mereka adalah hujjahku terhadap

kalian dan aku adalah hujjah Allah atas kalian.” Dapat

disimpulkan bahwa para fakih yang adil pada kenyataannya

merupakan penghubung antara umat dan Imam—semoga

Allah mempercepat kehadirannya—yaitu satu masalah

yang meliputi sebagian yang lain—khususnya bagi mereka

yang memiliki status khusus dalam menyelamatkan umat

dan memiliki peran khusus dalam pemikiran dan politik

atau kepemimpinan—melalui penentuan imam baik

secara langsung maupun tidak langsung khususnya dalam

sebuah pergerakan yang memiliki pengaruh terhadap

perjalanan umat dan gerakan Islam. Seorang fakih seperti

/

248

Imam Mahdi

ini berperan aktif dalam menentukan pergerakan demi

kemaslahatan umat atau berperan untuk mencegah bahaya

yang akan menimpa umat. Banyak hadis yang dinukil

yang menyebutkan dan menyingkap sebagian peranan

para fakih. Namun, lebih banyak peranan yang tidak

disebutkan. Sebagian daripada peran tersebut merupakan

peran langsung dari Imam dan sebagian lainnya merupakan

peran secara tidak langsung melalui salah seorang wakilwakilnya.

19

Sahabat-sahabat Imam di Masa Kegaiban Panjang

Dari sejumlah hadis dapat disimpulkan bahwa Imam

Mahdi as memiliki sejumlah sahabat yang ikhlas dan

berjumpa dengan beliau yang hal ini berlangsung pada

masa kegaiban panjang di antara penduduk setiap masa.

Sebagian hadis-hadis menjelaskan bahwa jumlah mereka

adalah tiga puluh orang. Syekh Kulaini dalam kitab Al-Kâfî

dan Syekh Thusi dalam kitab Al-Ghaybah meriwayatkan

satu hadis dari Imam Ja’far Shadiq as, beliau berkata,

نِعْمَ _ لاَبُدَّ لَهُ فِي غَيْبَتِهِ مِنْ عَزْلَةٍ َ _ ْلأَمْرِ مِنْ غَيْبَةٍ َ _ _ لاَبُدَّ لِصَاحِبِ هَذَ

حْشَةٍ _ مَا بِثَلاَثِيْنَ مِنْ َ _ طِيْبَةً َ ` لْمَنْزِ ِ _

“Bagi shahibul amr (Imam Mahdi) terjadi kegaiban

dan pada masa kegaibannya, dia memiliki tempat

uzlah dan kediaman yang sangat harum serta

terdapat tiga puluh orang yang tidak pernah

merasa takut.”20

Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Imam

Ja’far Shadiq as, beliau berkata,

لَاَ يَعْلَمُ u_ ْلأُْ _ لْغَيْبَةُ _ طَوِيْلَةٌ، 6 لأُخْرَ __ َ @ ِحْدَهُمَا قَصِيْرٌَ W ? لِلْقَائِمِ غَيْبَتَا ِ

/

249

Teladan Abadi

ِلاَّ خَاصَةَ W لاَ يَعْلَمُ بِمَكَانِهِ فِيْهَا 6 ْلأُخْرَ __ ِلاَّ خَاصَةَ شِيْعَتِهِ َ W بِمَكَانِهِ

لِيْهِ. _ مُوَ

“Bagi al-Qaim terjadi dua kegaiban. Salah satunya

lebih singkat dan yang lainnya lebih lama. Pada

kegaiban pertama, tidak ada seorang pun yang

mengetahui tempat beliau kecuali orang-orang

khusus dari para wakilnya. Adapun pada masa

kegaiban lainnya tidak ada seorang pun yang

mengetahui tempat beliau kecuali orang-orang

khusus dari para pengikutnya.”21

Sebagian hadis menjelaskan bahwa Nabi Khidhir

as merupakan salah seorang sahabat Imam Mahdi as di

masa kegaibannya.22 Mungkin Imam Mahdi mendapat

bantuan dari mereka para wali—orang-orang yang memiliki

tingkatan tertinggi dalam keikhlasan—dalam menegakkan

misinya seperti yang telah disebutkan berupa penjagaan

terhadap orang-orang mukmin, pengawasan terhadap

mereka, dan penentuan para ulama, serta menolak bahaya

yang mengancam keimanan sekaligus mempermudah

gerakan persiapan sehingga muncul dalam Dunia

Islam segala sesuatu yang dapat membantu persiapan

kemunculan beliau dan faktor-faktor pendukung yang

dibutuhkan untuk merealisasikan hal tersebut.

Perjumpaan dengan Orang-Orang Mukmin pada Masa

Kegaiban Panjang

Sesungguhnya perjalanan kehidupan Imam Mahdi

as pada masa kegaiban panjang menerangkan bahwa

perjumpaan dengan beliau pada masa tersebut tidak

hanya terbatas pada jumlah tertentu dari kalangan para

wali ikhlas di setiap masa. Bahkan, hal ini juga mencakup

/

250

Imam Mahdi

selain mereka—meskipun dalam bentuk yang tidak

berkesinambungan. Adapun hadis-hadis khusus yang

menjelaskan tentang perjumpaan dengan beliau pada masa

kegaiban sangat banyak jumlahnya. Bahkan, melampaui

batas kemutawatiran. Manakala kita merujuk pada hadishadis

tersebut dan menelitinya, kita dapat mengetahui

bahwa tidak ada kebohongan dan kesalahan pada sejumlah

hadis tersebut.23

Mirza Nuri, misalnya, menukil dalam kitab An-

Najm ats-Tsaqib seratus riwayat. Beberapa sumber yang

lain menyebutkan lebih dari jumlah tersebut. Sebagai

penguat akan hal tersebut, terdapat beberapa kisah yang

dapat diterima yang tidak diriwayatkan dan juga tidak

tercatat dalam sumber-sumber meskipun dinukil melalui

perawi-perawi yang dapat dipercaya bahwa Imam Mahdi

as berhubungan dengan sejumlah orang mukmin di

seluruh penjuru bumi di setiap generasi dengan keberatan

mereka agar tidak menjadi perhatian terhadap hal itu dan

upaya penyembunyian selama-lamanya. Bahkan, dapat

dikatakan bahwa kisah yang dapat diterima yang tidak

diriwayatkan lebih banyak dibanding dengan hadis-hadis

yang diriwayatkan.

Kisah-kisah yang dapat diterima tersebut mencakup

kisah mengenai pemenuhan kebutuhan orang-orang

mukmin—sebagaimana sejarah kehidupan ayah-ayah

beliau dalam berbagai kebutuhan baik materi maupun

spiritual. Begitu pula kisah tersebut mencakup peringatan,

wasiat-wasiat pendidikan, penjelasan terhadap kekaburan

pengetahuan-pengetahuan ketuhanan atau peringatan

terhadap hukum-hukum yang benar dan lain-lain yang

merupakan bagian dari tanggung jawab Imam as di setiap

masa.

/

251

Teladan Abadi

Pengukuhan Keimanan terhadap Keberadaan Beliau

Dengan terjadinya perjumpaan-perjumpaan ini, selain

menambah manfaat apa yang telah disebutkan, pengaruh

penting menyangkut pengukuhan keimanan terhadap

keberadaan beliau juga terwujud dengan perjumpaan

tersebut. Pada gilirannya pengalaman-pengalaman seperti

itu menghapuskan keraguan-keraguan yang ditujukan

terhadap hal tersebut di setiap masa yang hal ini merupakan

penguatan perjalanan orang-orang mukmin dalam

mempersiapkan kemunculan beliau. Khususnya sebagian

besar dari perjumpaan-perjumpaan tersebut biasanya

beriringan dengan ditampakkannya sesuatu yang tidak

mungkin dapat ditampakkan oleh selain Imam, seperti

penjelasan ilmiah yang mendetil atau penampakan karamah

yang mampu memupus segala bentuk keraguan mengenai

sosok beliau.

Perjumpaan-perjumpaan ini pada sebagian besar

kondisi terjadi melalui pengaturan Imam sendiri tanpa

disadari oleh orang yang mendapatkan keberuntungan

berjumpa dengan beliau. Perjumpaan ini juga bisa diperoleh

setelah beberapa waktu—terkadang hingga waktu yang

lama—dengan kejujuran dan keseriusan seorang mukmin

untuk berjumpa dengan beliau serta keikhlasannya pada

Allah Swt dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang saleh

dengan tujuan tersebut. Sebagaimana pula hal itu dapat

terpenuhi dengan jalan menyelesaikan kebutuhan orangorang

mukmin yang meminta bantuan kepadanya atau

melalui penyeleksian Imam as terhadap harapan-harapan

yang diinginkan. Sebagian besar terjadi tanpa disadari oleh

orang mukmin tersebut bahwa orang yang ia jumpai adalah

Imam Mahdi as dan baru tersadar ketika perjumpaan telah

selesai. Semua itu sebagai bentuk penjagaan bagi pondasi

/

252

Imam Mahdi

dasar kerahasiaan pada masa ini.

Kehadiran di Musim Haji

Hadis-hadis banyak menjelaskan bahwa salah satu

sejarah kehidupan beliau pada masa kegaiban adalah

kehadiran pada musim haji setiap tahun. Jelaslah, dengan

kehadiran pada musim haji yang penting yang terjadi

setiap tahun merupakan satu kesempatan yang baik untuk

berjumpa dengan orang-orang mukmin dari seluruh penjuru

dunia. Imam as menyampaikan penjelasan-penjelasan pada

mereka kendatipun beliau tidak memperkenalkan dirinya

secara jelas. Musim haji juga merupakan sarana bagi beliau

untuk mengenal kondisi-kondisi mereka dari dekat tanpa

membutuhkan cara-cara melalui mukjizat.

Sesungguhnya hadis-hadis yang menyebutkan

kehadiran Imam Mahdi as pada pertemuan umat Islam

tahunan ini, menerangkan bahwa _ نَه _ يَرَْ __` _ هُمْ َ _ لْمُوْسِمَ فَيَرَ _ شْهَدُ __

“Imam menyaksikan musim haji, melihat mereka namun

mereka tidak melihatnya.”24 Yang dimaksudkan dengan

hadis ini adalah melihat dengan keterbatasan mengenai

sosok beliau. Yakni mereka tidak mengetahui bahwa yang

mereka lihat adalah Imam Mahdi mengingat terdapat

beberapa riwayat lainnya yang menjelaskan mengenai

kehadiran beliau pada musim haji. Sebagian lainnya

menjelaskan tentang ketidaktahuan orang-orang yang

melihat mengenai sosok beliau secara terbatas dan

kurangnya pengetahuan mereka bahwa dirinya adalah

keturunan dari Rasulullah saw.25

Taklif-taklif Di Masa Kegaiban Panjang

Hadis-hadis menekankan masalah kewajibankewajiban

di masa kegaiban panjang berkenaan dengan

/

253

Teladan Abadi

hukum dari sisi pelaksanaan yang tercakup di dalamnya

segala hal yang berkaitan dengan pergerakan manusia di

masa sekarang. Masa yang penuh dengan ujian-ujian dan

kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi sebagai akibat dari

ketidakhadiran seorang imam dan tidak adanya kemudahan

untuk merujuk kepada beliau dengan mudah.

Pada subbab ini, kita akan membahas secara ringkas

satu contoh mencolok mengenai kewajiban ini sesuai

dengan pembatasan yang dilakukan oleh hadis-hadis.

Namun kita membicarakannya secara terperinci mengenai

pentingnya hal itu dan ia merupakan pengejawantahan

dari kewajiban-kewajiban yang lainnya. Kewajiban tersebut

adalah kewajiban penantian kehadiran Imam—semoga Allah

mempercepat kehadirannya—mengingat hal ini merupakan

pembahasan yang banyak mengalami kesalahpahaman

dengan berbagai bentuknya.

Adapun kewaiban-kewajiban lainnya adalah sebagai

berikut.

1. Penguatan terhadap keyakinan mengenai pemimpin

di masanya, kegaibannya, kepastian mengenai

kemunculannya, dia hidup dan memperhatikan segala

urusan, mengetahui segala perbuatan manusia, kondisi

yang mereka hadapi, serta beliau menanti terkumpulnya

syarat-syarat yang dibutuhkan untuk kemunculannya.

Untuk mendalami pengetahuan-pengetahuan ini,

harus dibangun berdasarkan bukti-bukti naqli (nas-nas

baik berupa al-Quran maupun hadis) yang sahih dan

argumentasi-argumentasi akal yang sehat.

Pentingnya kewajiban ini sangat jelas dalam kondisi

ketidakhadiran seorang Imam pada masa kegaiban dan

keraguan-keraguan yang timbul karena hal tersebut.

/

254

Imam Mahdi

Sebagaimana pula pengaruh yang ditimbulkan dari

adanya pengenalan dan pengetahuan tersebut sangat

jelas dan dapat disaksikan dalam kehidupan seorang

Muslim. Yaitu dengan terdorong untuk melakukan

upaya perbaikan yang dibangun untuk kemajuan

pribadi maupun masyarakat.

Pengenalan tersebut membentuk satu sikap perbuatan

lebih yang serasi dengan kecenderungan dasar

untuk berbuat dan merasa dalam penjagaan dan

pengawasan imam zamannya. Sesuatu yang beliau

saksikan dari kemajuan orang-orang mukmin dapat

membahagiakan beliau dan segala bentuk kemunduran

dan penyimpangan dari upaya perbaikan yang dibangun

dapat menyebabkan kesedihan beliau.

Upaya-upaya perbaikan itu dibangun dengan berpegang

teguh pada hukum-hukum Islam, akhlak yang terpuji,

dan nilai-nilai dasar keislaman. Terpenuhinya syaratsyarat

tersebut merupakan upaya penantian kemunculan

beliau agar dapat membangun pemerintahan di

muka bumi ini dan mengangkat manusia melalui

pemerintahan beliau.

Kita telah banyak menjumpai hadis-hadis yang

memberitakan kegaiban Imam Mahdi as sebelum

terjadinya kegaiban tersebut yang mengisyaratkan

kewajiban ini. Kita akan menjumpai hadis-hadis

mengenai kewajiban penantian ini melalui contohcontoh

lainnya. Lebih-lebih hal ini dapat kita jumpai

melalui doa-doa yang sangat dianjurkan untuk

dibaca pada masa kegaiban dan sangat ditekankan

untuk melakukan kewajiban ini serta mengukuhkan

pengetahuan terhadap Imam. Satu contoh, Kulaini

dalam kitab Al-Kâfî, meriwayatkan dari Zurarah, bahwa

/

255

Teladan Abadi

Imam Ja’far Shadiq as berkata,

تِهِ. . لاََ _ فِي ِ a لنَّا ُ _ يَشُكُّ - لَّذِ ْ _ هُوَ _ لْمُنْتَظِرُ َ _ هُوَ _ لِلْقَائِمِ غَيْبَةٌ...َ ? ََّ W

“Sesungguhnya bagi Al-Qaim terjadi kegaiban…

dia adalah orang yang dianti-nantikan, dia

adalah orang yang kelahirannya diragukan.”

Zurarah berkata, “Aku menjadi tebusanmu, jika

aku mendapat kesempatan mengalami masa itu,

apa yang harus aku lakukan?” Imam menjawab,

“Wahai Zurarah, jika kau mendapati masa

tersebut, maka berdoalah dengan doa ini,

َللَّهُمَّ 7 نَبِيَّكَ، i َعْرِ ْ 7 لَمْ تُعَرِّفْنِي نَفْسَكَ لَمْ ? ِ ْ W َللَّهُمَّ عَرِّفْنِي نَفْسَكَ فَإِنَّكَ _

لَمْ ? ِ ْ W حُجَّتَكَ فَإِنَّكَ . َللَّهُمَّ عَرِّفْ ِ _ حُجَّتَكَ، i َعْرِ ْ 7 سُوْلَكَ لَمْ _ َ . عَرِّفْ ِ

يْنِي. . تُعَرِّفْنِي حُجَّتَكَ ضَلَلْتُ عَنْ ِ

“Ya Allah, perkenalkan Diri-Mu padaku, jika Kau

tidak mengenalkan diri-Mu, maka aku tidak

mengenal Rasul-Mu. Ya Allah, perkenalkan

kepadaku Rasul-Mu, Jika Kau tidak mengenalkan

Rasul-Mu kepadaku, maka aku tidak mengenal

hujjah-Mu. Ya Allah, perkenalkan hujjah-Mu

kepadaku, jika Kau tidak memperkenalkan

kepadaku hujjah-Mu, maka aku akan tersesat

dalam agamaku …”26

Dalam hadis ini, mengisyaratkan pada dasar-dasar

keyakinan mengenai keimanan terhadap Imam Zaman

dan pengaruh dari pengenalan tersebut.

2. Di antara kewajiban-kewajiban lainnya yang dikuatkan

oleh hadis-hadis bagi seorang mukmin di masa kegaiban

adalah mengokohkan hubungan batin dengan Imam

Mahdi as, berperan aktif sesuai dengan tujuan-tujuan

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน