Imam Mahdi

Imam Mahdi

Imam Mahdi

mulia beliau dan mempertahankannya serta memiliki

ikatan batin yang dalam dengan kepemimpinan beliau.

Hal-hal seperti inilah yang merupakan kewajiban secara

umum yang dikuatkan dan disebutkan dalam berbagai

hadis. Misalnya, kewajiban seorang mukmin untuk

berdoa untuk beliau demi penjagaan, pertolongan

dan memohon untuk dipercepat kemunculan dan

kehadiran beliau, memohon kehancuran para

musuhnya, bersedekah untuknya, berkesinambungan

dalam berziarah kepada beliau dan lain-lainnya seperti

yang telah disebutkan dalam berbagai hadis. Ayatullah

Sayid Isfahani, mengumpulkan hadis-hadis tersebut

dalam kitab beliau Mikyal al-Makârim fî Fawaid Du’a

lî al-Qaim. Begitu pula disebutkan dalam kitab beliau

Wazha`if al-Anam fî Ghaybat al-Imâm.

3. Menghidupkan perintah ajaran Ahlulbait as,27

yang mencerminkan kepada beliau—semoga Allah

mempercepat kemunculannya—dengan perbuatan

yang dapat membahagiakan beliau seperti berbuat

sesuai dengan ajaran Islam yang suci yang mendorong

dirinya, menyebarluaskan pemikiran-pemikiran mereka,

mengenalkan keteraniayaan yang mereka alami, berwilâyah

kepada mereka dan berlepas diri dari musuhmusuh

mereka; berbuat sesuai dengan pesan-pesan

dan warisan-warisan mereka; mengedepankan upaya

pembelajaran mengenai mereka; menolak untuk

merujuk pada para penguasa atau pemerintah yang

zalim; merujuk kepada para fakih yang adil yang

dijadikan oleh para imam sebagai hujjah mereka bagi

umat manusia di zaman kegaiban dan memohon

perlindungan pada Allah untuk semua hal tersebut

sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah nas:

/

257

Teladan Abadi

جَلَّ _ بِاللهِ عَزَّ َ _ فَاسْتَغِيْثُوْ _ َحَدً 7 لأَئِمَّةَ) _ مِنْهُمْ ( ?َ _ َصْبَحْتُمْ لاَ تَرَ ْ 7 ? ِ ْ W_َ

_ بْغَضُوْ __ َ ? مَا كُنْتُمْ تُحِبُّوْ َ _ َحِبُّوْ __ هَا َ _ تَّبَعُوْ __ لَّتِي كُنْتُمْ عَلَيْهَا َ _ لسُّنَّةَ _ __ نْظُرُْ __َ

. لْفَرَ ُ _ مَا يَأْتِيْكُمْ ~ َسْرَ َ 7 فَمَا ? مَنْ كُنْتُمْ تَبْغَضُوْ َ

“Jika kalian menjumpai masa yang tidak

melihat mereka (para imam) seorang pun, maka

memohonlah perlindungan dari Allah Swt,

perhatikanlah sunnah yang kalian jalani, ikuti

sunnah itu, cintai semampu kalian mencintai

dan bencilah siapa yang kalian benci, maka

penyelamat akan segera menjumpai kalian.”28

4. Memperkuat poros keimanan, saling menasehati dalam

kebenaran Islam yang suci dan saling menasehati

dalam kesabaran. Hal-hal tersebut merupakan

salah satu bentuk kewajiban yang ditekankan untuk

dilakukan pada masa kegaiban mengingat kesulitankesuliatan

yang dihadapi pada masa tersebut dan terus

memohon agar tetap berada dalam ajaran Ahlulbait as.

Disebutkan dalam sebuah riwayat,

َمْرِنَا 7 لِلثَّابِتِيْنَ عَلىَ x ِمَامَهُمْ، فَيَاطُوْ َ W يُغِيْبُ عَنْهُمْ ? مَا ٌ O َ a لنَّا ِ _ يَأْتِي عَلىَ

.? لزَّمَا ُ _ لِكَ S َ .ِ

“Akan tiba suatu masa pada manusia, kegaiban

imam mereka. Berbahagialah orang-orang yang

teguh dalam perkara kami pada masa tersebut…

”29

Inilah bentuk-bentuk nyata dari kewajiban-kewajiban

khusus di masa kegaiban panjang. Khususnya terhadap

sesuatu yang terjadi di masa tersebut atau merupakan

bagian dari tanda-tanda kemunculan beliau seperti

munculnya gerakan pertolongan al-muwatthi’ah—

/

258

Imam Mahdi

orang-orang yang mempersiapkan pemerintahan

kepada Imam Mahdi as—atau menjauhkan diri dari

fitnah Sufyani, atau meningkatnya peringatan ketika

kemunculan seagian tanda-tanda yang menunjukkan

dekatnya kemunculan al- Mahdi dan lain-lainnya.

Setelah penyampaian ringkas ini, kita membicarakan

mengenai kewajiban penantian yang merupakan

kewajiban terpenting dan mencakup amal terhadap

kewajiban-kewajiban sebelumnya. Kita akan

membahasnya pada penjelasan-penjelasan berikut.

Pentingnya Penantian

Hadis-hadis memberikan penekanan yang mendalam

mengenai besarnya pengaruh penantian al-faraj yang dalam

bentuk umum sesuai dengan kemunculan al-Mahdawi

sebagai salah satu bentuk objek yang nyata khususnya

menanti kemunculan Imam. Sebagian riwayat menyifati

penantian sebagai ibadah terbaik seorang mukmin

sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ali as

للهِ. _ فَرَ ِ _ ِنْتِظَاُ _ لْمُؤْمِنِ _ @ِ. َفْضَلُ عِبَاَ 7

“Ibadah seorang mukmin yang paling afdhal

adalah menanti al-faraj Allah.”30

Tak pelak lagi, ibadah seorang mukmin lebih baik

dari ibadah seorang Muslim. Dengan demikian, menanti

kehadiran Imam Mahdi adalah ibadah yang paling afdhal

jika hal ini diniatkan untuk beribadah pada Allah Swt

dan tidak mengharapkan sesuatu dari dunia. Menanti

kemunculan Imam Mahdi merupakan sarana terbaik untuk

mendekatkan diri pada Allah Swt. Hal ini diisyaratkan dalam

sebuah hadis dari Imam Shadiq as berkaitan khusus dengan

penantian al-faraj Imam Mahdi as. Beliau berkata,

/

259

Teladan Abadi

. لْمُطِيْعِيْنَ لَهُ ِ __ فِي غَيْبَتِهِ َ tِ_ َلْمُنْتَظِرِيْنَ لِظُهُوِْ _ طُوْبَى لِشِيْعَةِ قَائِمِنَا،

.? لاَ هُمْ يَحْزَنُوْ َ _ عَلَيْهِمْ َ i لَّذِيْنَ لاَ خَوْ ٌ _ للهِ _ n لِيَاَ _ َْ 7 لَئِكَ _ ُْ 7 ، tِ_ ظُهُوِْ

“Berbahagialah pengikut al-Qaim dari kami,

yaitu orang-orang yang menanti kemunculan

beliau dari kegaibannya dan taat kepadanya di

saat kemunculannya. Mereka adalah para wali

(awliyâ’) Allah yang tidak merasa takut dan

merasa sedih.”31

Oleh karena itu, penantian al-faraj adalah م_ ظ_ ع __

$_ _ فر_ Ù„_“Kelapangan yang paling agung,”32 sebagaimana

disampaikan oleh Imam Sajad bahwa sesungguhnya orangorang

yang menanti termasuk dari golongan wali Allah.

Hadis-hadis mengungkapkan bahwa kebenaran

penantian seorang mukmin terhadap kemunculan

imam zamannya yang dalam kegaiban mencerminkan

keikhlasannya dan kesucian keimanannya dari keraguan.

Imam Muhammad Jawad berkata,

t يَنْكِرُُ _ َ ? لْمُخْلِصُوْ َ _ جَهُ _ َمَدَهَا فَيَنْتَظِرُ خَرُ ْ 7 ` يَطُوْ ُ _ َيَّامَهَا َ 7 لَهُ غَيْبَةٌ يُكْثِرُ

.. ? لْمُرْتَابُوْ َ _

“…Baginya terjadi kegaiban yang memakan waktu

yang lama. Orang-orang yang ikhlas menanti

kemunculannya sementara orang-orang yang

kafir mengingkarinya….”33

Manakala penantian terhadap kemunculan Imam

Zaman mencerminkan keikhlasan dan keimanan pada Allah

Swt, mempercayai hikmah dan penjagaan-Nya terhadap

hamba-hamba-Nya merupakan salah satu tanda berbaik

sangka pada Allah. Karena itu, tidak heran jika hadis

menyifati hal seperti ini dengan mengatakan, عِنْْْدَ ` لْاَعْمَا ِ _ َحَبّْ 7

/

260

Imam Mahdi

للهَِّ_ “Amal yang paling dicintai oleh Allah.”34 Dalam riwayat

lain disebutkan bahwa penantian terhadap kemunculan

Imam Mahdi disebut sebagai ُمَّّّّتِي 7 ` َعْمَا ِ 7 ضَلُ _ __ “paling afdhal

perbuatan umatku.”35 Begitu pula hal tersebut diungkapkan

Rasulullah saw.

Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi as

mengukuhkan keterkaitan manusia dengan Allah Swt dan

hubungannya dengan keimanan aplikatif bahwa Allah

Swt Mahakuasa untuk menjalankan perintah-Nya dan

sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah

Allah yang mengatur urusan para makhluk-Nya dengan

kebijaksanaannya yang penuh kasih sayang terhadap

mereka. Hal ini merupakan salah satu hasil penting yang

mungkin terdapat kemaslahatan manusia di dalamnya

dan membantu manusia menuju proses penyempurnaan.

Proses penyempurnaan merupakan tujuan dari sebagian

besar hukum Islam dan seluruh ibadah. Hal itu juga

menjadi sebuah syarat diterimanya ibadah. Maka itu, ibadah

tidak bernilai jika tidak disandari dengan keimanan dan

ketauhidan yang murni yang dikukuhkan dengan adanya

penantian terhadap kemunculan Imam. Ini merupakan

pengaruh penting dari berbagai pengaruh yang disebutkan

dalam hadis-hadis sebagaimana yang disampaikan Imam

Ja’far Shadiq as. Beliau berkata,

@ُ. ِلاَّ بِهِ...شَهَاَ W عَمَلاً @ِ. لْعِبَاَ _ جَلَّ مِنَ _ للهُ عَزَّ َ _ ُخْبِرُكُمْ بِمَا لاَ يَقْبَلُ 7 َلاَ 7

لْوِلاَيَةُ __ للهُ ِ _ َمَرَ 7 بِمَا _ُ_ ْلإِقْرَ __ سُوْلُهُ َ _َ_ َ t عَبْدُُ _ مُحَمَّدً ? ََّ 7_ للهُ َ _ لاَّ _ لَهَ ِ _ َلاَّ ِ 7

~ُ _ لْوََ _ لتَّسْلِيْمُ لَهُمْ، ,ÙŽ __ ْلأََئِمَّةُ خَاصَةً – ÙŽ _ . ئِنَا – يَعْ ِ _ َعْدَ 7 مِنْ @ُnÙŽ_ لْبَرَ __ لَنَا ÙŽ

لِلْقَائِمِ _ ْلإِنْتِظَاُ __ لطُّمَأْنِيْنَةُ َ __ َ . ْلإِجْتِهَاُ __َ

“Akan aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang

/

261

Teladan Abadi

Allah Swt tidak akan menerima amal ibadah kecuali

dengan sesuatu tersebut…Kesaksian bahwa tidak

ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah

hamba-Nya dan utusan-Nya, mengikrarkan apa

yang diperintahkan oleh Allah serta ber-wilâyah

kepada kami dan berlepas diri dari musuh-musuh

kami—yakni khusus para imam—pasrah kepada

mereka, warak, dan berupaya keras dengan

penuh ketenangan serta menanti kehadiran al-

Qaim…”36

Hadis-hadis juga menjelaskan bahwa seseorang

yang melakukan penantian dengan sesungguhnya dapat

dikategorikan sebagai penanti—dengan berbagai pengaruh

yang telah kami sebutkan sebelumnya—yang mendapatkan

satu kemenangan besar dengan mencapai tingkatan sebagai

sahabat Imam Mahdi seperti yang diisyaratkan Imam Ja’far

Shadiq di akhir hadis yang telah kami sebutkan. Beliau

mengatakan,

لْقَائِمِ فَلْيَنْتَظِرُ. _ { َصْحَا ِ 7 مِنْ ? يَكُوْ َ ? َ ْ 7 t مَنْ سَرَُّ

“Siapa yang kegembiraannya adalah sahabat al-

Qaim maka hendaknya dia menanti.”

Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi

menyebabkan seseorang berhasil mencapai pahala para

sahabat Imam yang berjuang bersama beliau. Hal ini

dengan jelas disampaikan oleh Imam Ja’far Shadiq ketika

beliau menyampaikan,

لْقَائِمِ _ . فِسْطَا ِ . ِ ? لَهُ كَا َ _ ْلأَمْرِ مُنْتَظِرً _ _ مِنْكُمْ عَلىَ هَذَ = مَنْ مَا َ

“Siapa yang meninggal di antara kalian sesuai

dengan perintah ini dan menanti kemunculannya,

dia bagaikan orang yang berada tenda al/

262

Imam Mahdi

Qaim.”37

Begitu pula ia mendapatkan pahala orang yang mati

syahid seperti yang disampaikan oleh Imam Ali as. Beliau

berkata,

لْمُنْتَظِرُ لأَمْرِنَا كَالْمُتَشَخِّطَ __ َ a لْقُدُ ِ _ @ حَظِيْرَِ . ِ _ َلآخِذُ بِأَمْرِنَا مَعَنَا غَدً _

للهِ. _ سَبِيْلِ . بِدَمِهِ ِ

“Orang-orang yang melaksanakan perintah kami,

maka kelak ia bersama kami dalam perlindungan

yang suci dan orang-orang yang menanti shahibul

amr dari kalangan keluarga kami bagaikan orang

yang mengucurkan darahnya di jalan Allah.”38

Bahkan, seseorang yang menanti kehadiran Imam

Zaman berhasil mencapai tingkatan tertinggi di antara para

syuhada dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Imam Shadiq as berkata,

. لْقَائِمِ ِ _ مَعَ ? ْلأَمْرِ كَمَنْ كَا َ _ _ هُوَ مُنْتَظِرٌ لِهَذَ _ مِنْكُمْ َ = مَنْ مَا َ

فِسْطَاطِهِ؛

“Siapa yang meninggal di antara kalian dan dia

menanti shahibul amr, ia bagaikan bersama al-

Qaim di tendanya.”

Perawi berkata, “Kemudian Imam berdiam sejenak

lalu berkata, Ù‡_ ف_ ÙŠ س_ _ Ù‡ ب _ ع_ Ù…_ ,_ _- قا_ Ù„ _ ب _ لا، ‘Tidak, bahkan ia seperti

orang yang berperang bersama beliau dengan pedangnya.’

Kemudian Imam Shadiq as berkata kembali,

للهِ_ ` سُوْ ِ _ سْتَشْهَدَ مَعَ َ _ ِلاَّ كَمَنْ W للهِ __ لاَ َ

‘Tidak, demi Allah, dia bagaikan orang yang mati

syahid bersama Rasulullah saw.’”39

/

263

Teladan Abadi

Hadis-hadis yang membicarakan mengenai pengaruh

yang dihasilkan dari penantian terhadap kemunculan

Imam Zaman sangat banyak. Dari hadis-hadis tersebut,

dapat dipahami bahwa sebagian di antara hadis-hadis itu

menjelaskan pengaruh dalam tingkatan-tingkatan yang

menyingkap tentang perbuatan orang-orang mukmin

menyangkut penantian yang sesungguhnya. Setiap kali

upaya penantian mengalami peningkatan, maka pengaruh

yang dihasilkan pun akan bertambah besar. Secara alamiah

bahwa masalah ini berhubungan dengan realisasi nyata

terhadap hal-hal yang sepatutnya berkenaan dengan

penantian. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui

makna penantian yang sebenarnya.

Hakikat Penantian

Penantian adalah sebuah kondisi psikologis yang

memunculkan persiapan terhadap sesuatu yang dinantikan

dan lawan kata dari hal itu adalah putus asa. Setiap kali

penantian meningkat, maka persiapan semakin banyak.

Tidakkah Anda merasakan jika menanti seseorang yang

akan datang, maka akan bertambah pula persiapan Anda

ketika kedatangan seseorang itu semakin dekat. Bahkan,

mungkin Anda akan mengganti riqad Anda dengan sihad

karena besarnya penantian. Dari sisi ini, setiap kali tingkatan

penantian mengalami perbedaan maka terjadi pula

perbedaan kecintaan terhadap orang yang Anda nantikan.

Manakala kecintaan semakin besar maka bertambah besar

pula persiapan menyambut kedatangan orang yang dicintai.

Perpisahan dengan sang kekasih membuatnya sedih.

Sampai-sampai orang yang menanti melupakan segala

sesuatu yang berhubungan dengan penjagaan dirinya, dia

tidak lagi merasakan apa yang menimpa dirinya dari rasa

/

264

Imam Mahdi

sakit ataupun tekanan yang menyayat.

Seorang mukmin yang menanti pemimpinnya,

manakala penantiannya semakin besar maka semakin besar

pula upaya dirinya untuk mempersiapkan baik dengan

berbuat warak, berupaya sungguh-sungguh, melakukan

pembenahan diri, menghindari akhlak-akhlak yang buruk,

menghiasi dengan akhlak-akhlak yang terpuji sehingga

ia berhasil menjumpai pemimpinnya, menyaksikan

keindahannya di masa kegaibannya. Sebagaimana hal

ini terjadi pada sejumlah besar orang saleh. Oleh karena

itu, para imam maksum memerintahkan para pengikut

mereka, sesuai dengan yang tercantum dalam riwayatriwayat,

untuk melakukan upaya pembenahan diri dan

melaksanakan segala bentuk ketaatan. Dalam sebuah

riwayat yang disampaikan oleh Abu Bashir dari Imam

Ja’far Shadiq as yang mengisyaratkan dan menunjukkan

kemungkinan terjadinya keberhasilan tersebut dan pahala

yang dapat diperoleh. Beliau berkata,

مَحَاسِنِ _ َ ~ِ _ لْيَعْمَلْ بِالْوََ _ لْقَائِمِ فَلْيَنْتَظِرْ َ _ { َصْحَا ِ 7 مِنْ ? يَكُوْ َ ? َ ْ 7 t مَنْ سَرُُّ

ْلأَجْرِ _ لَهُ مِنَ ? كَا َ t لقَْائِمُ بَعْدَُ _ 4 قَاَ _ َ = مَا َ ? هُوَ مُنْتَظِرٌ، فَإِ ْ _ َ . ْلأَخْلاَ ِ _

كَهُ... _َ. َْ7 مِثْلَ مَنْ

“Siapa yang kebahagiaannya adalah menjadi salah

seorang sahabat al-Qaim, maka hendaknya ia

menanti dan beramal dengan warak, berakhlak

yang baik, dan dia dalam kondisi menanti. Jika ia

meninggal dan al-Qaim muncul setelahnya, maka

ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang

berjumpa dengan al-Qaim...”

Tak syak lagi, setiap kali penantian semakin kuat maka

orang yang menanti akan mendapatkan tingkatan dan

/

265

Teladan Abadi

pahala yang lebih besar dari Allah Swt. 40

Dengan demikian, yang dimaksud dengan penantian

adalah mengawasi kemunculan dan penegakan pemerintah

yang kuat bagi al-Mahdi dari keluarga Nabi saw.

Pemerintahan itulah yang kelak memenuhi bumi dengan

keadilan dan kebahagiaan, kejayaan agama di atas agamaagama

lain sebagaimana yang difirmankan Allah kepada

Nabi-Nya dan menjanjikan hal tersebut. Bahkan, para

nabi dan umat-umat terdahulu juga menyampaikan hal

ini sebagai berita gembira bahwa akan datang suatu masa

yang tidak disembah sesuatu apa pun selain Allah, tidak

ada suatu apa pun dari agama yang tersembunyi berada di

balik tirai karena kekhawatiran terhadap seseorang.41

Oleh karena itu, penantian meliputi kondisi hati yang

dimunculkan oleh keyakinan dasar yang kokoh mengenai

keharusan munculnya al-Mahdi yang dijanjikan. Beliaulah

yang merealisasikan tujuan-tujuan para nabi dan risalah

yang mereka sampaikan serta mewujudkan harapanharapan

manusia. Kondisi kejiwaan seperti ini memunculkan

reaksi dalam bentuk sebuah gerakan dan perbuatan yang

berporos pada persiapan dan upaya kelayakan untuk

kemunculan sang juru penyelamat yang dinanti-nantikan.

Tidak salah jika riwayat-riwayat memberi penekanan lebih

mengenai keharusan menguatkan pengenalan yang benar

dan berdasar pada bukti-bukti keyakinan yang berkaitan

dengan Imam Mahdi as, kegaibannya, dan kepastian

kemunculannya.

Melalui penjelasan di atas, jelas bahwa penantian

tidak dianggap benar jika tidak terkumpul tiga unsur yang

berkaitan satu sama lain, yaitu keyakinan, kejiwaan, dan

spiritualitas. Jika tidak memiliki ketiga unsur tersebut,Imam Mahdi

mulia beliau dan mempertahankannya serta memiliki

ikatan batin yang dalam dengan kepemimpinan beliau.

Hal-hal seperti inilah yang merupakan kewajiban secara

umum yang dikuatkan dan disebutkan dalam berbagai

hadis. Misalnya, kewajiban seorang mukmin untuk

berdoa untuk beliau demi penjagaan, pertolongan

dan memohon untuk dipercepat kemunculan dan

kehadiran beliau, memohon kehancuran para

musuhnya, bersedekah untuknya, berkesinambungan

dalam berziarah kepada beliau dan lain-lainnya seperti

yang telah disebutkan dalam berbagai hadis. Ayatullah

Sayid Isfahani, mengumpulkan hadis-hadis tersebut

dalam kitab beliau Mikyal al-Makârim fî Fawaid Du’a

lî al-Qaim. Begitu pula disebutkan dalam kitab beliau

Wazha`if al-Anam fî Ghaybat al-Imâm.

3. Menghidupkan perintah ajaran Ahlulbait as,27

yang mencerminkan kepada beliau—semoga Allah

mempercepat kemunculannya—dengan perbuatan

yang dapat membahagiakan beliau seperti berbuat

sesuai dengan ajaran Islam yang suci yang mendorong

dirinya, menyebarluaskan pemikiran-pemikiran mereka,

mengenalkan keteraniayaan yang mereka alami, berwilâyah

kepada mereka dan berlepas diri dari musuhmusuh

mereka; berbuat sesuai dengan pesan-pesan

dan warisan-warisan mereka; mengedepankan upaya

pembelajaran mengenai mereka; menolak untuk

merujuk pada para penguasa atau pemerintah yang

zalim; merujuk kepada para fakih yang adil yang

dijadikan oleh para imam sebagai hujjah mereka bagi

umat manusia di zaman kegaiban dan memohon

perlindungan pada Allah untuk semua hal tersebut

sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah nas:

/

257

Teladan Abadi

جَلَّ _ بِاللهِ عَزَّ َ _ فَاسْتَغِيْثُوْ _ َحَدً 7 لأَئِمَّةَ) _ مِنْهُمْ ( ?َ _ َصْبَحْتُمْ لاَ تَرَ ْ 7 ? ِ ْ W_َ

_ بْغَضُوْ __ َ ? مَا كُنْتُمْ تُحِبُّوْ َ _ َحِبُّوْ __ هَا َ _ تَّبَعُوْ __ لَّتِي كُنْتُمْ عَلَيْهَا َ _ لسُّنَّةَ _ __ نْظُرُْ __َ

. لْفَرَ ُ _ مَا يَأْتِيْكُمْ ~ َسْرَ َ 7 فَمَا ? مَنْ كُنْتُمْ تَبْغَضُوْ َ

“Jika kalian menjumpai masa yang tidak

melihat mereka (para imam) seorang pun, maka

memohonlah perlindungan dari Allah Swt,

perhatikanlah sunnah yang kalian jalani, ikuti

sunnah itu, cintai semampu kalian mencintai

dan bencilah siapa yang kalian benci, maka

penyelamat akan segera menjumpai kalian.”28

4. Memperkuat poros keimanan, saling menasehati dalam

kebenaran Islam yang suci dan saling menasehati

dalam kesabaran. Hal-hal tersebut merupakan

salah satu bentuk kewajiban yang ditekankan untuk

dilakukan pada masa kegaiban mengingat kesulitankesuliatan

yang dihadapi pada masa tersebut dan terus

memohon agar tetap berada dalam ajaran Ahlulbait as.

Disebutkan dalam sebuah riwayat,

َمْرِنَا 7 لِلثَّابِتِيْنَ عَلىَ x ِمَامَهُمْ، فَيَاطُوْ َ W يُغِيْبُ عَنْهُمْ ? مَا ٌ O َ a لنَّا ِ _ يَأْتِي عَلىَ

.? لزَّمَا ُ _ لِكَ S َ .ِ

“Akan tiba suatu masa pada manusia, kegaiban

imam mereka. Berbahagialah orang-orang yang

teguh dalam perkara kami pada masa tersebut…

”29

Inilah bentuk-bentuk nyata dari kewajiban-kewajiban

khusus di masa kegaiban panjang. Khususnya terhadap

sesuatu yang terjadi di masa tersebut atau merupakan

bagian dari tanda-tanda kemunculan beliau seperti

munculnya gerakan pertolongan al-muwatthi’ah—

/

258

Imam Mahdi

orang-orang yang mempersiapkan pemerintahan

kepada Imam Mahdi as—atau menjauhkan diri dari

fitnah Sufyani, atau meningkatnya peringatan ketika

kemunculan seagian tanda-tanda yang menunjukkan

dekatnya kemunculan al- Mahdi dan lain-lainnya.

Setelah penyampaian ringkas ini, kita membicarakan

mengenai kewajiban penantian yang merupakan

kewajiban terpenting dan mencakup amal terhadap

kewajiban-kewajiban sebelumnya. Kita akan

membahasnya pada penjelasan-penjelasan berikut.

Pentingnya Penantian

Hadis-hadis memberikan penekanan yang mendalam

mengenai besarnya pengaruh penantian al-faraj yang dalam

bentuk umum sesuai dengan kemunculan al-Mahdawi

sebagai salah satu bentuk objek yang nyata khususnya

menanti kemunculan Imam. Sebagian riwayat menyifati

penantian sebagai ibadah terbaik seorang mukmin

sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ali as

للهِ. _ فَرَ ِ _ ِنْتِظَاُ _ لْمُؤْمِنِ _ @ِ. َفْضَلُ عِبَاَ 7

“Ibadah seorang mukmin yang paling afdhal

adalah menanti al-faraj Allah.”30

Tak pelak lagi, ibadah seorang mukmin lebih baik

dari ibadah seorang Muslim. Dengan demikian, menanti

kehadiran Imam Mahdi adalah ibadah yang paling afdhal

jika hal ini diniatkan untuk beribadah pada Allah Swt

dan tidak mengharapkan sesuatu dari dunia. Menanti

kemunculan Imam Mahdi merupakan sarana terbaik untuk

mendekatkan diri pada Allah Swt. Hal ini diisyaratkan dalam

sebuah hadis dari Imam Shadiq as berkaitan khusus dengan

penantian al-faraj Imam Mahdi as. Beliau berkata,

/

259

Teladan Abadi

. لْمُطِيْعِيْنَ لَهُ ِ __ فِي غَيْبَتِهِ َ tِ_ َلْمُنْتَظِرِيْنَ لِظُهُوِْ _ طُوْبَى لِشِيْعَةِ قَائِمِنَا،

.? لاَ هُمْ يَحْزَنُوْ َ _ عَلَيْهِمْ َ i لَّذِيْنَ لاَ خَوْ ٌ _ للهِ _ n لِيَاَ _ َْ 7 لَئِكَ _ ُْ 7 ، tِ_ ظُهُوِْ

“Berbahagialah pengikut al-Qaim dari kami,

yaitu orang-orang yang menanti kemunculan

beliau dari kegaibannya dan taat kepadanya di

saat kemunculannya. Mereka adalah para wali

(awliyâ’) Allah yang tidak merasa takut dan

merasa sedih.”31

Oleh karena itu, penantian al-faraj adalah م_ ظ_ ع __

$_ _ فر_ Ù„_“Kelapangan yang paling agung,”32 sebagaimana

disampaikan oleh Imam Sajad bahwa sesungguhnya orangorang

yang menanti termasuk dari golongan wali Allah.

Hadis-hadis mengungkapkan bahwa kebenaran

penantian seorang mukmin terhadap kemunculan

imam zamannya yang dalam kegaiban mencerminkan

keikhlasannya dan kesucian keimanannya dari keraguan.

Imam Muhammad Jawad berkata,

t يَنْكِرُُ _ َ ? لْمُخْلِصُوْ َ _ جَهُ _ َمَدَهَا فَيَنْتَظِرُ خَرُ ْ 7 ` يَطُوْ ُ _ َيَّامَهَا َ 7 لَهُ غَيْبَةٌ يُكْثِرُ

.. ? لْمُرْتَابُوْ َ _

“…Baginya terjadi kegaiban yang memakan waktu

yang lama. Orang-orang yang ikhlas menanti

kemunculannya sementara orang-orang yang

kafir mengingkarinya….”33

Manakala penantian terhadap kemunculan Imam

Zaman mencerminkan keikhlasan dan keimanan pada Allah

Swt, mempercayai hikmah dan penjagaan-Nya terhadap

hamba-hamba-Nya merupakan salah satu tanda berbaik

sangka pada Allah. Karena itu, tidak heran jika hadis

menyifati hal seperti ini dengan mengatakan, عِنْْْدَ ` لْاَعْمَا ِ _ َحَبّْ 7

/

260

Imam Mahdi

للهَِّ_ “Amal yang paling dicintai oleh Allah.”34 Dalam riwayat

lain disebutkan bahwa penantian terhadap kemunculan

Imam Mahdi disebut sebagai ُمَّّّّتِي 7 ` َعْمَا ِ 7 ضَلُ _ __ “paling afdhal

perbuatan umatku.”35 Begitu pula hal tersebut diungkapkan

Rasulullah saw.

Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi as

mengukuhkan keterkaitan manusia dengan Allah Swt dan

hubungannya dengan keimanan aplikatif bahwa Allah

Swt Mahakuasa untuk menjalankan perintah-Nya dan

sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah

Allah yang mengatur urusan para makhluk-Nya dengan

kebijaksanaannya yang penuh kasih sayang terhadap

mereka. Hal ini merupakan salah satu hasil penting yang

mungkin terdapat kemaslahatan manusia di dalamnya

dan membantu manusia menuju proses penyempurnaan.

Proses penyempurnaan merupakan tujuan dari sebagian

besar hukum Islam dan seluruh ibadah. Hal itu juga

menjadi sebuah syarat diterimanya ibadah. Maka itu, ibadah

tidak bernilai jika tidak disandari dengan keimanan dan

ketauhidan yang murni yang dikukuhkan dengan adanya

penantian terhadap kemunculan Imam. Ini merupakan

pengaruh penting dari berbagai pengaruh yang disebutkan

dalam hadis-hadis sebagaimana yang disampaikan Imam

Ja’far Shadiq as. Beliau berkata,

@ُ. ِلاَّ بِهِ...شَهَاَ W عَمَلاً @ِ. لْعِبَاَ _ جَلَّ مِنَ _ للهُ عَزَّ َ _ ُخْبِرُكُمْ بِمَا لاَ يَقْبَلُ 7 َلاَ 7

لْوِلاَيَةُ __ للهُ ِ _ َمَرَ 7 بِمَا _ُ_ ْلإِقْرَ __ سُوْلُهُ َ _َ_ َ t عَبْدُُ _ مُحَمَّدً ? ََّ 7_ للهُ َ _ لاَّ _ لَهَ ِ _ َلاَّ ِ 7

~ُ _ لْوََ _ لتَّسْلِيْمُ لَهُمْ، ,ÙŽ __ ْلأََئِمَّةُ خَاصَةً – ÙŽ _ . ئِنَا – يَعْ ِ _ َعْدَ 7 مِنْ @ُnÙŽ_ لْبَرَ __ لَنَا ÙŽ

لِلْقَائِمِ _ ْلإِنْتِظَاُ __ لطُّمَأْنِيْنَةُ َ __ َ . ْلإِجْتِهَاُ __َ

“Akan aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang

/

261

Teladan Abadi

Allah Swt tidak akan menerima amal ibadah kecuali

dengan sesuatu tersebut…Kesaksian bahwa tidak

ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah

hamba-Nya dan utusan-Nya, mengikrarkan apa

yang diperintahkan oleh Allah serta ber-wilâyah

kepada kami dan berlepas diri dari musuh-musuh

kami—yakni khusus para imam—pasrah kepada

mereka, warak, dan berupaya keras dengan

penuh ketenangan serta menanti kehadiran al-

Qaim…”36

Hadis-hadis juga menjelaskan bahwa seseorang

yang melakukan penantian dengan sesungguhnya dapat

dikategorikan sebagai penanti—dengan berbagai pengaruh

yang telah kami sebutkan sebelumnya—yang mendapatkan

satu kemenangan besar dengan mencapai tingkatan sebagai

sahabat Imam Mahdi seperti yang diisyaratkan Imam Ja’far

Shadiq di akhir hadis yang telah kami sebutkan. Beliau

mengatakan,

لْقَائِمِ فَلْيَنْتَظِرُ. _ { َصْحَا ِ 7 مِنْ ? يَكُوْ َ ? َ ْ 7 t مَنْ سَرَُّ

“Siapa yang kegembiraannya adalah sahabat al-

Qaim maka hendaknya dia menanti.”

Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi

menyebabkan seseorang berhasil mencapai pahala para

sahabat Imam yang berjuang bersama beliau. Hal ini

dengan jelas disampaikan oleh Imam Ja’far Shadiq ketika

beliau menyampaikan,

لْقَائِمِ _ . فِسْطَا ِ . ِ ? لَهُ كَا َ _ ْلأَمْرِ مُنْتَظِرً _ _ مِنْكُمْ عَلىَ هَذَ = مَنْ مَا َ

“Siapa yang meninggal di antara kalian sesuai

dengan perintah ini dan menanti kemunculannya,

dia bagaikan orang yang berada tenda al/

262

Imam Mahdi

Qaim.”37

Begitu pula ia mendapatkan pahala orang yang mati

syahid seperti yang disampaikan oleh Imam Ali as. Beliau

berkata,

لْمُنْتَظِرُ لأَمْرِنَا كَالْمُتَشَخِّطَ __ َ a لْقُدُ ِ _ @ حَظِيْرَِ . ِ _ َلآخِذُ بِأَمْرِنَا مَعَنَا غَدً _

للهِ. _ سَبِيْلِ . بِدَمِهِ ِ

“Orang-orang yang melaksanakan perintah kami,

maka kelak ia bersama kami dalam perlindungan

yang suci dan orang-orang yang menanti shahibul

amr dari kalangan keluarga kami bagaikan orang

yang mengucurkan darahnya di jalan Allah.”38

Bahkan, seseorang yang menanti kehadiran Imam

Zaman berhasil mencapai tingkatan tertinggi di antara para

syuhada dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Imam Shadiq as berkata,

. لْقَائِمِ ِ _ مَعَ ? ْلأَمْرِ كَمَنْ كَا َ _ _ هُوَ مُنْتَظِرٌ لِهَذَ _ مِنْكُمْ َ = مَنْ مَا َ

فِسْطَاطِهِ؛

“Siapa yang meninggal di antara kalian dan dia

menanti shahibul amr, ia bagaikan bersama al-

Qaim di tendanya.”

Perawi berkata, “Kemudian Imam berdiam sejenak

lalu berkata, Ù‡_ ف_ ÙŠ س_ _ Ù‡ ب _ ع_ Ù…_ ,_ _- قا_ Ù„ _ ب _ لا، ‘Tidak, bahkan ia seperti

orang yang berperang bersama beliau dengan pedangnya.’

Kemudian Imam Shadiq as berkata kembali,

للهِ_ ` سُوْ ِ _ سْتَشْهَدَ مَعَ َ _ ِلاَّ كَمَنْ W للهِ __ لاَ َ

‘Tidak, demi Allah, dia bagaikan orang yang mati

syahid bersama Rasulullah saw.’”39

/

263

Teladan Abadi

Hadis-hadis yang membicarakan mengenai pengaruh

yang dihasilkan dari penantian terhadap kemunculan

Imam Zaman sangat banyak. Dari hadis-hadis tersebut,

dapat dipahami bahwa sebagian di antara hadis-hadis itu

menjelaskan pengaruh dalam tingkatan-tingkatan yang

menyingkap tentang perbuatan orang-orang mukmin

menyangkut penantian yang sesungguhnya. Setiap kali

upaya penantian mengalami peningkatan, maka pengaruh

yang dihasilkan pun akan bertambah besar. Secara alamiah

bahwa masalah ini berhubungan dengan realisasi nyata

terhadap hal-hal yang sepatutnya berkenaan dengan

penantian. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui

makna penantian yang sebenarnya.

Hakikat Penantian

Penantian adalah sebuah kondisi psikologis yang

memunculkan persiapan terhadap sesuatu yang dinantikan

dan lawan kata dari hal itu adalah putus asa. Setiap kali

penantian meningkat, maka persiapan semakin banyak.

Tidakkah Anda merasakan jika menanti seseorang yang

akan datang, maka akan bertambah pula persiapan Anda

ketika kedatangan seseorang itu semakin dekat. Bahkan,

mungkin Anda akan mengganti riqad Anda dengan sihad

karena besarnya penantian. Dari sisi ini, setiap kali tingkatan

penantian mengalami perbedaan maka terjadi pula

perbedaan kecintaan terhadap orang yang Anda nantikan.

Manakala kecintaan semakin besar maka bertambah besar

pula persiapan menyambut kedatangan orang yang dicintai.

Perpisahan dengan sang kekasih membuatnya sedih.

Sampai-sampai orang yang menanti melupakan segala

sesuatu yang berhubungan dengan penjagaan dirinya, dia

tidak lagi merasakan apa yang menimpa dirinya dari rasa

/

264

Imam Mahdi

sakit ataupun tekanan yang menyayat.

Seorang mukmin yang menanti pemimpinnya,

manakala penantiannya semakin besar maka semakin besar

pula upaya dirinya untuk mempersiapkan baik dengan

berbuat warak, berupaya sungguh-sungguh, melakukan

pembenahan diri, menghindari akhlak-akhlak yang buruk,

menghiasi dengan akhlak-akhlak yang terpuji sehingga

ia berhasil menjumpai pemimpinnya, menyaksikan

keindahannya di masa kegaibannya. Sebagaimana hal

ini terjadi pada sejumlah besar orang saleh. Oleh karena

itu, para imam maksum memerintahkan para pengikut

mereka, sesuai dengan yang tercantum dalam riwayatriwayat,

untuk melakukan upaya pembenahan diri dan

melaksanakan segala bentuk ketaatan. Dalam sebuah

riwayat yang disampaikan oleh Abu Bashir dari Imam

Ja’far Shadiq as yang mengisyaratkan dan menunjukkan

kemungkinan terjadinya keberhasilan tersebut dan pahala

yang dapat diperoleh. Beliau berkata,

مَحَاسِنِ _ َ ~ِ _ لْيَعْمَلْ بِالْوََ _ لْقَائِمِ فَلْيَنْتَظِرْ َ _ { َصْحَا ِ 7 مِنْ ? يَكُوْ َ ? َ ْ 7 t مَنْ سَرُُّ

ْلأَجْرِ _ لَهُ مِنَ ? كَا َ t لقَْائِمُ بَعْدَُ _ 4 قَاَ _ َ = مَا َ ? هُوَ مُنْتَظِرٌ، فَإِ ْ _ َ . ْلأَخْلاَ ِ _

كَهُ... _َ. َْ7 مِثْلَ مَنْ

“Siapa yang kebahagiaannya adalah menjadi salah

seorang sahabat al-Qaim, maka hendaknya ia

menanti dan beramal dengan warak, berakhlak

yang baik, dan dia dalam kondisi menanti. Jika ia

meninggal dan al-Qaim muncul setelahnya, maka

ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang

berjumpa dengan al-Qaim...”

Tak syak lagi, setiap kali penantian semakin kuat maka

orang yang menanti akan mendapatkan tingkatan dan

/

265

Teladan Abadi

pahala yang lebih besar dari Allah Swt. 40

Dengan demikian, yang dimaksud dengan penantian

adalah mengawasi kemunculan dan penegakan pemerintah

yang kuat bagi al-Mahdi dari keluarga Nabi saw.

Pemerintahan itulah yang kelak memenuhi bumi dengan

keadilan dan kebahagiaan, kejayaan agama di atas agamaagama

lain sebagaimana yang difirmankan Allah kepada

Nabi-Nya dan menjanjikan hal tersebut. Bahkan, para

nabi dan umat-umat terdahulu juga menyampaikan hal

ini sebagai berita gembira bahwa akan datang suatu masa

yang tidak disembah sesuatu apa pun selain Allah, tidak

ada suatu apa pun dari agama yang tersembunyi berada di

balik tirai karena kekhawatiran terhadap seseorang.41

Oleh karena itu, penantian meliputi kondisi hati yang

dimunculkan oleh keyakinan dasar yang kokoh mengenai

keharusan munculnya al-Mahdi yang dijanjikan. Beliaulah

yang merealisasikan tujuan-tujuan para nabi dan risalah

yang mereka sampaikan serta mewujudkan harapanharapan

manusia. Kondisi kejiwaan seperti ini memunculkan

reaksi dalam bentuk sebuah gerakan dan perbuatan yang

berporos pada persiapan dan upaya kelayakan untuk

kemunculan sang juru penyelamat yang dinanti-nantikan.

Tidak salah jika riwayat-riwayat memberi penekanan lebih

mengenai keharusan menguatkan pengenalan yang benar

dan berdasar pada bukti-bukti keyakinan yang berkaitan

dengan Imam Mahdi as, kegaibannya, dan kepastian

kemunculannya.

Melalui penjelasan di atas, jelas bahwa penantian

tidak dianggap benar jika tidak terkumpul tiga unsur yang

berkaitan satu sama lain, yaitu keyakinan, kejiwaan, dan

spiritualitas. Jika tidak memiliki ketiga unsur tersebut,

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน