Teladan Abadi 4

Teladan Abadi 4

Teladan Abadi

yang berkaitan dengan kegaiban panjang beliau. Imam

juga memaparkan pada para sahabat beliau petunjukpetunjuk

pendidikan dan doa-doa yang dianjurkan dan

berhubungan dengan kegaiban serta mengukuhkan jalinan

hubungan dengan beliau. Dalam pertemuan-pertemuan

itu pula, Imam memberikan penjelasan mengenai sesuatu

yang kelak diwujudkan melalui tangan mulia beliau pada

masa kemunculan.

Dari riwayat-riwayat tersebut juga dapat disimpulkan

bahwa banyak orang mukmin yang berusaha untuk dapat

berjumpa dengan beliau, berupaya maksimal untuk hal itu

terutama pada musim haji. Hal ini dikarenakan riwayat yang

menjelaskan bahwa beliau selalu hadir pada musim haji.53

Sebagian riwayat juga menyebutkan tentang terjadinya

perjumpaan pada musim haji tersebut. Sebagian lainnya

dari orang-orang mukmin berharap untuk dapat berjumpa

melalui empat wakil khusus beliau. Imam mengizinkan hal

itu bagi orang-orang yang ikhlas di antara mereka.

Satu contoh, riwayat yang disampaikan oleh Syekh

Thusi dalam kitab al- Ghaybah beliau berkata, “Muhammad

bin Ya’qub—dimarfukan dari Zuhri—berkata, ‘Aku

menginginkan hal ini (perjumpaan) ingin sekali. Bila

perlu aku keluarkan seluruh hartaku. Aku menjumpai

al-Amri (wakil pertama Imam Mahdi), aku berkhidmat

padanya, mengikutinya, dan memohon padanya untuk

dapat berjumpa dengan Shahib az-Zaman. Dia berkata

kepadaku ‘Aku tidak memiliki wewenang untuk itu.’ Aku

pun merendah, dia berkata, ‘Besok, pagi-pagi sekali.’ Aku

memenuhinya, dan dia menyambutku. Ada seorang pemuda

bersamanya yang memiliki wajah paling elok di antara

manusia, paling harum bagaikan seorang saudagar. Di

lengannya terdapat sesuatu seperti seorang pedagang.

/

214

Imam Mahdi

’’Ketika aku melihatnya, aku mendekat pada al-Amri,

dia pun mempersilahkanku. Aku menuju padanya dan

bertanya padanya. Pemuda itu menjawab segala yang aku

inginkan. Kemudian dia pun berlalu dan hendak memasuki

rumah dari dur yang kami tidak memperhatikannya.

Al-Amri berkata, ‘Jika kamu ingin bertanya, bertanyalah

karena kamu tidak akan melihatnya lagi. Aku bergegas

dan bertanya, namun dia tidak mendengar dan memasuki

rumah. Pemuda itu tidak berbicara banyak kepadaku kecuali

dia mengatakan,

? مَلْعُو ٌ ? , مَلْعُو ٌ 4 لنُّجُوُ _ تَشْتَبِكَ ? َْ _ ِلَى _ n لْعِشَاَ _ َخَّرَ _ مَنْ ? مَلْعُو ٌ ? مَلْعُو ٌ

_َ_ لدَّ _ خَلَ . َ _ َ 4 لنُّجُوُْ _ تَنْقَضِيَ ? َْ _ ِلَى _ @ِ_ لْغَدَ _ َخَّرَ _ مَنْ

“Celaka, celaka, orang yang mengakhirkan shalat

isya sehingga bintang-bintang bertaburan. Celaka,

celaka orang yang mengakhirkan shalat subuh

sehingga bintang-bintang lenyap dan memasuki

rumah.”54

Pernyataan Berakhirnya Masa Kegaiban Pendek

Enam hari sebelum wafatnya wakil khusus keempat

dari Imam Mahdi, ia keluar menjumpai orang-orang mukmin

menyampaikan pernyataan dari Imam Mahdi—semoga Allah

mempercepat kemunculannya—yang menjelaskan tentang

berakhirnya masa kegaiban pendek dan masa wakil-wakil

khusus yang ditentukan Imam as secara langsung. Sekaligus

menyatakan dimulainya masa kegaiban panjang. Adapun

nas tauqi’ beliau adalah sebagai berikut.

َجْرَ 7 للهُ _ َعْظَمَ 7 ، - لسَّمِرِ _ لرَّحِيْمِ، يَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدُ _ لرَّحْمَنِ _ للهِ _ بِسْمِ

لاَ _ َ c َمْرَ َ 7 ، فَأَجْمَعَ 4 َيَّاٍ 7 بَيْنَ سِتَّةِ _ نَكَ فِيْكَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ مَا بَيْنَكَ َ _ ِخْوَ W

/

215

Teladan Abadi

لتَّامَةُ. فَلاَ _ لْغِيْبَةُ _ قَعَتْ _ فَاتِكَ. فَقَدْ َ _ مَقَامَكَ بَعْدَ َ 4 َحَدٍ فَيَقُوُْ 7 u ِ َ _ . تُو َ

لْقَلْبِ _ @ قِسْوََ _ ْلأَمَدِ َ _ ` لِكَ بَعْدَ طُوْ َ Sَ_ َ t كْرُُ S َِ u للهِ تَعَا _ ?ِ S ِلاَّ بِإِْ _ _ ظُهُوَْ

َلاَ فَمَنْ 7 @ لْمُشَاهِدَِ _ سَيَأَتِي لِشِيْعَتِي مَنْ يَدَّعِيَ _ . َ __ جَوًْ oِ _ ْلأَْ _ n مْتِلاَِ W_َ

لاَ _ مُفْتَرٌ َ {ٌ _ لصِّيْحَةَ فَهُوَ كَذَّ __ لسُّفْيَانِي َ _ ِ _ قَبْلَ خُرُ ْ @ لْمُشَاهَدََ _ عَى .َّ_

لْعَظِيْمِ. _ لْعَلِيِّ _ ِلاَّ بِاللهِ _ @ لاَ قُوََّ _ َ ` حَوْ َ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan

Maha penyayang. Wahai Ali bin Muhammad

Samari, semoga Allah membesarkan pahala

saudara-saudaramu mengenai dirimu. Kau akan

menjumpai kematian. Tidak ada waktu antara

dirimu dan Allah kecuali enam hari. Kumpulkan

tugas-tugasmu dan jangan kau wasiatkan

tugasmu pada seorang pun yang menggantikan

posisimu setelah kau wafat. Sungguh kegaiban

yang utuh telah terjadi. Kemunculan tidak

akan terjadi kecuali dengan izin Allah yang

menyebutkannya. Hal itu terjadi setelah masa

berlalu lama, hati-hati mulai mengeras, dan bumi

telah dipenuhi dengan kejahatan. Akan muncul

di antara syi’ah-ku yang mengaku berjumpa

denganku. Ketahuilah, siapa yang mengaku

berjumpa denganku sebelum muncul Sufyani dan

seruan, dia adalah pembohong. Tidak ada daya

dan upaya kecuali Allah Zat Yang Mahatinggi dan

Mahaagung.”55

Pernyataan ini adalah pernyataan terakhir yang

dikeluarkan Imam Mahdi as pada masa kegaiban pendek.

Hal ini merupakan pernyataan bahwa pergerakan beliau

telah terealisasi untuk masa tersebut guna mewujudkan

/

216

Imam Mahdi

tujuan-tujuan yang diharapkan dari masa itu sebagai

tahp persiapan untuk kegaiban panjang. Imam as telah

menampakkan dirinya secara langsung pada manusia

itu, dalam kondisi-kondisi tertentu ataupun melalui para

wakil khusus beliau. Melalui penjelasan-penjelasan yang

menetapkan keberadaan beliau, imamah dan kebenaran

tentang kegaiban panjang yang harus beliau lalui. Penetapan

hal itu telah sempurna pada masa kegaiban pendek, melalui

sejumlah besar para ulama.56 Jelas bagi umat, manfaat

keberadaan beliau bagi manusia selama masa tersebut,

penjagaan beliau dari balik tirai terhadap umat dalam

perjalanan mereka, perintah-perintah beliau untuk merujuk

pada para fukaha mengenai kondisi yang terjadi, dan beliau

pun menjelaskan bahwa keberadaan beliau merupakan

pengaman bagi penghuni bumi.57 Mengingat generasi

yang hidup sezaman dengan para imam telah berakhir

dan muncul generasi-generasi pada masa kegaiban dan

terbentuk pemikiran mengenai kepemimpinan perwakilan,

maka umat telah siap dan layak untuk memasuki tahap

kegaiban panjang.58[]

(Footnotes)

1 Rujuk hadis dari Imam Baqir as beliau berkata, ا_ رن_ غ_ ص __ مر _ لا _ _ ذ_ ه_ ب _ ح_ صا _

صا _ Ø® Ø´_ نا _ مل_ Ø® __ __ سنًّا _ ‘Ia adalah shahibul amr yang paling belia umurnya

namun yang paling tinggi kepribadiannya.” Al-Ghaybah karya

Nu’mani, halaman 184 dan rujuk pula mengenai hal ini penjelasan

dari Syekh Mufid dalam kitabnya Al-Fushûl al-Mukhtarah Minal

‘Uyûn wa al-Mahâsin, hal.256. Begitu pula kitab Bahtsun Haula Al-

Mahdi, Sayid Syahid Muhammad Baqir Shadr yang membicarakan

secara terperinci mengenai fenomena ini dalam kehidupan para

imam.

2 Penjelasan lebih luas mengenai ujian-ujian ini terdapat pada Bihâr

/

217

Teladan Abadi

al-Anwâr, jil.50, hal.99 dan lain-lainnya.

3 Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hal.124.

4 Mir’at al-Asrâr, hal.31.

5 Seperti berbicaranya beliau pada saat kelahirannya ketika berada

dalam buaian Kamaluddin hal. 433, 441 dan lain-lainnya; seperti

pembicaraan beliau mengenai berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu

hikmah sementara usianya masih sangat belia (rujuk Al-Ghaybah,

Syekh Thusi, hal.148 dan lain-lainnya.

6 Jelaslah, shalat pertama ini dihadiri oleh sejumlah sahabat imam

dan keluarganya. Sementara shalat “resmi” dihadiri oleh para pembesar

Bani Abbas, pemuka-pemuka kota, dan masyarakat umum.

Untuk penjelasan yang lebih lengakap mengenai peristiwa ini,

silahkan merujuk pada Bihâr al-Anwâr, jil.50, hal.328.

7 Al Ghaybah, Syekh Thusi, hal.155.

8 Kamaluddin, hal. 475-476.

9 Perincian peristiwa itu dapat dilihat pada kitab Kamaluddin, hal.

43 dan 473.

10 Irsyad, Syekh Mufid, jilid 2 hal. 236 dan 337, diriwayatkan

darinya Bihâr al-Anwâr, jilid 50, hal. 334 dan 231; Manaqib Ali Abi

Thalib, jil.4, hal. 422; Al-Ihtijaj, jil.2, hal.279.

11 Sayid Syahid Muhammad Shadr melakukan kajian dan penelitian

yang mendalam yang sangat berharga dan bersandar pada

sumber-sumber sejarah Islam khusus mengenai kerendahan seperti

ini yang terjadi dalam sejarah Islam. Sangat bermanfaat sekali

untuk mengetahui kajian tersebut yang ia tulis dalam kitab Tarikh

Ghaybat ash-Shughra.

12 Faraid as-Simthain, jil.2, hal.132.

13 Kamaluddin, hal. 413; Kifâyat al-Atsar, hal.66. Hadis-hadis

Nabi seperti ini sangatlah banyak, silakan merujuk pada Mu’jam

al-Ahâdits al-Imam al-Mahdi pada bagian khusus dari hadis-hadis

Nabi Muhammad saw, jil.1,hal.256-67.

14 Kamaluddin, hal.51; Itsbat al-Hudat, jil.3, hal.459.

/

218

Imam Mahdi

15 Kifayat al-Atsar, hal.10.

16 ‘Ilal asy-Syarai, jil.1, hal.243; Bihâr al-Anwâr, jil.52, hal.90.

17 Faraid as-Simthain, jil.2, hal.335; Yanabi’ al-Mawaddah, al-Hafizh

Sulaiman Hanafi, hal.488.

18 Al-Kâfî, Kulaini, jil.1, hal.273.

19 Yanabi’ al-Mawaddah, al-Hafizh Sulaiman Hanafi, hal. 427.

20 Al-Isya’a fi Asyrath as-Sa’ah, hal.13.

21 Kamaluddin, hal.321.

22 Kamaluddin, hal.323.

23 Al-Ghaybah, Nu’mani, hal.172.

24 Al-Ghaybah, Syekh Thusi, hal.102.

25 Kamaluddin, hal.480.

26 Kifayat al-Atsar, hal.265.

27 Kamaluddin, hal.376. ‘Ilam al-Wara, jil.2, hal. 241; Kasyf al-

Ghummah, jil.3, hal.314.

28 Kifayat al-Atsar, hal.277; Bihâr al-Anwâr, jil.52, hal.283; Al-Ihtijaj,

Thabarsi, jil.2, hal.449.

29 Al-Kâfî, jil.1, hal.268.

30 Kamaluddin, hal.380.

31 Kamaluddin, hal.440.

32 Kifayat al-Atsar, hal.292 dan dinukil dari Kamaluddin dalam

I’lam al-Wara, jil.2, hal.253; Wasa’il asy-Syî’ah, jil.16, hal.26, bab

33, hadis ke-23.

33 Kamaluddin, hal.384; Al Kharaij, Quthub Rawandi, jil.3, hal. 174

dan dinukil dari Kamaluddin yang disebutkan dalam I’lam al-Wara,

jil.2, hal.249.

34 Kamaluddin, halaman 19 dari mukadimah penulis.

35 ‘Iddat ar-Rasâil Syekh Mufid, hal. 362 subbab ke-5 dari Fushûl

al-‘Asyrah fî al-Ghaybah.

/

219

Teladan Abadi

36 Kamaluddin, hal.441.

37 Al-Ghaybah, Syekh Thusi, hal.164.

38 Rujuk riwayat-riwayat yang menjelaskan perjumpaan dengan

Imam pada masa kegaiban pendek yang disebutkan dalam kitab

Ghaybah dan sejumlah riwayat yang dikumpulkan oleh Sayid Bahrani

dalam kitab Tabshirat al-Wali.

39 Dalam hal ini silahkan merujuk pada kitab Man’u Tadwin al-Hadits,

Asbâbuhu wa Wanataiju karya Sayid Ali Syahrestani, hal.465-

467 subbab khusus mengenai sejarah pencatatan hadis nabawi

menurut pandangan Ahlulbait as.

40 Ghaybah, Syekh Thusi, hal.215.

41 Tarikh Ghaybat ash-Shughra, hal.609-628.

42 Ghaybah , Syekh Thusi, hal.172-257.

43 ibid., hal.198-199.

44 ibid., hal. 240.

45 Al-Kâfî, jil.1, hal.525.

46 ibid.

47 Contoh-contoh hal tersebut dapat dirujuk pada jilid kedua kitab

Ma’adin al-Hikmah karya Muhammad bin Faidh Kasyani dan kitab

ash-Shahifah al-Mahdiyah karya ayah beliau dan kitab-kitab lain

yang membahas kegaiban.

48 Al-Ghaybah, Syekh Thusi, hal.220.

49 Rujuk contoh tauqi’at beliau yang ditulis oleh Muhammad bin

Abdullah Himyari yang diriwayatkan dalam kitab Al-Ihtijaj, jilid 2,

hal. 483 dan setelahnya.

50 Kamaluddin hal. 242.

51 An-Najm ats-Tsaqib, jil.2, hal. 44-48 dari terjemahan bahasa

Arab.

52 Tabshirat al-Wali, hal.197.

53 Al-Kâfî, jil.1, hal.337-339; Al-Ghaybah, Nu’mani, hal.175.

/

220

Imam Mahdi

54 Al-Ghaybah, Syekh Thusi, hal.164; Al-Ihtijaj; Thabarsi, jil.2, hal.

298; Wasâ’il asy-Syî’ah, jil.3, hal. 147.

55 Kamaluddin, hal.516, Al-Ghaibah, Syekh Thusi, hal.242.

56 Dapat diperhatikan dalam hal ini bahwa kitab al-Kâfî karya Kulaini,

yang termasuk sumber-sumber terpenting peninggalan keluarga

Nabi saw, mengenai akidah dan fikih. Kitab ini selesai dirangkum,

selama masa kegaiban pendek. Syekh Kulaini meninggal pada tahun

329 H, yaitu tahun yang sama dengan meninggalnya Syekh Ali bin

Muhammad Samari, wakil khusus terakhir Imam as. Tahun itu juga

adalah tahun berakhirnya masa kegaiban pendek..

57 Sebagaimana penjelasan beliau dalam pernyataannya yang menjawab

pertanyaan Ishaq bin Ya’qub. Rujuk Kamaluddin, hal.483,

al-Ghaybah, hal.176.

58 Tarikh Ghaybah ash-Sughra, hal.630-654, di dalamnya dijelaskan

mengenai penjelasan penting berkaitan dengan nas pernyataan

Imam Mahdi kepada Samari.

/

221

Teladan Abadi

BAB IV

KEGAIBAN PANJANG IMAM

MAHDI DAN SEBAB-SEBABNYA

Kerangka Umum Pergerakan Imam Mahdi

TUJUAN umum dari pergerakan Imam Mahdi pada tahap

kegaiban panjang adalah menjaga perjalanan umat Islam

dan menciptakan kelayakan umat untuk kemunculannya.

Tujuan lainnya adalah menegakkan kepentingan yang

besar yang tercermin dengan penghentian kezaliman dan

kejahatan serta mendirikan pemerintahan Tuhan yang adil

di seluruh penjuru dunia dan membentuk masyarakat yang

bertauhid secara murni. Semua ini akan kita bahas pada

subbab tertentu menyangkut kehidupan Imam Mahdi as

pascakemunculannya.

Dengan kata lain, kerangka umum perjalanan

kehidupan Imam Mahdi—semoga Allah mempercepat

kemunculannya—pada tahap ini adalah persiapan

kemunculannya melalui segala sesuatu yang mencakup

hal tersebut seperti mengatur dan menjaga keimanan

terhadapnya, memantapkan semangat dan mengukuhkannya

di setiap generasi yang terus berganti selama masa

/

222

Imam Mahdi

kegaiban tersebut. Selain itu, menjaga risalah terakhir

dari penyimpangan sekaligus menegakkan hal-hal yang

memungkinkan untuk diwujudkan dari tanggung jawab

imamah kendatipun hal itu dilakukan dengan metodologi

yang beragam yang hal itu lebih banyak tersembunyi pada

masa kegaiban pendek.

Dengan demikian, pemanfaatan atas eksistensinya

terealisasi persis sebagaimana manusia dapat mengambil

manfaat atas keberadaan matahari manakala tertutupi

awan gelap.

Inilah tujuan umum dari kehidupannya pada masa

kegaiban panjang (kubra) yang akan kita perhatikan secara

jelas mengenai pergerakannya pada masa kegaiban ini.

Sebelum kita memasuki contoh-contoh gerakangerakan

ini, kami akan menyampaikan pandangan

umum yang disampaikan sebagian riwayat mengenai

sebab kegaiban dan rahasia-rahasianya. Karena jelas

bahwa persiapan untuk kemunculan adalah dengan cara

menghapus sebab-sebab yang mengharuskan terjadinya

kegaiban. Karena itu, pengenalan terhadap sebab-sebab

kegaiban akan memberikan pencerahan pergerakan

alamiah Imam Mahdi as selama masa tersebut.

Sebab-Sebab Kegaiban Menurut Riwayat

Sejumlah besar hadis membahas mengenai sebabsebab

terjadinya kegaiban. Pertama, kami akan memberikan

contoh-contoh dari hadis-hadis yang menyebutkan sebabsebab

kegaiban. Perlu dijelaskan di sini bahwa setiap contoh

yang kami sebutkan juga terdapat hadis-hadis lainnya yang

serupa dengan contoh tersebut yang diriwayatkan dengan

sanad yang beragam oleh para perawi hadis.

/

223

Teladan Abadi

1) Sudair meriwayatkan dari ayahnya dari Imam Ja’far

Shadiq as, beliau berkata,

cَ _S لِمَ َ _ للهِ َ _ ` سُوْ ِ _ َمَدَّهَا فَقُلْتُ لَهُ: يَا بْنَ َ 7 ` لِلقَائِمِ مِنَّا غَيْبَةٌ يَطُوْ ُ ? َِّ W

فِي غَيْبَاتِهِمْ، n ْلأَنْبِيَاِ _ يَجْعَلَ فِيْهِ سُنَنُ ? َ ْ 7 ِلاَّ W َبَى 7 جَلَّ _ للهَ عَزَّ َ _ ? : لأَ َّ ` قَا َ

: {لَتَرْكَبُنَّ u للهُ تَعَا _ ` غَيْبَاتِهِمْ، قَا َ @ مُدَِّ n سْتِيْفَاِ _ َنَّهُ لاَ بُدَّ لَهُ يَا سُدَيْر مَنِ 7_َ

قَبْلَكُمْ. ? سُنَنُ مِنْ كَا َ - َ7 طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ}،

“Sesungguhnya al-Qaim dari keluarga kami

akan mengalami kegaiban yang panjang.” Aku

berkata kepada beliau, “Wahai putra Rasulullah

saw, mengapa hal itu terjadi?” Beliau menjawab,

“Karena Allah Swt enggan kecuali menjadikan

peristiwa-peristiwa kegaiban para nabi terdahulu

terjadi padanya. Wahai Aba Sudair, Dia pun pasti

mengakhiri masa kegaibannya. Allah berfirman,

‘Maka dia akan melalui tingkatan demi tingkatan’

yakni sunah-sunah yang berlaku sebelum

kalian.”1

Abdullah bin Fadhl Hasyimi meriwayatkan, dia berkata,

“Aku mendengar Imam Shadiq as berkata,

فِيْهَا كُلَّ مُبْطِلٍ، فَقُلْتُ { ْلأَمْرِ غَيْبَةٌ لاَ بُدَّ مِنْهَا، يَرْتَا ُ _ _ لِصَاحِبِ هَذَ ? َِّ W

لَنَا فِي كَشْفِهِ لَكُمْ قُلْتُ: ?َ S : لأَمْرٍ لَمْ يُؤَْ ` ؟ قَا َ cَ _ لِمَ جُعِلْتُ فِدَ _ لَهُ: َ

لْحِكْمَةِ _ جْهُ _ لْحِكْمَةِ فِي غَيْبَتِهِ َ _ جْهُ _ : َ ` لْحِكْمَةِ فِي غَيْبَتِهِ؟ قَا َ _ جْهُ _ فَمَا َ

لْحِكْمَةِ فِي _ جْهُ _ َ ? َِّ W ، t كْرُُ S ِ u للهِ تَعَا َ _ مِنْ حُجَجِ 4 مَنْ تَقَدََّ = غَيْبَا ِ .ِ

لْحِكْمَةِ فِيْمَا _ جْهُ _ كَمَا لَمْ يَنْكَشِفْ َ tِ_ ِلاَّ بَعْدَ ظُهُوِْ _ لِكَ لاَ يَنْكَشِفُ Sَ

قِهِمَا، _ فْتِرَ _ ِلاَّ بَعْدَ _ لْحِضِرُ _ t َتَاُ 7

غَيْبٌ مِنْ _ للهِ، َ _ سِرٌّ مِنْ سِرِّ _ للهِ َ _ َمْرِ 7 ْلأَمْرَ مِنْ _ _ هَذَ ? َِّ _ لْفَضْلَ _ يَابْنَ

َفْعَالَهُ كُلَّهَا 7 ? جَلَّ حَكِيْمٌ صَدَّقْنَا بِأَ َّ _ للهَ عَزَّ َ _ ? ََّ _ عََلِمْنَا P مَ_ للهِ، َ _ غِيَبِ

جْهُهَا غَيْرَ مُنْكَشِفٍ. _ َ ? كَا َ ? ِْ __ حِكْمَةٌ، َ

/

224

Imam Mahdi

‘Sesungguhnya pada shahibul amr (Imam Mahdi)

akan terjadi kegaiban. Segala bentuk kebatilan

akan muncul pada saat itu.’ Aku berkata pada

Imam, ‘Jiwaku sebagai tebusanmu, mengapa?’

Imam menjawab, ‘Karena satu perkara yang kami

tidak diizinkan untuk menyingkapnya pada kalian.’

Aku berkata, ‘Lalu apa hikmah kegaibannya?’ Imam

menjawab, ‘Hikmah dalam kegaibannya seperti

hikmah kegaiban-kegaiban yang terjadi pada

hujjah-hujjah Allah sebelumnya. Adapun hikmah

tersebut tidak akan tersingkap kecuali setelah

kemunculannya sebagaimana tidak tersingkap

hikmah perbuatan Nabi Khidhir kecuali setelah

mereka berdua (Nabi Khidhir dan Nabi Musa—

penerj.) berpisah. Wahai putra Fadhl, perkara ini

adalah perintah Allah, salah satu rahasia dari

rahasia-rahasia Allah, dan kegaiban dari kegaiban

Allah. Manakala kita mengetahui bahwa Allah Swt

adalah Zat Yang Mahabijaksana, kita meyakini

dan membenarkan bahwa seluruh perbuatan-

Nya dipenuhi dengan hikmah dan kebijaksanaan.

Kendati hikmah itu tidak tersingkap.’”2

2) Zurarah meriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir as,

beliau berkata, “Sesungguhnya akan terjadi kegaiban

bagi al-Qaim sebelum kemunculannya.” Aku bertanya,

“Mengapa?” Beliau menjawab, “Karena takut.” Beliau

mengisyaratkan tangannya ke perutnya. Zurarah

berkata, “Yang dimaksud adalah pembunuhan.” 3

Abdullah bin Atha meriwayatkan dari Abu Ja’far (Imam

Baqir) as. Dia berkata pada Imam, “Sesungguhnya

Syi’ahmu di Irak sangatlah banyak. Demi Allah, tidak

ada di antara Ahlulbaitmu seperti dirimu. Lalu mengapa

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน