171 Teladan Abadi kitab Mir’ât al-Asrâr Syekh Abdurrahman Jami al-Hanafi,

171 Teladan Abadi kitab Mir’ât al-Asrâr Syekh Abdurrahman Jami al-Hanafi,

Teladan Abadi

kitab Mir’ât al-Asrâr Syekh Abdurrahman Jami al-Hanafi,

mengatakan dalam tulisannya, “Usianya ketika ayahnya

wafat adalah lima tahun dan ia menduduki posisi imamah.

Peristiwa ia sama halnya dengan peristiwa yang terjadi

pada Nabi Yahya bin Zakaria as saat Allah Swt memberinya

hikmah dan karamah dan juga sama seperti peristiwa Nabi

Isa as yang menerima tanggung jawab kenabian pada usia

balita. Demikian pula halnya dengan Imam Mahdi, Allah Swt

menjadikannya sebagai imam pada usia yang masih kecil.

Banyak sekali hal-hal yang di luar kebiasaan manusia yang

tidak mungkin dimuat dalam buku yang ringkas ini.”4

Kita dapat perhatikan pula penyandaran yang dilakukan

oleh Syekh Jami al-Hanafi pada peristiwa-peristiwa yang

pernah terjadi pada para nabi sebelum Nabi Muhammad

saw yang menafikan ketidakmungkinan penerimaan

tanggung jawab imamah pada usia belia. Selama itu Imam

selalu bersandar pada Allah Swt baik dalam usia muda atau

dewasa. Telah ditetapkan bahwa Imam Mahdi—semoga

Allah mempercepat kehadirannya—memiliki sandaran Ilahi

seperti ini. Kita dapat menyaksikannya melalui peristiwaperistiwa

yang dinukil dalam kitab-kitab hadis dan kitab

sejarah yang menyebutkan munculnya berbagai karamah

dari Imam yang tidak mungkin muncul dari selain imam.

Sebagian karamah tersebut ia tampakkan pada masa

ayahnya masih hidup dan sebagiannya ia tampakkan pada

masa imamahnya.5

Imam Mahdi Menyalati Ayahnya dan Pemberitahuan

Mengenai Keberadaannya

Kewajiban pertama yang harus diemban oleh Imam

Mahdi as jauh sebelum ia menerima tanggung jawab

imamah adalah menyalati ayahnya, Imam Hasan Askari, di

/

172

Imam Mahdi

rumahnya sebelum membawa jasad ayahnya yang mulia

keluar untuk dishalati secara “resmi” yang ditetapkan

oleh penguasa pada saat itu, yaitu Dinasti Abbasiyah.6

Pelaksanaan shalat yang dilakukan Imam as ini, merupakan

ungkapan penting tentang imamah beliau selain bahaya

yang mengancamnya ketika kabar mengenai shalat ini

tersebar.

Syekh Thusi meriwayatkan dengan sanadnya dari

Ahmad bin Abdullah al- Hasyimi (salah seorang keturunan

Abbas), berkata, “Aku hadir di rumah Abu Muhammad

Hasan bin Ali as secara sembunyi-sembunyi dari orangorang

yang ingin melihat pada hari wafat beliau. Ketika

jasadnya dikeluarkan dan diletakkan, kami berjumlah 39

orang sedang duduk menanti sampai akhirnya muncul

seorang anak kecil yang tidak mengenakan alas kaki,

memakai ridha. Ketika anak kecil tersebut hendak keluar,

kami berdiri karena kewibawaannya tanpa kami sadari.

Anak kecil itu terus maju ke depan dan orang-orang pun

berdiri di belakangnya, kemudian mendirikan shalat. Usai

shalat, dia berjalan memasuki rumah tidak melalui pintu

saat dia keluar.”7

Syekh Shaduq juga meriwayatkan peristiwa tersebut

dengan perincian yang lebih lengkap dari Abul Adyan

Bashri salah seorang kepercayaan Imam Hasan Askari

as. Dia berkata, “Aku adalah pembantu Hasan bin Ali bin

Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib—salam sejahtera bagi

mereka. Aku membawa tulisan-tulisan beliau ke berbagai

kota. Aku menjumpainya di rumahnya pada saat beliau sakit

yang menyebabkannya meninggal dunia. Imam as menulis

sebuah tulisan kepadaku dan berkata,

/

173

Teladan Abadi

ِلَى (سِرِّ _ تَدْخُلُ _ بَعَةَ عَشْرٍ يَوْمًا َ _ َْ_ ئِنِ فَإِنَّكَ سَتَغِيْبُ _ ِلَى مَدَ _ ِمْضِ بِهَا _

نِي _ تَجِدُ _ َ -_ِ_. عِيَةِ فِي َ _ لْوَ _ تَسْمَعُ _ لْخَامِسْ عَشَرْ َ _ 4 ) يَوَْ 6 َ7_ مَنْ َ

لْمُغْتَسِلِ _ عَلَى

“Berangkatlah ke berbagai kota, kau akan

menghilang selama 14 hari. Kemudian kau akan

memasuki (satu rahasia yang banyak dilihat) hari

ke-15. Kau akan mendengar tangisan di rumahku

dan kau akan dapati aku terbaring di tempat

pemandian.”

Abul Adyan berkata, “Aku berkata, ‘Jika demikian, lalu

siapa?’ beliau menjawab,

- لْقَائِمُ مِنْ بَعْدِ _ كُتُبِي فَهُوَ = بَا ِ _ مَنْ طَالَبَكَ بِجَوَ

“Siapa yang memintamu atas jawaban tulisantulisanku,

dia adalah al-Qaim penggantiku.”

“Jelaskan lebih lanjut” pintaku.

Imam menjawab,

- لْقَائِمُ مِنْ بَعْدِ _ فَهُوَ ? لْهِمْيَا ِ _ َخْبَرَ بِمَا فِي _ مَنْ

“Siapa yang memberitakan tentang yang terjadi

di Himyan dialah al-Qaim setelahku.”

“Kewibawaan beliau mencegahku untuk bertanya lebih

lanjut tentang apa yang terjadi di Himyan. Aku berangkat

membawa tulisan-tulisan Imam ke berbagai kota dan

mengambil jawabannya. Aku tiba (satu rahasia yang banyak

dilihat) pada hari ke-15 seperti yang ia ucapkan padaku.

Kemudian aku tersadar di rumah beliau. Beliau sudah

berada di tempat pemandian. Aku bertemu dengan Ja’far

al-Kadzdzab bin Ali, saudara Imam, di depan pintu rumah

dan sejumlah orang-orang Syi’ah berada di sekitarnya

/

174

Imam Mahdi

bertakziah padanya. Mereka mengucapkan selamat padanya.

Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Andaikan dia imam, maka

hancurlah imamah karena aku mengetahuinya. Dia adalah

peminum arak, penjudi, dan pemain tambur.” Kemudian aku

maju ke depan bertakziah dan ikut mengucapkan selamat.

Namun ia tidak menanyakan apa pun padaku. Kemudian

Uqaid keluar dan berkata, “Wahai tuanku saudaramu telah

dikafani, berdirilah dan shalatkan ia.”

Ja’far bin Ali masuk ke dalam bersama sejumlah umat

Syi’ah yang ada di sekitarnya. Yang paling depan adalah

Siman, Hasan bin Ali, sebelum Mu’tasim yang terkenal

dengan Salmah. Ketika berada di dalam rumah dan Imam

Hasan bin Ali berada di atas pembaringannya dengan tubuh

terbalut kain kafan. Saat Ja’far bin Ali hendak menyalati

saudaranya, pada saat takbir, seorang anak kecil keluar

dengan wajah kecoklatan, rambut agak keriting, dan

giginya renggang. Anak itu menarik pakaian Ja’far bin Ali

dan berkata,

َبِيِ _ عَلَى @ َحَقُّ بِالصَّلاَِ _ يَا عَمِّ فَأَنَا = تَأَخَّرْ َ

“Engkau terlambat wahai paman, aku yang lebih

berhak menyalati ayahku.”

Kemudian Ja’far menghentikan shalat, wajahnya kesal

dan pucat. Kemudian anak kecil itu menyalati imam dan

menguburkan beliau di samping kuburan ayahnya. Kemudian,

anak kecil itu berkata, Ùƒ_ لَّتِى مَعَ _ لْكُتُبِ _ = بَا ِ _ جَوَ = هَا ِ - بَصَرِ ___ “Wahai

penglihatanku, bawa kemari jawaban-jawaban tulisantulisan

yang bersamamu.” Kemudian aku menyerahkan

tulisan-tulisan tersebut kepadanya. Aku berkata pada

diriku, “Inilah salah satu bukti di Himyan.” Kemudian aku

keluar menuju Ja’far bin Ali yang sedang duduk. Hajiz

Wasya berkata padanya, “Wahai tuanku, siapakah anak

/

175

Teladan Abadi

kecil ini sehingga kita dapat membuktikannya?” Ja’far

berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya dan

tidak mengenalnya. Saat kita sedang duduk, seseorang dari

Qum datang dan bertanya mengenai Hasan bin Ali. Mereka

mengetahui kematiannya dan berkata, “Kepada siapa kami

bertakziah?” Mereka memberi isyarat kepada Ja’far bin Ali.

Orang-orang itu memberi salam kepadanya dan bertakziah

serta mengucapkan selamat kepadanya. Mereka berkata,

“Kami membawa tulisan-tulisan dan harta dikatakan dari

siapa kitab ini dan berapa jumlah hartanya?” Ja’far berdiri

dengan mengibaskan pakaiannya, “Apakah kalian ingin

kami mengajarkan ilmu gaib?” Perawi berkata, “Pembantu

Imam keluar dan berkata, ‘Kalian membawa kitab fulan dan

fulan dan dua kantung berisi seribu sepuluh dinar dan di

dalamnya juga terdapat perhiasan.’ Mereka menyerahkan

kitab-kitab dan harta kepadanya. Mereka berkata, ‘Demi

kemuliaan semua itu akan diambil oleh Imam.’

Ja’far bin Ali masuk menjumpai Mu’tamid dan

mengungkapkan hal itu. Mu’tamid menjumpai pembantu

tersebut kemudian mencegahnya bersama Shaqail al-

Jariyah agar meminta semuanya dari anak kecil. Akan

tetapi, ia menolaknya. Aku memberitahukan padanya

bahwa di dalam ada tali yang dapat mengikat anak kecil.

Aku diserahkan pada Ibnu Abi Syaurab al-Qadhi. Kematian

Ubaidilah bin Khaqan secara tiba-tiba membuat mereka

geram. Shaibul Zanj keluar menuju Basrah dan mencaricari

al-Jariyah. Aku terbebas dari tangan mereka. Segala

puji bagi Allah Tuhan semesta alam….” 8

Tujuan-tujuan Imam Mahdi Menyalati Ayahnya

Melakukan shalat pada ayahnya bertujuan untuk

merealisasikan dua permasalahan penting. Dua masalah

/

176

Imam Mahdi

tersebut harus dilaksanakan setelah wafatnya imam ke-11

mengingat seluruh mata memperhatikan dan memandang

untuk mengetahui sosok imam ke-12. Setelah itu kita

mengetahui bahwa kelahiran Imam Mahdi as diliputi dengan

kerahasiaan disebabkan kekejaman Bani Abbas dan upaya

pencegahan atas kelahiran sang juru penyelamat. Karena

itu, dengan kondisi khusus seperti ini di mana seluruh mata

memperhatikan dan memandang siapa yang menyalati

Imam yang telah meninggal agar dapat menjadikan hal

itu sebagai petunjuk mengenai siapa imam setelahnya.

Demikian pula kondisi khusus tersebut merupakan sebuah

kesempatan yang baik dengan tujuan memperkenalkan

pada mereka yang hadir—sebagian besar di antara mereka

adalah pembesar-pembesar di kalangan sahabat Imam

Hasan Askari dan para wakil beliau—keberadaan Imam

Mahdi dan sesungguhnya dialah washi yang sebenarnya

bagi ayahnya.

Sesungguhnya dengan pertolongan Ilahi, Allah

menjaganya dari upaya-upaya mencelakakan dirinya dari

Bani Abbas, khususnya khalifah Bani Abbas saat itu, yaitu

Mu’tamid, yang segera mengutus mata-mata ke rumah

Imam Hasan Askari saat dia mendengar kabar kematiannya.

Tentara-tentara Mu’tamid mengobrak-abrik seluruh kamar

guna mencari putra beliau. Mereka juga mengirim para

wanita untuk mengetahui siapa wanita yang hamil di antara

pembantu-pembantu Imam. Semua itu terjadi sebelum

jasad suci beliau dimandikan dan dikafani.9

Maka dari itu, shalatnya beliau (Imam Mahdi) pada

ayahnya adalah sebagai pengumuman pada para hadirin—

jumlah mereka saat itu lebih dari empat puluh orang

seperti dalam riwayat Hasyimi sebelumnya—mengenai

keselamatan Imam Mahdi dari serangan tentara Bani Abbas

/

177

Teladan Abadi

yang keji yang telah berbuat nista dengan mengobrakabrik

rumah duka al-Askari yang sedang berduka karena

musibah ditinggalkan Imam Hasan Askari as. Penyerangan

tersebut membuat sebagian berpikir tidak akan terkena

penyerangan tersebut.

Untuk memperkuat permasalahan ini, kita dapat

perhatikan kemunculan Imam Mahdi as untuk menyalati

ayahnya berdekatan dengan pengumuman keberadaan

beliau dan sekaligus menjelaskan bahwa dirinya adalah

putra Imam Hasan Askari as. Beliau lebih berhak untuk

menyalatinya sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat

Abil Adyan saat Imam Mahdi berbicara dengan paman

beliau, Ja’far dengan ucapan َبِيِ _ عَلَى @ َحَقُّ بِالصَّلاَِ _ يَا عَمِّ فَأَنَا = تَأَخَّرْ ÙŽ

“Engkau terlambat wahai paman, aku lebih berhak untuk

menyalati ayahku.”

Adapun masalah kedua yang harus dilakukan oleh

Imam Mahdi as adalah mencegah pamannya, Ja’far—

yang dijuluki dengan al-Kadzdzab (pembohong)—dari

penguasan kedudukan penting ini agar tidak berpengaruh

terhadap persepsi masyarakat umum yang berusaha

mengajak mereka pada kesesatan dengan menyatakan

dirinya sebagai imam setelah wafatnya saudaranya Hasan

bin Ali al- Askari as. Pentingnya masalah ini akan lebih

tampak ketika memperhatikan upaya penonjolan diri yang

dilakukan Ja’far dengan memberanikan diri di hadapan

penguasa Bani Abbas agar masyarakat percaya bahwa

dirinya adalah khalifah pengganti saudaranya Hasan Askari

dan menduduki posisi imamah.10

Upaya penonjolan diri tersebut telah sampai pada

taraf yang mengkhawatirkan bagi anak saudaranya yaitu

al-Mahdi as. Begitu pula sikapnya dengan cepat-cepat

/

178

Imam Mahdi

memberitakan kepada Mu’tamid al-Abbasi mengenai

kehadirannya dalam shalat dengan tujuan agar dia dapat

memegang imamah sebagaimana hal ini dapat kita saksikan

dalam riwayat sebelumnya. Termasuk juga kerja sama yang

ia lakukan dengan penguasa Abbasi untuk menolongnya

agar bisa mencapai tujuan.

Jelas, upaya-upaya keji seperti ini akan memberikan

pengaruh negatif yang sangat besar dalam penyesatan

manusia dan menjauhkan mereka dari imam yang

sesungguhnya. Terlebih-lebih dengan kerahasiaan yang

terjadi pada kelahiran Imam Mahdi as serta penyembunyian

hal tersebut kecuali terhadap sahabat-sahabat khusus.

Dengan demikian, Imam harus menghadapi kondisi

tersebut dan tidak menolerir pamannya untuk menguasai

kedudukan penting itu mengingat upaya-upayanya untuk

menyesatkan dan sekaligus upaya Imam Mahdi untuk

menyempurnakan hujjah kendatipun harus berhadapan

dengan bahaya dan ancaman yang dapat menghentikan

upaya penegakan agama dan tanggung jawab imam.

Dua Kegaiban Imam Mahdi as

Imam Mahdi as—semoga Allah mempercepat

kemunculannya—mengalami dua masa kegaiban yaitu

kubra (panjang) dan sughra (pendek). Banyak hadis yang

diriwayatkan dari Rasulullah saw yang memberitakan

tentang kedua kegaiban tersebut bersamaan. Begitu

pula hadis-hadis para imam maksum dari keluarga Nabi

Muhammad saw seperti yang akan kita jelaskan mendatang.

Bahkan, sebagian dari nas-nas kitab-kitab langit terdahulu

juga mengisyaratkan hal tersebut. Sebagaimana yang akan

kami tunjukkan kelak.

/

179

Teladan Abadi

Kegaiban pendek dimulai sejak wafatnya ayahandanya,

Imam Hasan Askari pada tahun 260 Hijriah. Imam Mahdi

memegang tanggung jawab imamah hingga wakil keempat

beliau wafat, Syekh Ali bin Muhammad Samari, pada

pertengahan Sya’ban tahun 329 Hijriah selaras dengan

peringatan kelahiran Imam Mahdi as. Dengan demikian, ia

memegang tanggung jawab tersebut kurang lebih selama

70 tahun. Pada masa ini, penutupan tirai pada Imam tidak

terjadi sepenuhnya karena ia masih dapat dihubungi melalui

sejumlah orang-orang Mukmin yang menjadi wakilnya.

Tahap ini juga memiliki kelebihan dengan banyaknya

risalah-risalah (tulisan-tulisan) yang dikeluarkan oleh

Imam mengenai berbagai topik. Tahap ini bagaikan tahap

peralihan antara kehidupan secara langsung yang biasa

terjadi di masa hidup ayahnya dan tahap kegaiban secara

menyeluruh pada masa kegaiban panjang.

Adapun masa kegaiban panjang, dimulai sejak

wafatnya Syekh Ali bin Muhammad Samari ketika Imam

memerintahkannya untuk tidak menunjuk pengganti

dirinya setelah tujuan-tujuan penting yang harus dicapai

pada masa kegaiban pendek terlaksana. Adapun masa

kegaiban panjang berlangsung hingga saat ini dan akan

tetap berlanjut hingga Allah Swt mengiznkan Imam untuk

muncul dan menegakkan tanggung jawabnya menciptakan

kemaslahatan yang mendunia.

Tahap kegaiban panjang adalah tahap berakhirnya

sistem perwakilan khusus dari Imam, dan berkurangnya

risalah-risalah dari Imam dan juga tertutupnya tirai

sepenuhnya kecuali pada kondisi-kondisi yang insya Allah

akan kita bicarakan rincian hal tersebut pada pembahasan

mendatang.

/

180

Imam Mahdi

Sebab-sebab Kegaiban Pendek dan Persiapannya

Sebab-Sebab Kegaiban Pendek

Kegaiban Imam Mahdi—semoga Allah mempercepat

kemunculannya—merupakan pelaksanaan persiapan

untuk kemunculannya. Kegaiban pendek merupakan

hikmah Allah dalam mengatur urusan hamba-hamba-Nya

dengan tujuan agar masyarakat layak untuk mendapatkan

kemaslahatan yang lebih besar yang Allah akan wujudkan

melalui tangannya, merealisasikan keunggulan Islam atas

agama-agama lain, mendirikan sebuah pemerintahan Islam

yang adil di muka bumi ini, membentuk sebuah masyarakat

bertauhid yang murni yang hanya menyembah Allah Swt

tidak menyekutukan-Nya, tidak takut akan tipu daya orangorang

munafik dan orang-orang musyrik seperti yang

dijelaskan dalam nas-nas syariat Islam yang insya Allah kita

akan bahas pada bagian tertentu dalam buku ini mengenai

kehidupan beliau pascakemunculannya.

Peyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam

tubuh Islam telah menjauhkannya dari peran penting

yang diinginkan oleh Allah Swt yaitu menjadi umat terbaik

yang pernah dimunculkan oleh Allah. Penyimpanganpenyimpangan

tersebut begitu mengakar dalam kehidupan

sosial, moral, dan perekonomian masyarakat sehingga tidak

memungkinkan baginya untuk memberi petunjuk pada

masyarakat menuju keadilan Islam yang tidak dimiliki oleh

umat Islam sendiri. Begitu pula sejumlah besar pelindung

ajaran-ajaran Tuhan kehilangan hal tersebut sehingga realitarealita

tersebut tersembunyi dalam kehidupan mereka.

Penyimpangan-penyimpangan politik—merupakan

salah satu bentuk penyimpangan lainnya—telah meliputi

kalangan umat Islam dan menebarkan kerusakan dan

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน