menyebarkan hadis-hadis seperti ini dan mencegah beredarnya buku-buku yang memuat hadis tersebut. Hal ini sangatlah jelas terutama bagi mereka yang mau merujuk pada sejarah Islam.[] (Footnotes)

menyebarkan hadis-hadis seperti ini dan mencegah beredarnya buku-buku yang memuat hadis tersebut. Hal ini sangatlah jelas terutama bagi mereka yang mau merujuk pada sejarah Islam.[] (Footnotes)



menyebarkan hadis-hadis seperti ini dan mencegah

beredarnya buku-buku yang memuat hadis tersebut. Hal ini

sangatlah jelas terutama bagi mereka yang mau merujuk

pada sejarah Islam.[]

(Footnotes)

1 Shawâiq al-Muhriqah, hal.150. cetakan Mesir, Ibnu Hajar menerangkan

tentang kemutawatiran hadis ini.

2 Sunan Turmudzi, jil.5, hal.621-622 tentang “Manaqib Ahlulbait

Nabi” bab ke-32.

3 Ahl al-bayt fî al-Maktabat al-‘Arabiyah, Sayid Abdul Aziz

Thabathaba’i, hal. 277-279.

4 Dar at-Taqrib Islami. Mesir mengeluarkan sebuah risalah lengkap

yang ditulis oleh salah seorang anggota tersebut mengenai hadis

ini dan menjelaskan pandangan tentang sanad-sanad hadis ini di

berbagai kitab-kitab hadis terpercaya di kalangan Ahlusunnah.

5 Shawâiq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar, hal. 148; Ahl al-bayt fî

al-Maktabat al-‘Arabiyah, hal.279.

6 Shahih Bukhari, jil.1, hal.37, jil.4, hal.31, jil.4, hal.65-66, jil.5,

hal.137, jil.7, hal.9, jil.8, hal.161 cetakan Darul Fikr yang diulang

dari cetakan Istanbul. Pada seluruh riwayat tersebut disebutkan kata

لن تضلُّو بعد “Tidak akan sesat selamanya setelahku” yang merupakan

kandungan yang ingin beliau tuliskan.

7 Rujuk Talkhis wa Tarib karya Sayid Ali Milani pada bagian khusus

mengenai jalur hadis Tsaqalain dari ensiklopedia ‘Abaqât al-Anwâr.

Talkhis (ringkasan) ini telah dicetak dua kali. Cetakan pertama

dalam dua jilid dan cetakan kedua dalam tiga jilid.

8 Shahih Muslim, jil.4, hadis ke-1873.

9 Sunan Turmudzi, jil.5, hal.662.

10 Al- Mustadrak ‘alâ ash-Shahihayn, jil.3, hal.109.

11 Shawâ’iq al-Muhriqah, hal.150 pada subbab pertama mengenai

/

142

Imam Mahdi

ayat yang berkenaan dengan mereka.

12 Rujuk Risalah Tsaqalain yang dikeluarkan Darut Taqrib Islamiyah

di Mesir hal.18 dan rujuk pula perdebatan Sayid Muhammad Taqi

al-Hakim mengenai pengakuan riwayat ini dan kandungan Hadis

Tsaqalain dalam masalah Sunnah pada kitab beliau al-Ushûl al-

‘Ammah li al-Fiqh al-Muqarin.

13 Shawâ’iq al-Muhriqah, hal.150.

14 Rujuk seperti kitab Hadits Tsaqalain, Tawaturuhu, Fiqhuhu karya

Sayid Ali Milani.

15 Mishbâh al- Munir karya Fayyumi, hal.391 kata itrah.

16 Shahih Muslim, jil.2, hal.362.

17 Musnad Ahmad in Hanbal, jil.3, hal.259.

18 Rujuk Shahih Muslim, jil.17, hal.130 yang juga diriwayatkan oleh

al-Hakim dalam Mustadrak-nya dan mensahihkan hadis tersebut

sesuai syarat kesahihan menurut Bukhari pada jilid 3, hal.146, dan

Ad- Durr al-Mantsur karya Suyuthi jil.5, hal.198.

19 Rujuk pembahasan Qurani yang disampaikan Allamah Thabatabai

dalam Tafsir al-Mîzân mengenai ayat tersebut dan makna yang

ditunjukkan oleh ayat tersebut.

20 Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hal.151.

21 Rujuk perihal-perihal mereka—salam sejahtera bagi mereka—

yang dimuat oleh para ulama rijal dari Ahlusunnah. Bahkan banyak

ulama Ahlusunnah yang menulis kitab-kitab khusus mengenai

duabelas imam dari keluarga Nabi Muhammad saw, seperti Ibnu

Thulun dan lain-lainnya.

22 Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hal.151.

23 Rujuk kitab beliau Muntakhab al-Atsâr fî al-Imâm Tsani ‘Asyar

24 Nas ini dapat dirujuk dan dikenali sumber-sumbernya dalam kitab

Muntakhab al-Atsar dan Mu’jam Ahâdits al-Imâm al-Mahdi, jil.2,

hal.255-265. Begitu pula kitab Ahâdits al-Mahdi dalam Musnad

Ahmad bin Hanbal.

25 Mengenai makna yang ditunjukkan pada hadis al-Ghadir, kemuTeladan

Abadi

/

143

tawatirannya, dan jalur-jalurnya pembaca dapat merujuk Mausu’at

al-Ghadir karya Allamah Amini dan juz khusus dalam kitab ‘Abâqat

al-Anwar serta kitab-kitab lainnya.

26 Silahkan merujuk pada Mu’jam al-Ahâdits al-Imâm al-Mahdi,

jil.1, hal.16-38.

27 Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil.1, hal.398; al-Mu’jam al-Kabir karya

Thabrani, jil.10, hal.195; Mustadrak al-Hakim, jil.4, hal.501.

28 Fath al-Bari fî Syarhi Shahih Bukhari karya Ibnu Hajar Asqalani,

jilid 3, hal.184 Bab “Al-Istikhlaf (Kepemimpinan)”.

29 Silahkan merujuk pada kitab Al-Imâm ash-Shâdiq wa Madzâhib

Arba’ah karya Syekh Asad Haidar, dan sejarah yang ditulis mengenai

mereka dalam Tarikh Dimisyq karya Ibnu Asakir, dan dalam Tarikh

al-Baghdad karya Khatib Baghdadi, ash-Shawâ’iq al-Muhriqah

karya Ibnu Hajar, dan kitab Siyâr al- A’lam an-Nubala karya Dzahabi,

Wafâyat al-A’yan karya Ibnu Khalqan dan lain-lainnya serta

seluruh terjemahan dari mereka seluruhnya dari berbagai golongan

Islam.

30 Siyâr al-A’lam an-Nubala, jil.13, hal.120. Rujuk pula apa yang

dikumpulkan oleh Syekh Thabarsi dalam kitab al-Ihtijaj kita akan

dapati contoh-contoh bagaimana mereka mempertahankan agama

Islam dari serangan-serangan pemikiran yang masuk ke dalam

Islam.

31 Hadis-hadis tersebut terkumpul dalam sebuah kumpulan hadis

besar seperti Bihâr al-Anwâr karya Allamah Majlisi, Wasâ’il asy-

Syî’ah karya Hurr Amili.

32 Seperti adanya at-tauqi’at (ketetapan-ketetapan) yang dikeluarkan

beliau yang merupakan risalah yang beliau kirim pada orang

Mukmin dan merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan

mereka berkaitan dengan agama. Ketetapan-ketetapan tersebut

dimuat dalam kitab Al-Ghaybah dan juga dapat kita jumpai dalam

kitab Kalimât al-Imam al-Mahdi dan ash-Shahifah al-Mahdawiyah

dan kitab-kitab lainnya.

33 Rujuk apa yang dinukil oleh Syekh Abdul Muhsin al-‘Ibad pada

pembahasan beliau mengenai ‘Aqidatu Ahl as-Sunnah wal atsar fî

al-Mahdi al-Muntazhar yang dicetak dalam majalah al-Jâmi’at al/

144

Imam Mahdi

Islâmiyyah, No.3, Th. I, Dzulqaidah, 1388 H.

34 Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm, jil.2, hal.34 mengenai penafsiran ayat

ke-12 dari Surah al-Maidah.

35 Rujuk naskah yang dicetak untuk memberi fatwa dalam Dunia

Islam, al-Majmâ` al-Fiqhi menyebarkan dari kitab Ahâdits al-Mahdi

dari Musnad Ahmad ibn Hanbal, hal.162-166.

36 Rujuk kitab Ahadisul Mahdi Mim Musnad Ahmad ibn Hanbal yang

dikumpulkan oleh Sayid Muhammad Jawad al-Jalali, hal. 68-76.

37 Shahih Bukhari, jil.4, hal.252.

38 Tarikh al-Bukhari, jil.4, hal.12, hadis ke-1797; Shahih Muslim,

jil.3, hal.1523, hadis ke-1920; Sunan Abu Dawud, jil.4, hal.97, hadis

ke-4202; Ibn Majah, jil.1, hal.5, bab I, hadis ke-10; Turmudzi, jil.4,

hal. 504, hadis ke-2229; Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya,

jil.2, hal.321.

39 Shahih Bukhari, jil.9, hal.167; Shahih Muslim, jil.3, hal.1524,

hadis ke-1037; Musnad Ahmad, jil.4, hal.101; Ibn Majah, jilid 1,

hal.5, bab I, hadis ke-7.

40 Shahih Muslim, hal.1524, hadis ke-1922; Musnad Ahmad, jil.5,

hal.92, hadis ke-94; Mustadrak al-Hakim, jil.4, hal.449.

41 Shahih Muslim, jil.3, hal.1524-1525, bab 53, hadis ke-1924.

42 Musnad Ahmad, jil.4, hal.434;l Sunan Abu Dawud, jil.3, hal.4,

hadis ke-2484; Mustadrak al- Hakim, jil.2, hal.71.

43 Tarikh al-Bukhari, jil.5, hal. 451, hadis ke-1468; Musnad Ahmad,

jil.4, hal.429.

44 Mu’jam Ahâdits al-Imâm al-Mahdi, jil.1, hal.51-67, setiap hadis

disebutkan sumber-sumbernya dari berbagai riwayat yang dapat

dipercaya di kalangan Ahlusunnah. Sebagian kami pilih dari matannya

dan sebagian lainnya kami ambil dari catatan-catatan.

45 Pendapat ini adalah pendapat yang terlemah dan paling jauh

dari makna hadis. Kendatipun demikian, pendapat ini dipilih oleh

Ibnu Baz dalam catatannya mengenai ceramah Syekh Abdul Muhsin

Ibad mengenai al-Mahdi yang dijanjikan. Silahkan merujuk pada

majalah Al-Jâmi’ah al-Islamiyah, No.3, Tahun pertama, Dzulqaidah

Teladan Abadi

/

145

1388 H.

46 Ini sebagian pendapat. Silahkan merujuk pada Adhwa` ‘alâ Sunnah

Muhammadiyah karya Syekh Mahmud Abu Rayyah hal.212,

dan rujuk pula diskusi tentang pendapat ini yang disebutkan oleh

Syekh Luthfullah Shafi dalam kitab beliau Muntakhab al-Atsar

dalam catatan kakinya, Dalâil ash-Shidq, Syekh Muhammad Hasan

Muzhaffar, jil.2, hal.315 dan setelahnya sebagaimana yang dipaparkan

oleh Hakim Shadruddin Syirazi dalam syarah Ushûl al-Kâfî,

hal.463-470 yang dicetak menggunakan tahun hijriah.

47 Shahih Bukhari jil.1, hal.78; Shahih Muslim, jil.3, hal.1452;

Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil.2 hal. 29, jil.2 hal. 93, dengan jalur

yang berbeda.

48 Tarikh al-Bukhari jil.6 hal.445; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil.3

hal.466, Shahih Ibnu Habban, jil.7 hal.49; Musnad At-Thayalisi,

hadis ke-1259, no. 1913;Musnad Abi Syaibah, jil.15 hal.38; Mu’jam

al-Kabir, Thabrani, jil.10, hal.350; Mu’jam az-Zawaid, jil.2 hal.252,

dari Abi Ya’la dan Bizar serta Thabrani.

49 Shahih Ibn Habban, jil.7 hal.49.

50 Tafsir al-Kabir, jil.10, hal.144, dan rujuk pula pembahasan secara

terperinci yang dipaparkan oleh Allamah Thabathabai ketika

menafsirkan ayat ini dan makna yang diinginkannya dalam Tafsir

al-Mîzân jil.4, hal.387-401.

51 Di sini dapat diperhatikan bahwa seluruh pakar sejarah dari

berbagai mazhab Islam yang cenderung pada dua belas imam dari

Ahlulbait as menyebutkan tanggal wafat imam ke-11 sementara

mengenai Imam Mahdi bin Hasan Askari mereka hanya menyebutkan

tanggal kelahirannya saja. Hal ini dibenarkan bahkan oleh

orang-orang yang tidak meyakini bahwa beliau adalah Imam Mahdi

yang dijanjikan dalam hadis-hadis yang sahih.

52 Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar Asqalani,

jil.6, hal.385.

/

146

Imam Mahdi

Teladan Abadi

/

147

BAB II

KEBANGKITAN IMAM MUHAMMAD

B I N H A S A N A L - M A H D I A S

Sejarah Kelahiran

IMAM Mahdi afs dilahirkan di kediaman ayah beliau,

Imam Hasan Askari, di Samara pada akhir malam Jumat

tanggal 15 Sya`ban. Malam tersebut termasuk dari malammalam

yang penuh keberkahan yang dianjurkan untuk

menghidupkannya dengan beribadah dan dianjurkan pula

untuk berpuasa pada siang harinya. Anjuran tersebut

berdasarkan hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitabkitab

hadis yang sahih seperti Sunan Ibn Majah, Sunan

Turmudzi, dan lainnya dari kitab-kitab Ahlusunnah.1

Terlebih-lebih hadis-hadis yang diriwayatkan dari jalur para

imam Ahlulbait as.2

Beliau lahir pada tahun 255 Hijriah menurut riwayat

yang masyhur. Sebagian riwayat lainnya menyebutkan

bahwa tahun kelahiran beliau adalah 256 Hijriah atau 254

Hijriah. Namun, mereka sepakat tentang hari kelahiran

beliau. Di antara riwayat-riwaya tersebut, riwayat yang

menyebutkan tahun kelahiran yang pertama (255 H) lebih

/

148

Imam Mahdi

kuat berdasarkan beberapa bukti, di antaranya berita

mengenai hal tersebut dimuat dalam sumber-sumber yang

lebih lama seperti kitab Al-Ghaybah karya seorang ulama

terpercaya dan terkemuka, Syekh Ibnu Syadzan, yang hidup

pada masa kelahiran Imam Mahdi as dan wafat tidak berapa

lama sebelum wafatnya Imam Hasan al Askari.3 Bukti lain

yang menguatkan pendapat pertama bahwa sebagian besar

riwayat yang menyebutkan hari kelahiran beliau adalah

hari Jumat pada pertengahan bulan Sya`ban meskipun

berbeda tahun kelahirannya. Setelah kami merujuk pada

penyesuaian penanggalan4 kami mendapatkan bahwa

pertengahan bulan Sya`ban yang jatuh pada hari Jumat

terjadi pada tahun 255 Hijriah bukan pada tahun-tahun

lainnya yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.

Perbedaan seperti ini adalah hal yang biasa dan

sering terjadi pada tanggal-tanggal kelahiran dan wafat

ayah-ayah beliau. Bahkan, hal ini juga terjadi pada kakek

beliau, Rasulullah saw. Namun, hal itu tidak berpengaruh

pada ketetapan kelahiran mereka. Sebagaimana pula hal ini

adalah hal yang alami untuk mencapai satu tujuan, yaitu

menyembunyikan kelahiran beliau untuk menjaga bayi yang

baru lahir yang insya Allah hal ini akan kami jelaskan pada

pembahasan mendatang.

Kemutawatiran Kabar Kelahiran Al-Mahdi

Kisah kelahiran atau kabar mengenai hal itu cukup

banyak diriwayatkan ulama-ulama dengan sanad yang

sahih seperti Abu Ja’far Thabari, Fadhl bin Syadzan, dan

lain-lain. Mereka menukilnya seluruhnya atau ringkasannya.

Sebagian ulama Ahlusunnah dari berbagai mazhab

Islam juga menukil riwayat tersebut, seperti Nuruddin

Abdurrahman Jami al-Hanafi dalam kitab Syawâhid anTeladan

Abadi

/

149

Nubuwwah, Allamah Muhammad Mubin Maulawi al-Hindi

dalam Wasilat an-Najah, Allamah Muhammad Khajeh Barisa

al-Bukhari dalam kitab Fash al-Khithab, al-Hafizh Qanduzi

al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah.

Kabar mengenai kelahiran Imam Mahdi dinukil lebih

dari seratus tiga puluh ulama dari berbagai mazhab. Di

antara mereka, terdapat puluhan ahli sejarah, enam orang

di antaranya hidup pada masa kegaiban singkat (ghaybat

ash-shughra) atau masa kelahiran Imam Mahdi. Adapun

selebihnya hidup di berbagai masa hingga saat ini dalam

sebuah rangkaian yang bersambung. Penghitungan ini

mencakup sebagian dari sumber-sumber Islam dan tidak

seluruhnya. Di antara mereka terdapat sejumlah besar

ulama dan ahli sejarah yang terkenal, seperti Ibnu Khalkan,

Ibnu Atsir, Abil Fida, Dzahabi, Ibnu Thulun ad-Damisyqi,

Ibnu Jauzi, Muhyiddin Ibnu Arabi, Khawarizmi, Baihaqi,

Shafadi, Ya’fi, Qirmani, Ibnu Hajar, Haitsami, dan lain-lain.

Penetapan dan penukilan semacam ini tidak pernah terjadi

pada kelahiran sebagian besar dari tokoh-tokoh sejarah

Islam.5

Situasi dan Kondisi Kelahiran

Dari berbagai riwayat yang mengisahkan kondisi

kelahiran Imam Mahdi as, dapat disimpulkan bahwa ayah

beliau, Imam Hasan Askari, berusaha menyembunyikan dan

menutup-nutupi kabar tersebut. Hal ini disebutkan bahwa

Imam Hasan Askari meminta bibi beliau, Sayidah Hakimah

binti Imam Jawad, untuk tetap tinggal di rumah beliau pada

malam ke-15 dari bulan Sya`ban. Beliau memberitahukan

bibinya bahwa akan lahir putra beliau di rumah tersebut

yang akan menjadi hujjah Allah di muka bumi ini. Bibi beliau

bertanya pada Imam mengenai ibu dari bayi tersebut. Imam

/

150

Imam Mahdi

memberitahukan bahwa ibu bayi tersebut adalah Nargis.

Seketika bibi beliau menjumpai istri Imam dan

memeriksanya. Namun, ia tidak menemukan tanda-tanda

kehamilan. Ia kembali pada Imam dan memberitahukan

hal tersebut. Imam tersenyum dan menjelaskan pada

bibinya bahwa kehamilan istrinya bagaikan kehamilan yang

dialami ibu Nabi Musa as yang tidak menunjukkan tandatanda

kehamilan. Tidak seorang pun tahu hal itu sampai

tiba waktu melahirkan. Karena Firaun selalu mengintai

putra-putra yang baru lahir di kalangan Bani Israil dan

merasa takut akan kemunculan Musa as yang dijadikan

sebagai berita gembira. Firaun membunuh anak-anak Bani

Israil dan mempermalukan wanita-wanita mereka. Hal ini

juga terjadi pada Imam Mahdi as. Karena penguasa zalim

Dinasti Abbasiyah merasa terancam dengan kelahiran Imam

Mahdi. Hal ini disebabkan mereka mengetahui sejumlah

riwayat yang mulia yang memberitahukan kelahiran dan

kemunculan sang juru penyelamat yang insya Allah kami

sampaikan pada pembahasan mendatang.

Beberapa nas riwayat menerangkan bahwa kelahiran

Imam Mahdi as terjadi pada saat menjelang fajar.

Jelaslah, pada waktu seperti ini sangat mendukung upaya

penyembunyian kelahiran beliau karena biasanya pada

waktu tersebut mata-mata penguasa zalim terlelap tidur.

Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah riwayat

bahwa kelahiran beliau tidak disaksikan oleh siapa pun

kecuali bibi Imam Hasan Askari, Hakimah. Beliau pun tidak

mengetahui persis kapan kelahiran tersebut terjadi.6

Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Syekh

Thusi dalam kitab beliau Al-Ghaybah yang menjelaskan

bahwa ada seorang wanita tua tetangga Imam Hasan yang

Teladan Abadi

/

151

membantu Hakimah dalam persalinan tersebut. Tetangga

itu dipesankan dengan sangat untuk merahasiakan kejadian

ini dan diperingatkan untuk tidak menyebarkannya.7

Kabar-Kabar Sebelumnya Mengenai Kelahiran yang

Dirahasiakan

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa kelahiran

al-Mahdi putra Imam Hasan Askari as akan terjadi

dengan tersembunyi dan penuh kerahasiaan. Kerahasiaan

tersebut dinisbatkan pada Allah Swt dan sebagian riwayat

menggambarkan kerahasiaan tersebut dengan kerahasiaan

yang terjadi pada kelahiran Nabi Musa as, sebagian lainnya

menyerupakan dengan kelahiran Nabi Ibrahim as. Riwayatriwayat

tersebut juga menjelaskan alasan kerahasiaan itu

adalah untuk menjaga al-Mahdi sehingga beliau mampu

melaksanakan misinya. Kami akan membawakan sebagian

contoh kecil dari riwayat-riwayat tersebut.

Seperti riwayat yang disampaikan oleh Syekh Shaduq

dalam kitab Kamaluddin dan dalam kitab Kifâyat al-Atsar

karya Khazaz yang disandarkan pada Imam Hasan bin Ali

as dalam sebuah hadisnya beliau berkata,

مََّا عَلِمْتُْ م نََّهُ مَا مِن ا لِاَّ تََقَعُ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ لِطَّاغِيَةِ مََانِهِ ، لِاَّ لْقَائِمُ

لَّذِ يُصَلِّيَ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ خَلْفَهُ؟ للهَ عَزَّ جََلَّ يُخْفيَ لِاَ تََهُ

يَُغِيِّبُ شَخْصَهَ لِئَلاَّ يَكُوْ لأَحَدٍ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ خَرَ ،َ لََِ ك لتَّاسِعُ

مِنْ لََِ د خَِيَ لْحُسَيْنِ بْنِ سَيَِّد لنِّسَا يُطِيُْ ل للهُ عُمْرَ فِي غَيْبَتِهِ ثُمَّ

يَظْهَرُ بِقُدْ تَِهِ...

“Tidakkah kalian mengetahui bahwa tidak seorang

pun dari kami hidup kecuali leher kami diancam

untuk berbaiat pada penguasa zamannya kecuali

/

152

Imam Mahdi

al-Qaim (al-Mahdi) yang Isa putra Maryam

shalat di belakangnya? Sesungguhnya Allah Swt

menyembunyikan kelahirannya dan menggaibkan

dirinya agar tidak ada ancaman berbaiat pada

lehernya saat muncul. Dia adalah keturunan yang

ke-9 dari saudaraku Husain putra pemimpin para

wanita. Allah memanjangkan umurnya pada masa

kegaibannya. Kemudian Allah memunculkannya

dengan kekuasaannya...”8

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Syekh Shaduq

dari dua jalur dari Imam Ali as beliau berkata,

لْقَائِمَ مِنَّا قاَ لَمْ يَكُنْ لأَحَدٍ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، فَلِذَلِكَ تَخْفىَ لِاَ تََهُ

يَُغِيْبُ شَخْصَهُ

“…Sesungguhnya al-Qaim dari keluarga kami.

Jika dia muncul tidak ada ancaman pada lehernya

untuk berbaiat pada seorang pun. Oleh karena

itu, kelahirannya dirahasiakan dan dirinya

digaibkan.”9

Diriwayatkan dari Imam Husain as, beliau berkata,

ف يِ لتَّاسِعِ مِنْ لََدِ سُنَّةٌ مِنْ يُوْسُفَ سَُنَّةٌ مِنْ مَوْسَى بْنِ عِمَْر هَُوَ

قَائِمُن ا هَُْ Ù„ لْبَيْتِ يُصْلُِ Ø­ لله مَْرَ فِي لَيْلَةٍ حِدَ “Terjadi pada putra (generasi) kesembilan dari

keturunanku, peristiwa Nabi Yusuf, peristiwa

Nabi Musa bin Imran, ia adalah al-Qaim dari

Ahlulbait. Allah mengatur urusannya dalam satu

malam saja.”10

Dalam kitab Al-Kâfî, Kulaini meriwayatkan dengan

sanadnya dari Imam Muhammad Baqir as dalam sebuah

hadisnya, beliau berkata,

Teladan Abadi

/

153

نُْظُرُ مَنْ خَفِيَ (عَمِيَ) عَل ى لن اَّ لِاَ تََهُ فَ ذَ صَاحِبُكُمْ، نَِّهُ لَيْسَ

مِن ا حََدٌ يُشَا لَِيْهِ بِاْلأَصَابِعِ يََمْضَعُ بِاْلأَلْسُنِ لِاَّ مَا غَيْضً ا غَْمَ

نَْفِهِ

“Perhatikanlah, seseorang yang kelahirannya

disembunyikan dari pandangan mata manusia!

Dialah pemimpin kalian. Sesungguhnya tidak

seorang pun dari kami yang ditunjuk dengan

jari dan disebut dengan lidah kecuali meninggal

dengan kondisi diracun atau dibunuh.”11

Riwayat seperti di atas sangatlah banyak dan sebagian

besar diriwayatkan dengan sanad yang sahih yang

memberitakan dengan jelas—sebelum kelahiran Imam

Mahdi as—kelahiran beliau yang tersembunyi. Seluruhnya

menunjukkan kebenarannya dengan jelas kendati pada

sebagian sanad dari sebagian riwayat terdapat sanad

yang dhaif atau majhul (tidak dikenal) karena hal itu

menyangkut sesuatu yang belum terjadi kemudian muncul

kenyataan yang membenarkan berita yang disampaikan.

Berita seperti ini tidak mungkin bersumber kecuali dari Zat

Yang Mahagaib, perkara yang dibenarkan sumbernya dari

sumber-sumber wahyu dan pemberitahuan dari Rasulullah

saw.

Kelahiran yang Dirahasiakan Merupakan

Tanda Imam Mahdi yang Dijanjikan

Dapat diperhatikan bahwa hadis-hadis yang mulia

menjelaskan sesungguhnya kelahiran yang dirahasiakan

merupakan salah satu tanda yang tampak jelas membedakan

sosok al-Mahdi yang dijanjikan yang merupakan putra

dari Fathimah yang diberitakan dalam hadis-hadis

/

154

Imam Mahdi

nabawiyah. Hal ini merupakan salah satu tujuan penting

untuk menjelaskan hal tersebut, yaitu mengenalkan pada

umat Islam salah satu tanda yang akan menyingkap

ketidakbenaran para pengklaim kemahdian sebagaimana

banyak kita saksikan dalam sejarah Islam. Sementara tidak

satu pun dari hadis-hadis tersebut yang dapat diterapkan

pada para pengklaim tersebut karena tidak adanya tanda

ini pada mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka para

pengklaim kemahdian yang kelahirannya dirahasiakan

sebagaimana yang ditetapkan dalam sejarah.12

Hadis-hadis sebelumnya mengisyaratkan alasan

dirahasiakannya kelahiran al- Mahdi. Alasan itu pula yang

mengharuskan dirahasiakannya kelahiran Nabi Musa as,

yaitu menjaga bayi yang baru lahir dari penguasa yang zalim

dan para pembantunya yang berusaha membunuh sang

bayi. Pada gilirannya, upaya itu merupakan usaha menjaga

kesempurnaan hujjah Allah Swt pada hamba-hamba-Nya

agar dapat memainkan perannya sebagai utusan Tuhan

guna mengangkat Bani Israil, memeluk agama ketauhidan

dan menghadapi pemerintahan Firaun yang zalim. Hal ini

dilakukan terhadap Nabi Musa as. Begitu pula terhadap

al-Mahdi al-Muntazhar—semoga Allah mempercepat

kemunculan beliau—untuk mengangkat manusia secara

keseluruhan, menghentikan segala bentuk kezaliman

dan kejahatan, menegakkan keadilan, dan meninggikan

Islam di atas agama-agama yang lain. Hal yang demikian

juga diketahui oleh para pemimpin zalim melalui nasnas

yang menyebutkan hal tersebut. Firaun sebagai raja

Mesir mengetahui adanya berita gembira mengenai

kemunculan seseorang sebagai penyelamat Bani Israil dan

dia adalah Musa as yang termasuk golongan Bani Israil.

Karena itu, Firaun berusaha membunuh putra-putra Bani

Teladan Abadi

/

155

Israil dengan tujuan mencegah kemunculannya. Kondisi

yang demikian juga dialami oleh Bani Abbas dan mereka

mengetahui bahwa al-Mahdi yang dijanjikan adalah putra

dari Fathimah—salam sejahtera untuknya—dan ia adalah

Imam Keduabelas dari rangkaian para imam Ahlulbait as.

Hadis-hadis yang menerangkan perihal tersebut sudah

tersebar di kalangan Muslimin dan dimuat oleh ulamaulama

hadis sebelum kelahiran al-Mahdi dalam berbagai

catatan. Sebagaimana mereka (Bani Abbas) mengetahui

bahwa Imam Hasan Askari adalah imam ke-11 dari para

imam keluarga suci Nabi saw, secara alamiah mereka

berusaha mencegah kelahiran al-Mahdi yang dijanjikan

dengan memutus garis keturunan dari ayahnya, Imam

Hasan Askari.

Adalah hal yang jelas dengan hanya memungkinkan

kebenaran hadis-hadis ini cukup mendorong mereka untuk

mencegahnya. Lalu bagaimana dalam kondisi yang mereka

mengetahui dengan pasti hal tersebut, khususnya bahwa

tidak ada di antara Muslimin yang dapat diterapkan pada

mereka sifat-sifat yang disebutkan dalam hadis seperti yang

diterapkan pada mereka, dua belas imam, sebagaimana

telah kami paparkan secara terperinci sebelumnya?

Berdasarkan kenyataan ini, kita dapat memahami

rahasia di balik pendeknya usia yang dimiliki oleh ketiga

imam sebelum Imam Mahdi as yang dijelaskan dalam

sejarah. Ayahanda beliau, Imam Hasan Askari syahid

dalam usia 28 tahun,13 kakek beliau, Imam Ali Hadi syahid

pada usia 40 tahun14, dan Imam Muhammad Jawad

syahid pada usia 25 tahun.15 Inilah kenyataan yang patut

dipelajari. Salah satu dari kenyataan tersebut cukup untuk

menyingkap upaya keji yang dilakukan Bani Abbas dengan

ความคิดเห็น

แสดงความคิดเห็น

*ช่องที่มีเครื่องหมายดอกจันต้องมีค่าอย่างแน่นอน